KOMUNIKASI VISUAL DAN VISUAL LITERACY

BAB I PENDAHULUAN

Sudah diketahui bersama bahwa komunikasi dapat terjadi dimanapun dan kapanpun. Komunikasi mampu menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Artinya, hampir seluruh kegiatan manusia, dimanapun adanya selalu tersentuh komunikasi. Bidang-bidang seperti, manajemen, administrasi, hukum, matematika, biologi, bahkan pendidikan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan komunikasi dalam pengembangannya. Secara umum fungsi komunikasi ialah informatif, edukatif, persuasif, dan rekreatif (entertainment). Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi memberi keterangan, memberi data atau fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia, disamping itu komunikasi juga berfungsi untuk mendidik masyarakat, mendidik setiap orang dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri. Secara persuasif maksudnya adalah bahwa komunikasi sanggup ‘membujuk’ orang untuk berperilaku sesuai dengan kehendak yang diinginkan oleh komunikator. Sedangkan yang terakhir adalah fungsi hiburan. Ia dapat menghibur orang pada saat yang memungkinkan, contohnya membaca bacaan ringan, mononton televisi atau surfing internet. Untuk mencapai fungsi-fungsi komunikasi di atas diperlukan beberapa bentuk media yang dapat berupa media visual, audio, dan audio-visual. Masing-masing media tersebut memiliki ciri khas dan bentuk tersendiri. Dalam kehidupan yang semakin kompleks, pengaruh media sangat besar dalam proses komunikasi antar manusia. Sehingga diperlukan kemampuan dalam membuat atau memahami bentuk media-media tersebut agar pesan dapat tersampaikan dengan efektif dan efisien. Apabila merujuk pada dasar pemikiran pendahuluan di atas, maka dalam makalah ini kami hanya akan membahas tentang komunikasi visual dan visual literasi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikai Visual dan Visual Literasi

Dalam mengkomunikasikan ide atau gagasan-gagasannya orang menggunakan teknik-teknik komunikasi yang bisa dikelompokkan ke dalam dua jenis. Yang pertama teknik verbal seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian besar orang, yang kedua ialah teknik visual. Memang komunikasi verbal bukanlah merupakan satu-satunya bentuk komunikasi yang dapat diandalkan dalam proses komunikasi. Komunikasi visual justru mempunyai keuntungan sendiri dalam hal ini. Suatu objek yang jauh letaknya dari tempat kita berada dan kita tidak mungkin menjangkaunya secara langsung, dapat “diindera” melalui visualisasi obyek tersebut, misalnya direkam atau digambarkan dalam bentuk film atau video. Seperti peristiwa meletusnya gunung merapi di Jogyakarta. Dengan demikian, biayapun sangat murah dan mudah dibandingkan dengan melihat secara langsung. Bentuk komunikasi visual dapat menarik dibandingkan dengan hanya cara verbal. Dengan demikian sasaran lebih dapat berkonsentrasi kepada obyek yang disajikan. Beberapa hasil variasi keefektifan penjelasan secara verbal dan visual yang pernah diteliti oleh Dawyer, bisa dilihat perbandingannya sebagai tampak dalam tabel berikut. Metode Intruksional Kemampuan mengingat setelah 3 jam Kemampuan mengingat setelah 3 hari Verbal saja 70 % 10 % Visual saja 72 % 20 % Paduan Verbal dan Visual 85 % 65 % Dari tabel di atas terlihat bahwa pada orang lebih tahan mengingat hal-hal yang bersifat visual dibandingkan dengan verbal. Namun demikian apabila dipadukan antara visual dan verbal orang akan lebih tahan lama dalam mengingat apabila hanya dengan verbal atau visual saja. Agar proses komunikasi dalam bentuk visual tersampaikan secara tepat dan benar, maka seseorang memerlukan kemampuan dalam memahami bentuk komunikasi tersebut. Kemampuan ini disebut sebagai Visual Literacy. Secara khusus istilah literasi bisa didefinisikan sebagai kemampuan teknis dalam men-decode atau memproduksi lambang-lambang tulisan, hasil cetakan, atau tulisan dalam kalimat dan kata-kata dalam bentuk lambang tulisan. Dalam perkembangan selanjutnya literasi dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi secara tertulis, bukan bahasa dan komunikasi lisan. Sekarang konsep komunikasi juga digunakan secara lebih variasi dalam konteks memahami perkembangan teknologi, seperti komputer, digital, grafik, matematik, dan belakangan informasi. Literasi bukan sebuah karakteristik manusia sejak lahir, namun lebih merupakan sebuah kemampuan yang bisa dipelajari, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah Apabila didefinisikan dalam pembelajaran, maka Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan: 1. Input strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara mempraktekkan kemampuan analisis visual. 2. Output strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

B. Media-media Visual

Media-media visual pada dasarnya terbagi menjadi tiga, yaitu: 1. Media Realia, yaitu benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman mahkluk hidup, ekosistem dan tanaman. 2. Model, yaitu benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, peredaran darah dan syaraf pada hewan. 3. Media grafis, yaitu tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah untuk menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Berdasarkan pembagian media di atas, maka bentuk media visual termasuk ke dalam media yang berupa grafis. Jenis-jenis media visual adalah: 1) Gambar atau photo: paling umum digunakan 2) Sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan. 3) Diagram/skema: gambar sederhana yang menggambarkan garis atau simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel sampai organisme. 4) Bagan/chart: menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal

C. Peran Komunikasi Visual dalam Pembelajaran

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual bersifat iconic. Oleh karena itu, setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain, peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi tertulis dan informasi lisan (verbal information).

D. Aspek-aspek Visual Literasi

1. Decoding Decoding ialah proses interpretasi visual. Dengan melihat sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di lingkungan sekitar. a. Developmental Effects Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk anak-anak (sampai usia 12 tahun). b. Cultural Effects Dalam mengajar, harus disadari bahwa kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah atas. c. Visual Preferences Dalam memilih tampilan visual, guru sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks. Kebanyakan pebelajar lebih menyukai tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna. Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto daripada line drawings (sekalipun dalam beberapa situasi, line drawings lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran. Perbedaan latar belakang mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya, setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual. 2. Encoding Encoding ialah mencipatakan visual. Kemampuan pebelajar untuk menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang efektif untuk mengerti tentang media. E. Tujuan Sebuah Desain Visual dalam Komunikasi Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu: a) Ensure Legibility Sebuah tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan pembelajaran. b) Reduce Effort Seorang desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk menangkap isi pesan tampilan visual tersebut. c) Increase Active Engagement Sebuah pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan tentang pesan yang sedang disampaikan. d) Focus Attention Setelah mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang telah dibuat. F. Proses Desain Visual 1. Elements Langkah pertama dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan. a) Visual Elements Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan sekalipun dalam gambar tiga dimensi. (2) Analogic visuals menggambarkan sebuah konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan. (3) Organizational visuals meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi. b) Verbal Elements Huruf adalah bagian terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf. 1) Letter Style Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan harmonis dengan elemen lain yang ada dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau Sanserif. 2) Number of Lettering Style Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu dengan yang lain. 3) Capitals Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada saat-saat tertentu saja. 4) Color of Lettering Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah tayangan visual. 5) Size of Lettering • 6) Spacing Between Letters Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf. 7) Spacing Between Lines Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh, tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu. Sebuah tampilan visual akan menjadi berarti apabila dapat menarik perhatian viewer yaitu dengan memperhatikan: a) Surprise Hal mendasar yang dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll. b) Texture Kebanyakan tampilan visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material. c) Interaction Viewer dapat diminta untuk memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi materi yang ada dalam tayangan tersebut. 2. Pattern a) Alignment 1) Penataan baris rata kiri • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik • Dianjurkan untuk naskah yang panjang • Terkesan dinamis tetapi kurang rapi 2) Penataan baris rata kanan • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang • Terkesan dinamis 3) Penataan baris rata kiri-kanan • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah panjang 4) Penataan baris terpusat di tengah • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang b) Shape Cara selanjutnya untuk membuat elemen visual dan elemen verbal adalah dengan cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas sebuah tampilan. c) Balance Ukuran nada, berat dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal dan informal. 1) Keseimbangan formal Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat tidak imajinatif. Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar kupu-kupu tercermin kembali. 2) Keseimbangan informal Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana, tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis. Gambar kupu-kupu di samping asimteris. Kedua sisi memiliki kekuatan visual yang hampir sama tetapi gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali. d) Style Style ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa. e) Color Scheme Warna merupakan unsur visual yang penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna dapat berperan sebagai berikut: 1) Memberikan kesan realistik 2) Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang satu dengan yang lain 3) Membangkitkan perhatian 4) Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan 5) Meningkatkan tampilan astistik Berikut ini adalah saran kombinasi warna untuk background dan foreground (Color in Instructional Communication): Background Foreground Images & Text Highlights White Light grey Blue Light blue Light yellow Dark blue Blue, green, black Light yellow, white Dark blue, dark green Violet, brown Red, orange Red Yellow, red Red-orange Red f) Color Appeal Warna-warna seperti biru, hijau dan ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan. 3. Arrangement A. Proximity Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen. Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan mudah menangkap makna sebuah tayangan. B. Directionals Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan inilah yang disebut dengan directionals. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian. Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila dikombinasikan dengan warna-warna gelap. C. Figure-Ground Contrast Figure-ground contrast adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran, kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground contrast adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya, figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang. D. Consistency Dalam proses pembuatan sebuah rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer. G. Visual Planning Tools 1. Storyboard Storyboarding adalah sebuah metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian visual. 2. Types of Letters Pemilihan jenis tulisan yang akan digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang ingin disampaikan oleh desainer.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Komunikasi visual adalah salah satu bentuk komunikasi yang memiliki nilai efisiensi dan efektifitas dalam proses pembelajaran. Disamping dapat memudahkan viewer (pebelajar) untuk menangkap dan menyimpan informasi lebih baik, bentuk komunikasi visual juga dapat menyajikan informasi dengan lebih menarik ketimbang hanya disampaikan secara verbal. Sehingga mampu menimbulkan feedback yang lebih baik. Dalam memahami pesan/informasi yang disampaikan melalui bentuk komunikasi verbal, pemelajar harus memahami kondisi pebelajar. Kemampuan dalam memahami komunikasi melalui visual (visual literacy) dapat meliputi aspek budaya, perkembangan mental dan efektifitas media yang digunakan.

Daftar Pustaka

M., Yusuf, Pawit, Komunikasi Intruksional; Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara), 2010. Ariani, niken dan Dany, Haryanto, Pembelajaran Multi Media di Sekolah, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya), 2010. Barton, will, dan Beck, Andrew, Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi, (Yogyakarta: Jalasutera), 2010 http://unesa.info/tep/media/isi.php?autor=anya, Di akses tanggal 7 Desember 2010 http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, Diakses tanggal 8 Desember 2010 http://teddykw.wordpress.com/2010/12/08/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing./ di akses tanggal 08 Desember 2010

TEORI KELAHIRAN PEMIMPIN

Para ahli teori kepemimpinan telah mengemukakan beberapa teori tentang timbulnya Seorang Pemimpin. Dalam hal ini terdapat 3 [tiga] teori yang menonjol [Sunindhia dan Ninik Widiyanti, 1988:18], yaitu:

  1. Teori Genetik

Penganut teori ini berpendapat bahwa, “pemimpin itu dilahirkan dan bukan dibentuk”  [Leaders are born and not made]. Pandangan terori ini bahwa, seseorang akan menjadi pemimpin karena “keturunan” atau ia telah dilahirkan dengan “membawa bakat” kepemimpinan. Teori keturunan ini,  dapat saja terjadi, karena  seseorang dilahirkan telah “memiliki potensi” termasuk “memiliki potensi atau bakat” untuk memimpin dan inilah yang disebut dengan faktor “dasar”. Dalam realitas,  teori keturunan ini biasanya dapat terjadi di kalangan bangsawan atau keturunan raja-raja, karena orang tuanya menjadi raja maka seorang anak yang lahir dalam keturunan tersebut akan diangkan menjadi raja.

2. Teori Sosial

Penganut teori ini berpendapat bahwa,  seseorang yang menjadi pemimpin dibentuk dan bukan dilahirkan [Leaders are made and not born].  Penganut teori berkeyakinan bahwa semua orang itu sama dan mempunyai potensi untuk menjadi pemimpin. Tiap orang mempunyai potensi atau bakat untuk menjadi pemimpin, hanya saja paktor lingkungan atau faktor pendukung yang mengakibatkan potensi tersebut teraktualkan atau tersalurkan dengan baik dan inilah yang disebut dengan faktor “ajar” atau “latihan”.

Pandangan penganut teori ini bahwa, setiap orang dapat dididik, diajar, dan dlatih untuk menjadi pemimpin.  Intinya, bahwa setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pemimpin, meskipun dia bukan merupakan atau berasal dari keturunan dari seorang pemimpin atau seorang raja, asalkan dapat dididik, diajar dan dilatih untuk menjadi pemimpin.

3. Teori Ekologik

Penganut teori ini berpendapat bahwa,  seseorang akan menjadi pemimpin yang baik “manakala dilahirkan” telah memiliki bakat kepemimpinan. Kemudian bakat tersebut dikembangkan melalui  pendidikan, latihan, dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan untuk mengembangkan lebih lanjut bakat-bakat yang telah dimiliki.

Jadi, inti dari teori ini yaitu seseorang yang akan menjadi pemimpin merupakan perpaduan antara faktor keturunan, bakat dan lungkungan yaitu faktor pendidikan, latihan dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkan bakat tersebut  dapat teraktualisasikan dengan baik.

Selain ketiga teori tersebut, muncul pula teori keempat yaitu Teori Kontigensi atau Teori Tiga Dimensi.  Penganut teori ini berpendapat bahwa,   ada tiga faktor yang turut berperan dalam proses perkembangan seseorang menjadi pemimpin atau tidak, yaitu: [1] Bakat kepemimpinan yang dimilikinya. [2] Pengalaman pendidikan, latihan kepemimpinan yang pernah diperolehnya, dan [3] Kegiatan sendiri untuk mengembangkan bakat kepemimpinan tersebut.

Teori ini disebut dengan teori serba kemungkinan dan bukan sesuatu yang pasti, artinya seseorang dapat menjadi pemimpin jika memiliki bakat, lingkungan yang membentuknya, kesempatan dan kepribadian, motivasi dan minat yang memungkinkan untuk menjadi pemimpin.

Menurut Ordway Tead, bahwa timbulnya seorang pemimpin, karana : [1] Membentuk diri sendiri [self constituded leader, self mademan, born leader] [2] Dipilih oleh golongan, artinya ia menjadi pemimpin karena jasa-jasanya, karena kecakapannya, keberaniannya dan sebagainya terhadap organisasi. [3] Ditunjuk dari atas, artinya ia menjadi pemimpin karena dipercaya dan disetujui oleh pihak atasannya [Imam Mujiono, 2002: 18].

 TIPE KEPEMIMPINAN

Tipe kepemimpinan akan identik dengan gaya kepemimpinan seseorang. Tipe kepemimpinan yang secara luas dikenal dan diakui keberadaannya adalah

1. Tipe Otokratik

Seorang pemimpin yang tergolong otokratik memiliki serangkaian karakteristik yang biasanya dipandang sebagai karakteristik yang negatif. Seorang pemimpin otokratik adalah seorang yang egois. Egoismenya akan memutarbalikkan fakta yang sebenarnya sesuai dengan apa yang secara subjektif diinterpretasikannya sebagai kenyataan. Dengan egoismenya, pemimpin otokratik melihat peranannya sebagai sumber segala sesuatu dalam kehidupan organisasional. Egonya yang besar menumbuhkan dan mengembangkan persepsinya bahwa tujuan organisasi identik dengan tujuan pribadinya. Dengan persepsi yang demikian, seorang pemimpin otokratik cenderung menganut nilai organisasional yang berkisar pada pembenaran segala cara yang ditempuh untuk pencapaian tujuannya. Berdasarkan nilai tersebut, seorang pemimpin otokratik akan menunjukkan sikap yang menonjolkan keakuannya dalam bentuk

§ Kecenderungan memperlakukan bawahan sama dengan alat lain dalam organisasi

§ Pengutamaan orientasi terhadap pelaksanaan dan penyelesaian tugas

§ Pengabaian peranan bawahan dalam proses pengambilan keputusan

Sikap pemimpin demikian akan menampakkan diri pada perilakunya dalam berinteraksi dengan bawahannya, misalnya tidak mau menerima saran dan pandangan bawahannya, menonjolkan kekuasaan formal.

Dengan persepsi, nilai, sikap, dan perilaku demikian, seorang pemimpin yang otokratik dalam praktek akan menggunakan gaya kepemimpinan

 * Menuntut ketaatan penuh bawahannya
* Menegakkan disiplin dengan kaku
* Memberikan perintah atau instruksi dengan keras
* Menggunakan pendekatan punitip dalam hal bawahan melakukan penyimpangan.

2. Tipe Paternalistik

Tipe pemimpin ini umumnya terdapat pada masyarakat tradisional. Popularitas pemimpin yang paternalistik mungkin disebabkan oleh beberapa faktor antara lain

* Kuatnya ikatan primordial
* Extended family system
* Kehidupan masyarakat yang komunalistik
* Peranan adat istiadat yang kuat
* Masih dimungkinkan hubungan pribadi yang intim

 Persepsi seorang pemimpin yang paternalistik tentang peranannya dalam kehidupan organisasi dapat dikatakan diwarnai oleh harapan bawahan kepadanya. Harapan bawahan berwujud keinginan agar pemimpin mampu berperan sebagai bapak yang bersifat melindungi dan layak dijadikan sebagai tempat bertanya dan untuk memperoleh petunjuk, memberikan perhatian terhadap kepentingan dan kesejahteraan bawahannya. Pemimpin yang paternalistik mengharapkan agar legitimasi kepemimpinannya merupakan penerimaan atas peranannya yang dominan dalam kehidupan organisasional. Berdasarkan persepsi tersebut, pemimpin paternalistik menganut nilai organisasional yang mengutamakan kebersamaan. Nilai tersebut mengejawantah dalam sikapnya seperti kebapakan, terlalu melindungi bawahan. Sikap yang demikian tercermin dalam perilakunya berupa tindakannya yang menggambarkan bahwa hanya pemimpin yang mengetahui segala kehidupan organisasional, pemusatan pengambilan keputusan pada diri pemimpin. Dengan penonjolan dominasi keberadaannya dan penekanan kuat pada kebersamaan, gaya kepemimpinan paternalistik lebih bercorak pelindung, kebapakan dan guru.

 3. Tipe Kharismatik

Seorang pemimpin yang kharismatik memiliki karakteristik yang khas yaitu daya tariknya yang sangat memikat sehingga mampu memperoleh pengikut yang sangat besar dan para pengikutnya tidak selalu dapat menjelaskan secara konkret mengapa orang tertentu itu dikagumi. Pengikutnya tidak mempersoalkan nilai yang dianut, sikap, dan perilaku serta gaya yang digunakan pemimpin itu.

 4. Tipe Laissez Faire

Persepsi seorang pemimpin yang laissez faire melihat perannya sebagai polisi lalu lintas, dengan anggapan bahwa anggota organisasi sudah mengetahui dan cukup dewasa untuk taat pada peraturan yang berlaku. Seorang pemimpin yang laissez faire cenderung memilih peran yang pasif dan membiarkan organisasi berjalan menurut temponya sendiri.

Nilai yang dianutnya biasanya bertolak dari filsafat hidup bahwa manusia pada dasarnya memiliki rasa solidaritas, mempunyai kesetiaan, taat pada norma, bertanggung jawab.

Nilai yang tepat dalam hubungan atasan –bawahan adalah nilai yang didasarkan pada saling mempercayai yang besar. Bertitik tolak dari nilai tersebut, sikap pemimpin laissez faire biasanya permisif. Dengan sikap yang permisif, perilakunya cenderung mengarah pada tindakan yang memperlakukan bawahan sebagai akibat dari adanya struktur dan hirarki organisasi. Dengan demikian, gaya kepemimpinan yang digunakannya akan dicirikan oleh

* Pendelegasian wewenang terjadi secara ekstensif
* Pengambilan keputusan diserahkan kepada pejabat pimpinan yang lebih rendah
* Status quo organisasional tidak terganggu
* Pengembangan kemampuan berpikir dan bertindak yang inovatif dan kreatif diserahkan
kepada anggota organisasi
* Intervensi pemimpin dalam perjalanan organisasi berada pada tingkat yang minimal

5. Tipe Demokratik

Ditinjau dari segi persepsinya, seorang pemimpin yang demokratik biasanya memandang peranannya selaku koordinator dan integrator. Karenanya, pendekatan dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya adalah holistik dan integralistik. Seorang pemimpin yang demokratik menyadari bahwa organisasi harus disusun sedemikian rupa sehingga menggambarkan secara jelas aneka tugas dan kegiatan yang harus dilaksanakan demi tercapainya tujuan organisasi. Seorang pemimpin yang demokratik melihat bahwa dalam perbedaan sebagai kenyataan hidup, harus terjamin kebersamaan. Nilai yang dianutnya berangkat dari filsafat hidup yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, memperlakukan manusia dengan cara yang manusiawi. Nilai tersebut tercermin dari sikapnya dalam hubungannya dengan bawahannya, misalnya dalam proses pengambilan keputusan sejauh mungkin mengajak peran serta bawahan sehingga bawahan akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Dalam hal menindak bawahan yang melanggar disiplin organisasi dan etika kerja, cenderung bersifat korektif dan edukatif. Perilaku kepemimpinannya mendorong bawahannya untuk menumbuhkembangkan daya inovasi dan kreativitasnya. Karakteristik lainnya adalah kecepatan menunjukkan penghargaan kepada bawahan yang berprestasi tinggi.

Berdasarkan persepsi, nilai, sikap, dan perilaku, maka gaya kepemimpinannya biasanya mengejawantah dalam hal:

Pandangan bahwa sumber daya dan dana yang tersedia bagi organisasi, hanya dapat digunakan oleh manusia dalam organisasi untuk pencapaian tujuan dan sasarannya.

Selalu mengusahakan pendelegasian wewenang yang praktis dan realistik

Bawahan dilibatkan secara aktif dalam proses pengambilan keputusan

Kesungguhan yang nyata dalam memperlakukan bawahan sebagai mahluk politik, sosial, ekonomi, dan individu dengan karakteristik dan jati diri yang khas

Pengakuan bawahan atas kepemimpinannya didasarkan pada pembuktian kemampuan memimpin organisasi dengan efektif.

Sifat dan Gaya Kepemimpinan

 

Melengkapi catatan sebelumnya tentang definisi dan pengertian kepemimpinan, berikut ini adalah macam-macam sifat dan gaya kepemimpinan yang diperlukan dalam memimpin suatu organisasi.

Sifat Kepemimpinan

Sifat Kepemimpinan yang diperlukan oleh seorang pemimpin dalam suatu organisasi harus memiliki kriteria-kriteria tertentu, dimana kriteria tersebut menurut George R. Terry (1992: 156) adalah sebagai berikut :

  1. Penuh energi
  2. Memeiliki stabilitas emosi
  3. Memeiliki pengetahuan tentang manusia. 
  4. Motivasi pribadi
  5. Kemahiran komunikasi
  6. Kecakapan mengajar
  7. Kecakapan social
  8. Kemampuan teknis

 

Hal tersebut di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

  • Penuh Energi. Untuk tercapainya kepemimpinan yang baik maka diperlukan energi yang baik pula, jasmani maupun rohani. Seorang pemimpin harus sanggup bekerja dalam jangka panjang dan dalam waktu tidak tertentu. Karena itu kesehatan fisik maupun mental benar-benar diperlukan oleh seorang pemimpin.
  • Memiliki stabilitas emosi. Seorang pemimpin yang efektifitas harus melepaskan diri dari berburuk sangka, kecurigaan terhadap bawhannya dan tidak boleh cepat naik pitam. Sebaliknya ia harus tegas, konsekuen dan konsisten dalam tindakan-tindakannya.
  • Memiliki pengetahuan tentang manusia. Mengungat tugas yang penting dari pemimpin maka pemimpin yang baik harus mengetahui hubungan antara manusia tersebut. Ia harus menhetahui banyak tentang sifat-sifat orang, bagaiman mereka mengadakan reaksi terhadap sesuatu tindakan atau situasi yang bermacam-macam, apa dan bagaimana kemampuan yang memiliki untuk melaksanakan tugas yang dibebankan tersebut.
  • Motivasi pribadi. Keinginan untuk memimpin harus datang dari dorongan batin dan pribadinya sendiri dan bukan perasaan dari luar dirinya.
  • Kemahiran komunikasi. Seorang pemimpin harus mampu dan cakap dalam mengutarakan gagasan baik secara lisan maupun tulisan. Hal ini sangat penting untuk dapat mendorong maju bawahan, memberikan atau menerima informasi bagi kemajuan dan kepentingan bersama.
  • Kecakapan mengajar. Mengajar adalah jalan terbaik untuk memajukan orang-orang ataupun menyadarakan orang atas pentingnya tugas-tugas yang dibebankan dan sebagainya. Pemimipin harus mampu memberikan petunjuk-petunjuk, mengoreksi kesalahan-kesalahan yang terjadi, mengajukan saran-saran, menerima saran-saran dan sebagainya. 
  • Kecakapan sosial. Seorang pemimpin harus mengetahui benar tentang manusia dan masyarakat, kemampuan-kemampuannya maupun kelemahan-kelemahannya. Ia harus memiliki kemampuan bekerja sama dengan orang-orang dengan berbagai ragam sifatnya.
  • Kemampuan teknis. Dengan memiliki kemampuan teknis yang tinggi dari seorang pemimpin akan   lebih mudah mengadakan koreksi bila terjadi suatu kesalahan pelaksanaan tugas dari bawahannya.

Gaya Kepemimpinan

Benar kiranya pendapat dari berbagai ahli yang mengatakan bahwa seorang pemimpin dibandingkan dengan pemimpin lainnya tentulah berbeda sifat, kebiasaan, tempramen, watak dan kepribadiannya, sehingga tingkah laku dan gayanya tentu tidak sama diantara mereka.

Para ahlipun membedakan gaya kepemimpinan yang berbeda pula sesuai sudut pandang mereka. Pendapat-pendapat para ahli tersebut seperti :

1.    Studi Universitas Negeri Ohio

Riset yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Negeri Ohio berusaha mengidentifikasikan dimensi-dimensi independen dan perilaku pemimpin. Seperti tercantum dalam buku Perilaku Organisasi jilid 2 (1996: 41). Dari hasil riset tersebut mereka akhirnya mendapatkan dua kategori yang secara hakiki menjelaskan kebanyakan perilaku kepemimpinan yang diberikan kepada bawahannya.

  • Struktur awal (initiating structure). Struktur awal mengacu sejauhmana seorang pemimpin berkemungkinan menetapkan dan menstruktur pikirannya dan peran bawahannya dalam mengusahakan tercapainya tujuan. Struktur ini mencakup perilaku yang berupaya mengorganisasi kerja, hubungan kerja dan tujuan. Pemimpin yang dicirikan sebagai timggi dalam struktur awalnya dapat diberikan dalam istilah seperti “menugasi anggota-angota kelompok dengan tugas-tugas tertentu”, “mengharapkan para pekerja mempertahankanstandar kinerja yang pasti”, dan menekankan dipenuhinya tenggat-tenggat (dead lines)”.
  • Pertimbangan (consideratioan). Diartikan sebagai sejauhmana seorang berkemungkinan memiliki hubungan pekerjaan oleh saling percaya, menghargai gagasan bawahan, dan memperhatikan perasaan mereka. Ia menunjukan kepedulian atas kenikmatan, kesejahteraan, status kepuasan pengikut-pengikutnya. Seorang pemimpin yang tinggi dalam membantu bawahan dalam menyelesaikan masalah pribadi, ramah dan dapat dihampiri, serta memperlakukan semua bawahan sama. Riset yang didasarkan pada definisi-definisi ini, menemukan bahwa para pemimpin yang tinggi dalam struktur awal dan pertimbangan cenderung lebih sering mencapai kinerja dan kepuasan bawahan yang tinggi daripada mereka yang rendah dalam struktur awal atau pertimbangan kedua-keduanya rendah. Gaya yang tinggi-tinggi tidak selalu menghasilkan konsekunsi positif. 

Misalnya perilaku pemimpin yang dicirikan sebagai tinggi pada struktur awal mendorong tingginya tingkat keluhan, kemangkiran serta keluahanya karyawan dan tingkat kepuasan kerja yang lebih rendah pada pekerja yang mengerjakan tugas-tugas rutin.  Studi lain menemukan bahwa pertimbangan yang tinggi secara negative dihubungkan dengan penilaian kerja dari pemimpin itu oleh atasannya. Kesimpulannya telaah Ohio menyarankan bahwa “Gaya tinggi-tinggi” umumnya  memberikan arti yang positif tetapi cukup banyak pengecualian yang dijumpai menunjukan bahwa factor-faktor situasional perlu dipadukan dalam teori ini.

2.    Telaah Universitas Michigen

Telaah Universitas Michigan mempunyai sasaran riset yang serupa dengan di Ohio yaitu mengalokasi karakteristik perilaku pemimpin yang tampaknya dikaitkan dengan ukuran keefektifan kinerja. Seperti tercantum dalam buku Perilaku Organisasi jilid (1996: 42).

  • Berorientasi Karyawan. Pemimpin yang berorietasi karyawan diartikan sebagai menekankan hubungan antar pribadi, mereka berminst secara pribadi pada kebutuhan bawahan mereka dan menerima baik beda individual diantara anggota-anggota.
  • Berorientasi Produksi. Pemimpin yang berorientasi produksi cenderung menekankan aspek teknis atau tugas yang dipekerjaannya; perhatian mereka adalah pada penyelesaian tugas kelompok mereka, dan anggota-anggota kelompok adalah suatu alat untuk tujuan akhir itu.

Kesimpulan yang didapat dari para ahli Michigan sempat kuat mendukung pemimpin yang berorientasi karyawan dikaitkan dengan produktivitas kelompok yang lebih tinggi. Pemimipin yang berorientasi produksi cenderung dikaitkan dengan produktivitas kelompok rendah dan kepuasan yang lebih rendah.

3.    Kisi Manajerial

Suatu gambar grafik dari pandangan dua dimensi terhadap gaya kepemimpinan dua dimensi terhadap gaya kepemimpinan dikembangkan oleh Blake dan Mouton. Mereka mengemukakan kisi manajerial berdasarkan pada gaya “kepedulian akan orang” dan “kepedulian akan produksi”, yang pada hakikatnya mewakili dimensi pertimbangan dan struktur awal dar Ohio atau dimensi berorientasi karyawan dan berorientasi produksi dari Michigan. Seperti tercantum dalam buku Perilaku Organisasi (1996: 43).

Kisi itu mempunyai sembilan posisi yang mungkin sepanjang tiap sumbu, menciptakan delapan satu posisi yang berbeda dalam mana gaya pemimpin itu bias ditempatkan. Kisi itu tidak menunjukan hasil yang diproduksi tetapi factor-faktor dominant dalam pemikiran seorang pemimpin dalam rangka memperoleh hasil.

Secara garis besar dalam kisi manajerial orientasi gaya kepemimpinan dalam dua orientasi, yaitu :

  1. Orientasi Tugas

Seorang pemimpin harus memperhatikan berbagai masalah yang berhubungan dengan tugas. Misal: prosedur pelaksanaan tugas, efesiensi kerja.

  1. Orientasi Orang.

Bagaimana sikap seorang pemimpin terhadap bawahannya. Misal: Hubungan pribadi yang baik, suasana kerja yang sehat, kekompakan antar pekerja dan semangat yang meningkat.

Bhineka Tunggal Ika

  • Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 17 Agustus 1945 bukanlah suatu “bangunan bangsa baru “ yang terpisah dari sejarah. Jauh sebelumnya, sejak kehadiran Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, kemudian diteruskan kerajaan-kerajaan Islam sekitar abad ke- 13- 16 M .
  • Lahirnya Pancasila sebagai dasar Negara, sebagaimana diakui oleh Soekarno, merupakan kristalisasi nilai-nilai yang digali dari pemahaman sejarah. Demikian pula semboyan yang dicengkram oleh lambang Negara Burung Garuda, ”Bhineka Tunggal Ika “
  • Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika secara lughawi berasal dari bahasa Sansekerta. Pancasila berarti lima prinsip (dasar); Bhineka Tunggal Ika berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu.
  • Moto bangsa Indonesia yang berasal dari kitab sutasomanya Mpu Tantular adalah suatu karya besar bangsa Indonesia yang sangat fundamentalis bagi kehidupan berbangsa.
  • Penggunaan kedua istilah ini bukanlah ciptaan Soekarno dan Purbacaraka. Jauh sebelumnya, dalam sebuah naskah kuno yang dijadikan sebagai motto bangsa Indonesia adalah bait-bait/sloka naskah kuno yang terdapat dalam naskah Jawa kuno.
  • Naskah yang berisikan pengetahuan-pengetahuan tentang ajaran moral dan etika sosial masyarakat menggunakan bahasa Jawa kuno/Kawi beraksara Jawa Bali ditulis tangan di atas daun lontar.
  • Kumpulan tulisan tangan di atas daun lontar di Bali dikenal dengan kitab Cakepan Lontar (Lontarak di Sulawesi Selatan). Naskah Kuno/Cakepan lontar diberi judul Sutasoma (lebih dikenal dengan Kakawin Sutasoma) oleh pengarangnya seorang pujangga besar Mpu Tantular pada abad ke-IX. Naskah cakepan lontar (Kakawin Sutasoma) dikarang berdasarkan kreativitas pengarangnya dengan maksud dan tujuan-tujuan luhur dan mulia dalam rangka mencari solusi mengatasi krisis yang terjadi pada abad itu.
  • Dibacakannya Kitab Sutasoma, karena terjadi konflik antara agama besar saat itu Hindu dan Budha yang masing-masing menginginkan ajaran agamanya di jadikan sebagai dasar hukum untuk mengatur kehidupan Nusantara.
  • Pesan moral ini terus dikumandangkan dan di dakwahkan yang tidak lain adalah untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan sebuah bangsa dengan cara dibaca sebagai ritual kemasyarakatan yang berbentuk bacaan-bacaan, puji-pujian yang dilakukan di iven-iven ritual kemasyarakatan.
  • Pembancaan naskah Cakepan Lontar Kakawin Sutasoma dibaca dalam bentuk ritme-ritme spiritual (sampai saat ini dilakukan oleh masyarakat Bali).  Hal ini terus berlangsung diperkenalkan dan disosialisasikan oleh dua orang dalam abad yang berbeda yaitu abad ke IX tahun 878 M oleh pengarangnya sendiri Mpu Tantular, sedangkan pada abad ke XV tahun 1475 dalam bentuk yang sama dikumandangkan dan disosialisasikan oleh Sri Markandeya seorang Bhagawanta (Rohaniawan) terakhir dari kerajaan Majapahit.
  • Menginjak abad XIII situasi politik mengalami perubahan di Nusantara, puncaknya pada abad XV karena ada kelompok yang menghendaki Ajaran agama dijadikan sebagai dasar hukum di Nusantara, maka bait-bait Sutasoma pun di kumandangkan lagi secara terus menerus oleh penguasa yang sudah menganut (agama Islam  BRE WIRABHUMI ) dan Bhineka Tunggal Ika ditetapkan sebagai BHISAMA( Fatwa ) dan diyakini oleh masyarakat sebagai hal yang mengandung nilai KUTUKAN.
  • Sementara pada abad XVII masuk kolonial belanda dengan menggunakan sistem Devide at Impera maka Bhineka tunggal Ika pun redup dan dilupakan. Dan Bhineka Tunggal Ika di kumandangkan lagi pada abad XX pada 28 Oktober 1928 ( Sumpah Pemuda ).
  • Di antara bait-bait/Sloka Bhineka Tunggal Ika sebagai berikut:

          (Bacaan dalam aksara Latin)

  • “Rwaneka dhatu winuwus wara buddha wicwa, Bhineki rakwa, ringapan kene parwa nesen, mangkang jinatwa kalawan ciwa tatwa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.”

Artinya: ”antara ajaran agama budha dan hindu berbeda itu konon, namun kapan Tuhan dapat dibagi-bagi demikianlah kebesaran Tuhan adalah Satu, berbeda sebutan tetapi tunggal itu, tidak ada Tuhan yang dua.”

  • ”Bwat bajrayana Pancasila ya gegen den teki haywa lupa, Mwang tekang Dasasila dharma kineyep sang srawaka pet hayu.

Selain menggelar brajayana/ spritual, Pancasila agar dipergunakan sebagai pegangan untuk kehidupan semua manusia, Jangan lupa itu,Sampai dengan ajaran Dasasila patut dihayati oleh para agamawan yang ingin mencapai kerukunan.

  • Dengan mengumandangkan Kakawin Sutasoma/bait/Sloka Bhineka Tunggal Ika dalam bentuk ritme spiritual keseluruh Nusantara, penganut agama Hindu dan Budha menyadari sepenuhnya bahwa hukum agama tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum untuk mengatur kehidupan sosial Nusantara.
  • Hukum agama harus ditempatkan lebih tinggi dari dasar hukum Nusantara karena persoalan agama merupakan persoalan individu-individu manusia dengan Tuhan, hukum-hukum yang diberlakukan untuk mengatur kehidupan sosial Nusantara harus dicarikan dasar hukum  yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh umat beragama.
  • Hasilnya sangat positif pada abad itu, dibuktikan dengan terwujudnya kedamaian dan kerukunan. Masyarakatnya hidup rukun berdampingan bersatu dan merasakan kehidupan dalam satu keluarga besar Nusantara.[1]
  • Meski berasal dari bahasa Sansekerta, yang dikatakan identik dengan ajaran Hindu/Buddha, sebetulnya semboyan Bhineka Tunggal Ika sangat relevan pula dengan ajaran-ajaran agama besar sesudahnya. Dalam agama Islam misalnya, secara tegas Allah berfirman:
  • Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat [49]: 13)

  • Dilihat dari firman diatas, bahwa orang-orang yang paling mulia adalah diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, yang esensinya adalah berlaku bagi semua agama di dunia, terutama agama monoteis ( Yahudi, Kristen, dan Islam ), Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha yang mengakui adanya Zat yang menciptakan dunia seisinya.
  • Lebih jauh bahwa Alquran pun dalam meng guidance hambanya agar hidup rukun satu sama lain betapapun berbeda suku, ras, dan agama dan bahasa tercermin dalam firman Nya:

Sesungguhya orang-orang Mukmin, orang-orang yahudi, Shabiin (penyembah berhala) dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( QS. Al-Ma’idah [5]: 69).

  • Ayat dimaksud mengilustrasikan betapa erat dan kukuhnya bangunan kerukunan dan kerjasama antara umat beriman itu. Penyebutan umat beriman adalah menunjukan komunitas lintas agama yang berbeda-beda.
  • Untuk memudahkan dan menggamblangkan kita dalam memahami dan menjaga uchwah dalam kebhinekaan perlu saya sampaikan sejarah terbentuknya Negara Madinah yang syarat dengan Bhineka tunggal ika.
  • Hijaz dimana tempat Muhammad SAW diutus adalah bagian jazirah Arab yang merupakan daerah tandus yang membentang diantara daratan tinggi  Najd dan daerah pantai Tihamah. Hijaz memiliki tiga kota utama, yaitu Mekkah, Yastrib ( sekarang bernama Madinah ) dan Ta’if. Penduduknya terdiri dari bangsa Arab dan Yahudi. Bangsa Arab mendiami kota Mekkah, Yastrib, dan Ta’if, dan bangsa Yahudi hanya menempati Yastrib dan sekitarnya. Bangsa Arab dan Yahudi pada dasarnya merupakan satu ras yang berasal dari ras Semit yang keduanya dari satu leluhur yakni Nabi Ibrahim yang diturunkan melalui kedua putranya Isma’il dan Ishaq. Yang kemudian Ismail menurunkan bangsa Arab, dan Ishaq menurunkan bangsa Yahudi.
  • Selama berabad-abad sebelum Islam, wilayah Hijaz tidak pernah mempunyai kesatuan politik dibawah satu bendera Pemerintahan. Orang Arab, baik di Mekah maupun di Yastrib tidak mengenal system politik yang dapat menyatukan mereka, sehingga konflik antar suku-suku tidak dapat dihindari. Konflik antar suku terjadi karena struktur masyarakatnya berdasarkan organisasi Klen yang anggotanya seluruh anggota keluarga didalam suku tersebut diikat dengan pertalian darah. Pertalian darah ini menimbulkan rasa solideritas yang kuat diantara anggota suku yang melahirkan sikap loyalitas penuh terhadap kesatuan suku.
  • Pada tahun 622 Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke kota Yastrib yang kemudian dari awal hijrah ini tahun baru Islam dimulai. Kota Yastrib kemudian diganti menjadi Madinah Al-Munawaroh ( kota yang bercahaya ) inilah babak baru Negara yang dibangun oleh Rosululloh yang mempunyai harapan sesuai namanya yang berasal dari kata dasar Maddana ( Mim, Dal, Nun ) yang artinya Menjadikan kota dan memperadabkan masyaraknya, yang mengandung harapan bahwa masyarakatnya adalah masyarakat yang berperadaban ( Madaniyah /Madany/civil Society ) dan Mutamaddin yang berpendidikan, berakhlaq, beradab, taat hukum dan berkemakmuran.
  • Segmentasi warga madinah adalah sangat bhineka yang mempunyai banyak perbedaan seperti Agama nya terdiri dari Islam, Nashrany, Yahudi, Musyrikin, dan penyembah berhala ( Majusi ), dan penduduk aslinya adalah suku ‘Auz dan Khazraj suku yang sangat berpengaruh dan besar, adapun suku suku yahudi terdiri dari banyak bani ( keturunan ) yaitu Bani Qainuqa ( sekutu Khazraj ), Bani Nadhir dan Bani Quraidzah keduanya sekutu  kabilah Auzs, Bani Ikrimah, Bani Mahmar, Bani Za’ura, Bani al-Syaziyah, Bani Jusam, Bani Auf, Bani BAhdal dan Bani al-qisash. Sedangkan pekerjaannya adalah sebagai Petani, Pedagang, Peternakan, buruh dan Jasa.
  • Dari latar belakang yang sangat beraneka ragam tersebut Rosulullah mendeklarasikan suatu Negara Madinah diikat dengan tali persatuan yang masyhur dengan sebutan “ Al- Shahifa Al-Madinah” ( Konstitusi Madinah / Piagam Madinah ) yang isinya adalah menjadi konstitusi yang harus ditaati oleh segenap penduduk Madinah yang beraneka ragam yang dalam garis besarnya antara lain :
  1. Warga umat ini terdiri dari dari beberapa komunitas kabilah yang saling tolong menolong.
  2. Semua warga sederajat dalam hak dan kewajiban. Hubungan mereka didasarkan pada persamaan dan keadilan.
  3. Untuk kepentingan administratif, umat dibagi menjadi 9 komunitas. 1 Komunitas muhajirin, 8 Komunitas penduduk Madinah Lama. Setiap komunitas memiliki sistem kerja sendiri berdasarkan kebiasaan, keadilan dan persamaan.
  4. Setiap komunitas berkewajiban menegakkan keamanan internal.
  5. Setiap komunitas diikat dalam kesamaan iman. Antara satu komunitas dengan lainnya tidak diperkenankan saling berperang.
  6. Orang Yahudi yang setia terhadap konstitusi harus dilindungi.
  7. Orang yang bersalah harus dihukum, warga lain tidak boleh membelanya.
  8. COMMON ANEMY nya adalah : ”WALAA ‘UDWAANA ILLA ‘ALA ZOOLIMIIN”. ( tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang yang dzolim, yang melanggar aturan, korupsi, manipulasi, dan hal-hal yang dilarang oleh konstitusi).
  9. 

  • Adapun kebijakan public  utama Pemerintahan Madinah adalah “Taakhuh” ( Mempersaudarakan anatara satu dengan lainnya ) yang ini semua kemudian menjadi cikal bakal istilah “persaudaraan” (atau ukhuwah dalam bahasa Arab) yang hal ini diilhami oleh eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Ia lahir dari lembaga institusi terkecil dalam komunitas sosial yang dinamakan keluarga.Beberapa keluarga kemudian membentuk RT, RW, desa, Kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga terwujud sebuah bangunan negara.
  • Yang kemudian berkembang  sejumlah istilah tentang rasa persaudaraan ini, seperti ukhuwah islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan).

 Dari kebijakan Taakhuh ini menumbuhkan perasaan damai dan kasih sayang antar umat beragama, suku, ras, golongan dan lainnya.

Hasilnya Negara Madinah memang susuai dengan namanya, yang semula masyarakat terpinggirkan setelah Konstitusi Madinah dijalankan masyarakat menjadi pemimpin peradaban, yang sebelumnya kehidupan ekonomi yang sangat tertinggal menjadi ekonomi yang dapat menggerakkan kehidupan lebih maju, yang awalnya masyarakat bercerai berai menjadi masyarakat yang bersatu, yang mulanya masyarakat tertindas menjadi masyarakat yang merdeka, yang semula miskin menjadi berkemakmuran, yang semula tidak memiliki kekuasaan menjadi memiliki sistem politik pemerintahan yang kuat, yang semula bermoral bejad menjadi berakhlaq. Inilah contoh Negara yang kita idam-idamkan bersama di Negara yang tercinta kita Indonesia.

 Itu semua sesungguhnya dapat diupayakan di negri kita dengan cara anatara lain dengan memperkuat pemahaman nilai-nilai universal agama yang mendorong kesatuan dalam kebhinekaan.

Berikut adalah hal-hal yang perlu dilakukan bersama-sama di Negara kita yang sesuai dengan cita-cita bangsa dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

  • Pertama, semangat religiusitas (ruh at-tadayyun). Maksudnya dalam beragama, kita perlu memahami agama secara benar dan komprehensif. Memupuk semangat religiusitas adalah mengembalikan umat manusia kepada substansi agama .
  • Kedua, semangat nasionalitas (ruh al-wathaniyah). Allah menciptakan manusia di muka bumi merupakan wujud kepercayaan Allah atas peran manusia untuk mengelola alam sekitarnya.
  • Ketiga, semangat pluralitas (ruh at-ta’addudiyah). Menerima keragaman harus dilandasi oleh kesadaran manusia akan kebenaran nilai-nilai universal agama.
  • Keempat, semangat humanitas (ruh al-insaniyah). Misi dakwah Rasulullah yang sukses melewati periode Madinah merupakan potret nyata pentingnya nilai humanis.
  • Kelima, Semangat religiusitas, nasionalitas, pluralitas, serta humanitas adalah suatu keniscayaan bagi sebuah komunitas yang memiliki keragaman agama di Indonesia, sebagai upaya kenumbuhkan kerukunan kehidupan antar umat.
  • Akhirnya, sudah merupakan sunnatullah bahwa manusia serta seluruh alam semesta ini ber-Bhineka Tunggal Ika. Mereka tidak hanya satu dalam agama, tetapi juga dalam beragam ras, bahasa, bangsa, tetapi semua satu dalam asal kejadian, yakni dari Tuhan Pencipta Alam Semesta. Inilah esensi agama yang tulus, hakikat kehidupan sejatidan juga makna sebenarnya dari perjalanan kehidupan, yakni bahwa kita semua milik-Nya, terus nantinya bakal kembali kehadirat-Nya.

WALLOHU A’LAM BISHOWAAB.

METODE PENELITIAN KUALITATIF

 

A.     Pendahuluan

Setiap kegiatan penelitian sejak awal sudah harus ditentukan dengan jelas pendekatan/desain penelitian apa yang akan diterapkan, hal ini dimaksudkan agar penelitian tersebut dapat benar-benar mempunyai landasan kokoh dilihat dari sudut metodologi penelitian, disamping pemahaman hasil penelitian  yang akan lebih  proporsional apabila pembaca mengetahui pendekatan yang diterapkan.

Obyek dan masalah penelitian memang mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan mengenai pendekatan, desain ataupun metode penelitian yang akan diterapkan. Tidak semua obyek dan masalah penelitian bisa didekati dengan pendekatan tunggal, sehingga diperlukan pemahaman pendekatan lain yang berbeda agar begitu obyek dan masalah yang akan diteliti tidak pas atau kurang sempurna dengan satu pendekatan maka pendekatan lain dapat digunakan, atau bahkan mungkin menggabungkannya.

  1. B.         Paradigma Penelitian

Secara umum pendekatan penelitian atau sering juga disebut                paradigma penelitian yang cukup dominan adalah paradigma penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif.  Dari segi peristilahan para ahli nampak menggunakan istilah atau penamaan yang berbeda-beda meskipun mengacu pada hal yang sama, untuk itu guna menghindari kekaburan dalam memahami kedua pendekatan ini, berikut akan dikemukakan penamaan  yang  dipakai  para ahli dalam penyebutan kedua istilah tersebut seperti terlihat dalam tabel  1 berikut  ini :

Tabel 1.

 Quantitative and Qualitative Research : Alternative Labels

Quantitative Qualitative Authors
Rasionallistic Naturalistic Guba &Lincoln (1982)
Inquiry from the Outside Inquiry from the inside Evered & Louis (1981)
Functionalist Interpretative Burrel & Morgan (1979)
Positivist Constructivist Guba (1990)
Positivist Naturalistic-ethnographic Hoshmand (1989)

Sumber : Julia Brannen (Ed): 1992 : 58)

Sementara itu Noeng Muhadjir (1994 : 12) mengemukakan beberapa nama yang dipergunakan para ahli tentang metodologi penelitian kualitatif yaitu: grounded research, ethnometodologi, paradigma naturalistik, interaksi simbolik, semiotik, heuristik, hermeneutik, atau holistik. Perbedaan tersebut dimungkinkan karena perbedaan titik tekan dalam melihat permasalahan serta latar brlakang disiplin ilmunya, istilah grounded research lebih berkembang  di lingkungan sosiologi dengan tokohnya Strauss dan Glaser (untuk di Indonesia istilah ini diperkenalkan/dipopulerkan oleh Stuart A. Schleigel dari Universitas California yang pernah menjadi tenaga ahli pada Pusat Latihan Penelitian Ilmu-ilmu Sosial  Banda Aceh pada tahun 1970-an),  ethnometodologi lebih berkembang di lingkungan antropologi dan ditunjang  antara lain oleh Bogdan, interaksi simbolik lebih berpengaruh di pantai barat Amerika Serikat dikembangkan oleh Blumer, Paradigma naturalistik dikembangkan antara lain oleh Guba yang pada awalnya memperoleh pendidikan dalam fisika, matematika dan  penelitian kuantitatif.

Secara lebih rinci Patton (1990 : 88) mengemukakan-penamaan-macam-macam  penelitian kualitatif (Qualitative inquiry) berdasarkan tradisi teoritisnya  yang diuraikan dalam bentuk tabel sebagai berikut :

Tabel 1.

variety in qualitative Inquiry : Theoritical traditions

No Perspektif Akar Ilmu Pertanyaan Utama
1 Ethnography Anthropology Apa kebudayaan masyarakat ini ?
2 Phenomenology Philosophy Apa struktur dan esensi pengalaman atas gejala-gejala ini bagi masyarakat tersebut?
3 Heuristics Psikologi Humanistik                          Apa pengalaman saya mengenai gejala-gejala ini dan apa pengalaman essensial bagi yang lain yang juga mengalami gejala ini secara intens ?
4 Ethnomethodology Sosiology Bagaimana orang memahami kegiatan sehari-hari mereka sehingga berprilaku dengan cara yang dapat diterima secara sosial ?
5 Symbolic interactionism Psikologi sosial Apa simbul dan pemahaman umum yang telah muncul dan memberikan makna bagi interaksi sosial masyarakat ?

 

6 Echological Psychology Psikologi lingkungan Bagaimana  orang-orang mencapai tujuan mereka melalui prilaku tertentu dalam lingkungan yang tertentu ?              
7 System theory interdisipliner Bagaimana  dan kenapa sistem ini berfungsi secara keseluruhan ?
8 Chaos theory: non -linier dynamics Fisika teoritis : ilmu-ilmu alam Apa yang mendasari keteraturan gejala-gejala yang tak teratur jika ada ?
9 Hermeneutics Teologi, filsafat, kritik sastra Apa kondisi-kondisi yang melahirkan prilaku atau produk yang dihasilkan yang memungkinkan penafsiran makna ?
10 Orientaional, qualitative Ideologi, ekonomi politik Bagimana perspektif ideologi seseorang berujud dalam suatu gejala ?

 

Dalam perkembangannya, belakangan ini nampaknya istilah penelitian kualitatif telah menjadi  istilah yang dominan dan baku, meskipun mengacu pada istilah yang berbeda dengan pemberian karakteristik yang  berbeda pula, namun bila dikaji lebih jauh semua itu lebih bersifat saling melengkapi/memperluas dalam suatu bingkai  metodologi penelitian kualitatif.

Oleh karena itu dalam wacana metodologi  penelitian, umumnya  diakui terdapat dua paradigma utama dalam metodologi penelitian yakni paradigma positivist (penelitian kuantitatif) dan paradigma naturalistik (penelitian kualitatif), ada ahli yang memposisikannya secara diametral, namun ada juga yang mencoba menggabungkannya baik dalam makna integratif maupun bersifat komplementer, namun apapun kontroversi yang terjadi kedua jenis penelitian tersebut memiliki perbedaan-perbedaan baik dalam tataran filosofis/teoritis maupun   dalam tataran praktis pelaksanaan  penelitian, dan justru dengan perbedaan tersebut akan nampak kelebihan dan kekurangan masing-masing, sehingga seorang peneliti akan dapat lebih mudah memilih metode yang akan diterapkan apakah metode kuantitatif atau metode kualitatif dengan memperhatikan obyek penelitian/masalah yang akan diteliti serta mengacu pada tujuan penelitian yang telah ditetapkan.                                     

Meskipun dalam tataran praktis perbedaan antara keduanya seperti nampak sederhana dan hanya bersifat teknis, namun  secara esensial keduanya mempunyai landasan epistemologis/filosofis yang sangat berbeda. Penelitian kuantitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham positivisme, sementara itu penelitian kualitatif merupakan pendekatan penelitian yang mewakili paham naturalistik (fenomenologis).  Untuk lebih memahami landasan filosofis kedua paham tersebut, berikut ini akan diuraiakan secara ringkas kedua aliran faham tersebut.

1. Positivisme

Positivisme merupakan aliran filsafat yang dinisbahkan/ bersumber dari  pemikiran Auguste Comte seorang folosof  yang lahir di Montpellier Perancis pada tahun 1798, ia seorang yang sangat miskin, hidupnya banyak mengandalkan sumbangan dari murid dan teman-temannya antara lain  dari folosof inggris John Stuart Mill (juga seorang akhli ekonomi), ia meninggal pada tahun 1857. meskipun demikian pemikiran-pemikirannya cukup berpengaruh yang dituangkan dalam tulisan-tulisannya antara lain Cours de Philosophie Positive (Kursus filsafat positif) dan Systeme de Politique Positive (Sistem politik positif).

Salah satu buah pikirannya yang sangat penting dan berpengaruh adalah tentang tiga tahapan/tingkatan cara berpikir manusia dalam berhadapan dengan alam semesta yaitu : tingkatan Teologi, tingkatan Metafisik, dan tingkatan Positif

Tingkatan Teologi (Etat Theologique). Pada tingkatan ini manusia belum bisa memahami  hal-hal yang berkaitan dengan sebab akibat. Segala kejadian dialam semesta merupakan akibat dari suatu perbuatan Tuhan dan manusia hanya bersifat pasrah, dan yang dapat dilakukan adalah memohon pada Tuhan agar dijauhkan dari berbagai bencana. Tahapan ini terdiri dari tiga tahapan lagi yang berevolusi yakni dari tahap animisme, tahap politeisme, sampai dengan tahap monoteisme.

Tingkatan Metafisik (Etat Metaphisique). Pada dasarnya tingkatan ini merupakan suatu variasi dari cara berfikir teologis, dimana Tuhan atau Dewa-dewa diganti dengan kekuatan-kekuatan abstrak misalnya dengan istilah kekuatan alam. Dalam tahapan ini manusia mulai menemukan  keberanian dan merasa bahwa kekuatan yang menimbulkan bencana dapat dicegah dengan memberikan berbagai sajian-sajian sebagai penolak bala/bencana.

Tingkatan Positif (Etat Positive). Pada tahapan ini manusia sudah menemukan pengetahuan yang cukup untuk menguasai alam. Jika pada tahapan pertama manusia selalu dihinggapi rasa khawatir berhadapan dengan alam semesta, pada tahap kedua manusia mencoba mempengaruhi kekuatan yang mengatur alam semesta, maka pada tahapan positif manusia lebih percaya diri, dengan ditemukannya hukum-hukum alam, dengan bekal  itu manusia mampu menundukan/mengatur (pernyataan ini mengindikasikan adanya pemisahan antara subyek yang mengetahui dengan obyek yang diketahui)  alam serta memanfaatkannya untuk kepentingan manusia, tahapan ini merupakan tahapan dimana manusia dalam hidupnya lebih mengandalkan pada ilmu pengetahuan.

Dengan memperhatikan tahapan-tahapan seperti dikemukakan di atas nampak bahwa istilah positivisme mengacu pada tahapan ketiga (tahapan positif/pengetahuan positif) dari pemikiran Comte. Tahapan positif merupakan tahapan tertinggi, ini berarti  dua tahapan sebelumnya merupakan tahapan yang rendah dan primitif, oleh karena itu filsafat Positivisme merupakan filsafat yang anti metafisik, hanya fakta-fakta saja yang dapat diterima. Segala sesuatu yang bukan fakta atau gejala (fenomin) tidak mempunyai arti, oleh karena itu yang penting dan punya arti hanya satu yaitu mengetahui (fakta/gejala) agar siap bertindak (savoir pour prevoir).

Manusia harus menyelidiki dan mengkaji berbagai gejala yang terjadi beserta hubungan-hubungannya diantara gejala-gejala tersebut agar dapat meramalkan apa yang akan terjadi, Comte menyebut hubungan-hubungan tersebut dengan konsep-konsep dan hukum-hukum yang bersifat positif dalam arti berguna untuk diketahui karena benar-benar nyata bukan bersifat spekulasi seperti dalam metafisika.

  2. Fenomenologi

Edmund Husserl adalah filosof yang mengmbangkan metode Fenomenologi, dia lahir di  Prostejov Cekoslowakia dan mengajar di berbagai Universitas besar Eropa, meninggal pada tahun 1938 di Freiburg. Hasil pemikirannya dapat diselamatkan dari kaum Nazi, dengan membawa seluruh buku dan tulisannya  ke Universitas Leuven Belgia, sehingga kemudian dapat dikembangkan lebih lanjut oleh murid-muridnya. Diantara tulisan-tulisan pentangnya adalah: Logische Untersuchungen (Penyelidikan-penyelidikan Logis) dan Ideen zu  einer reinen Phanomenologie und Phanomenologischen Philosophie (gagasan-gagasan untuk suatu fenomenologi murni dan filsafat fenomenologi)

Dalam faham fenomenologi sebagaimana diungkapkan oleh Husserl, bahwa kita harus kembali kepada benda-benda itu sendiri (zu den sachen selbst), obyek-obyek harus diberikan kesempatan  untuk berbicara melalui deskripsi fenomenologis guna mencari hakekat gejala-gejala (Wessenchau). Husserl berpendapat bahwa kesadaran bukan bagian dari kenyataan  melainkan asal kenyataan, dia menolak bipolarisasi  antara kesadaran dan alam, antara subyek dan obyek, kesadaran tidak menemukan obyek-obyek, tapi obyek-obyek diciptakan oleh kesadaran.

Kesadaran merupakan sesuatu yang bersifat intensionalitas (bertujuan), artinya kesadaran tidak dapat dibayangkan tanpa sesuatu yang disadari. Supaya kesadaran timbul perlu diandaikan tiga hal yaitu  : ada subyek, ada obyek, dan subyek yang terbuka terhadap obyek-obyek. Kesadaran tidak bersifat pasif karena menyadari sesuatu berarti mengubah sesuatu, kesadaran merupakan suatu tindakan, terdapat interaksi antara tindakan kesadaran dan obyek kesadaran, namun yang ada hanyalah kesadaran sedang obyek kesadaran pada dasarnya diciptakan oleh kesadaran.

Berkaitan dengan hakekat obyek-obyek, Husserl berpandapat bahwa untuk menangkap hakekat obyek-obyek diperlukan tiga macam reduksi guna menyingkirkan semua hal yang mengganggu dalam mencapai wessenchau yaitu:  Reduksi pertama. Menyingkirkan segala sesuatu yang subyektif, sikap kita harus obyektif, terbuka untuk gejala-gejala yang harus diajak bicara. Reduksi kedua. Menyingkirkan seluruh pengetahuan tentang obyek yang diperoleh dari sumber lain, dan semua teori dan hipotesis yang sudah ada Reduksi ketiga. Menyingkirkan seluruh tradisi pengetahuan. Segala sesuatu yang sudah dikatakan orang lain harus, untuk sementara, dilupakan, kalau reduksi-reduksi ini  berhasil, maka gejala-gejala akan memperlihatkan dirinya sendiri/dapat menjadi fenomin

3. Perbandingan tataran Filosofis

Kedua aliran filsafat tersebut terus berkembang dengan dukungan pengikut-pengikutnya, yang dalam wacana metodologi penelitian telah mendorong lahirnya paradigma penelitian kuantitatif (positivisme) dan paradigma penelitian kualitatif (fenomenologi). Kedua paradigma pendekatan penelitian tersebut nampak sekali mempunyai asumsi/aksioma dasar filosofis dan paradigma  berbeda yang menurut Lincoln dan Guba perbedaan tersebut terletak dalam asumsi/aksioma tentang kenyataan, hubungan pencari tahu dengan tahu (yang diketahui), generalisasi, kausalitas, dan masalah nilai. untuk lebih rincinya dapat dilihat dalam tabel berikut.

Dalam pandangan positivisme dari sudut ontologi meyakini bahwa realitas merupakan suatu yang tunggal dan dapat dipecah-pecah  untuk dipelajari/dipahami secara bebas, obyek yang diteliti bisa dieliminasikan dari obyek-obyek lainnya, sedangkan dalam pandangan fenomenologi kenyataan itu merupakan suatu yang utuh, oleh karena itu obyek harus dilihat dalam suatu konteks natural tidak dalam bentuk yang terfragmentasi.

Dari sudut epistemologi, positivisme mensyaratkan adanya dualisme antara subyek peneliti dengan obyek yang ditelitinya, pemilahan ini dimaksudkan agar dapat diperoleh hasil yang obyektif, sementara itu dalam pandangan Fenomenologis subyek dan obyek tidak dapat dipisahkan dan aktif bersama dalam memahami berbagai gejala. Dari sudut aksiologi, positivisme mensyaratkan agar penelitian itu bebas nilai agar dicapai obyektivitas konsep-konsep dan hukum-hukum sehingga tingkat keberlakuannya bebas tempat dan waktu, sedangkan dalam pandangan fenomenologi penelitian itu terikat oleh nilai sehinggan hasil suatu penelitian harus dilihat sesuai konteks.

Untuk lebih jelasnya berikut ini akan dikemukakan perbandingan antara paradigma positivisme dan paradigma alamiah (fenomenologi) dengan mengacu pada pendapat Lincoln dan Guba, sebagaimana terlihat dalam tabel berikut :

Tabel 2.

Perbedaan Aksioma Paradigma Positivisme dan Alamiah

No Aksioma Tentang Paradigma

Positivisme

Paradigma Alamiah/Kualitatif
1 Hakikat kenyatan Kenyataan adalah tunggal, nyata dan fragmentaris Kenyataan adalah ganda,dibentuk, dan me-rupakan   keutuhan
2 Hubungan pencari tahu dan yang tahu Pencari tahu dengan yang tahu adalah bebas, jadi ada dualisme Pencari tahu dengan yang tahu aktif bersama, jadi tidak dapat dipisahkan
3 Kemungkinan Generalisasi Generalisasi atas dasar bebas-waktu dan bebas-konteks (pernyataan nomotetik) Hanya waktu dan konteks yang mengikat hipotesis kerja (pernyataan idiografis) yang dimungkinkan
4 Kemungkinan hubungan sebab akibat Terdapat penyebab sebenarnya yang secara temporer terhadap, atau secara simultan terhadap akibatnya Setiap keutuhan berada dalam keadaan mempe-ngaruhi secara bersama-sama sehingga sukar mem-bedakan mana sebab dan mana akibat
5 Peranan nilai Inkuirinya bebas nilai Inkuirinya terikat nilai

(Sumber : Lexy J. Moleong : 2000 : 31)

4. Perbandingan tataran Metodologis

Memahami landasan filosofis penelitian kualitatif dalam perbandingannya dengan penelitian kuantitatif merupakan hal yang penting sebagai dasar bagi pemahaman yang tepat  terhadap penelitian kualitatif, namun demikian bagi seorang peneliti penguasaan dalam tingkatan operasional lebih diperlukan lagi agar dalam pelaksanaan penelitian tidak terjadi kerancuan metodologis, dan penelitian benar-benar dilaksanakan dalam suatu bingkai pendekatan yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam tataran metodologis perbedaan landasan filosofis terrefleksikan dalam perbedaan metode penelitian, dimana positivisme dimanifestasikan dalam metode penelitian kuantitatif sedangkan fenomenologi dimanifestasikan dalam metode penelitian kualitatif. Kedua pendekatan ini sering diposisikan secara diametral, meskipun belakangan ini terdapat upaya untuk menggabungkannya baik dalam bentuk paralelisasi maupun kombinasi, adapun perbedaan antara metode kuantitatif dengan kualitatif adalah sebagai berikut  :

Tabel 3.

Perbedaan Metode Kuantitatif dengan Kualitatif

No Metode Kuantitatif Metode Kualitatif
1 Menggunakan hipotesis yang ditentukan  sejak awal penelitian Hipotesis dikembangkan sejalan dengan penelitian/saat penelitian
2 Definisi yang jelas dinyatakan sejak awal Definisi sesuai konteks atau saat penelitian berlangsung
3 Reduksi data menjadi angka-angka Deskripsi naratif/kata-kata, ungkapan atau pernyataan
4 Lebih memperhatikan reliabilitas skor yang diperoleh melalui instrumen penelitian Lebih suka menganggap cukup dengan reliabilitas penyimpulan
5 Penilaian validitas menggunakan berbagai prosedur dengan mengandalkan hitungan statistik Penilaian validitas melalui pengecekan silang atas sumber informasi
6 Mengunakan deskripsi prosedur yang jelas (terinci) Menggunakan deskripsi prosedur secara naratif
7 sampling random Sampling purposive
8 Desain/kontrol statistik atas variabel eksternal Menggunakan analisis logis  dalam mengontrol variabel eksternal
9 Menggunakan desain khusus untuk mengontrol bias prosedur Mengandalkan peneliti dalam mengontrol bias
10 Menyimpulkan hasil menggunakan statistik Menyimpulkan hasil secara naratif/kata-kata
11 Memecah gejala-gejala menjadi bagian-bagian untuk dianalisis Gejala-gejala yang terjadi dilihat dalam perspektif keseluruhan
12 Memanipulasi aspek, situasi atau kondisi dalam mempelajari gejala yang kompleks Tidak merusak gejala-gejala yang terjadi secara alamiah /membiarkan keadaan aslinya 

(diadaptasi dari Jack R. Fraenkel &  Norman E. Wallen. 1993 : 380)

  1. C.         Pemilihan Metodologi Penelitian       

            Penelitian kualitatif bertujuan untuk melakukan penafsiran terhadap fenomena sosial. Metodologi penelitian yang dipakai adalah multi metodologi, sehingga sebenarnya tidak ada metodologi yang khusus. Para periset kualitatif dapat menggunakan semiotika, narasi, isi, diskursus, arsip, analisis fonemik, bahkan statistik. Di sisi yang lain, para periset kualitatif juga menggunakan pendekatan, metode dan teknik-teknik etnometodologi, fenemologi, hermeneutic, feminisme, rhizomatik, dekonstruksionisme, etnografi, wawancara, psikoanalisis, studi budaya, penelitian survai, dan pengamatan melibat (participant observation) (Agus Salim, 2006). Dengan demikian, tidak ada metode atau praktik tertentu yang dianggap unggul, dan tidak ada teknik yang serta merta dapat disingkirkan. Kalau dibandingkan dengan metodologi penelitian yang dikemukakan oleh Feyerabend (dalam Chalmers, 1982) mungkin akan mendekati ketepatan, karena menurutnya metodologi apa saja boleh dipakai asal dapat mencapai tujuan yang dikehendaki.

            Penggunaan dan arti metode penelitian kualitatif yang berbeda-beda ini menyulitkan diperolehnya kesepakatan diantara para peneliti mengenai definisi yang mendasar atasnya. Selanjutnya Agus Salim (2006) menyatakan bila suatu definisi harus dibuat bagi pendekatan kebudayaan, maka penelitian kualitatif adalah suatu bidang antardisiplin, lintas disiplin, bahkan kadang-kadang kawasan kontradisiplin.

            Di sisi lain, penelitian kualitatif juga melintasi ilmu pengetahuan humaniora, sosial, dan fisika. Hal tersebut berarti penelitian kualitatif memiliki fokus terhadap banyak paradigma. Para praktisinya sangat peka terhadap nilai pendekatan multimetode. Mereka memiliki komitmen terhadap sudut pandang naturalistik dan pemahaman intepretatif atas pengalaman manusia. Pada saat yang sama, bidang ini bersifat politis dan dibentuk oleh beragam etika dan posisi politik.

            Meskipun penelitian kualitatif bersifat multi metodologi, akan tetapi seperti halnya penelitian kuantitatif perlu mempertimbangkan validitas data. Perbandingan validitas penelitian secara paralel antara penelitian kualitatif dan kuantitatif adalah sebagai berikut:

Tabel 4.

Padanan Validitas antara Metode Kualitatif dan Kuantitatif

Kualitatif   Kuantitatif
 Credibility Berpadanan dengan Validitas internal
Transferability Berpadanan dengan Validitas eksternal
Dependability Berpadanan dengan Realibilitas/Keajegan
Confirmability Berpadanan dengan Obyektivitas

 Sumber : Agus Salim, 2006

            Menurut Denzin dan Lincoln (1994 dalam Agus Salim, 2006) secara umum penelitian kualitatif sebagai suatu  proses dari berbagai langkah yang melibatkan peneliti, paradigma teoritis dan interpretatif, strategi penelitian, metode pengumpulan data dan analisis data empiris, maupun pengembangan interpretasi dan pemaparan.

  1. D.        Karakteristik Penelitian Kualitatif

Penelitian kualitatif memiliki ciri atau karakteristik  yang membedakan dengan penelitian jenis lainnya. Dari hasil penelaahan pustaka yang dilakukan Moleong atas hasil dari mensintesakan pendapatnya Bogdan dan Biklen (1982:27-30) dengan Lincoln dan Guba (1985:39-44) ada sebelas ciri penelitian kualitatif , yaitu:

  1. Penelitian kualitatif menggunakan latar alamiah atau pada konteks dari suatu keutuhan (enity).
  2. Penelitian kualitatif intrumennya adalah manusia, baik peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain.
  3. Penelitian kualitatif menggunakan metode kualitatif.
  4. Penelitian kualitatif menggunakan analisis data secara induktif.
  5. Penelitian kualitatif lebih menghendaki arah bimbingan  penyusunan  teori subtantif yang berasal dari data.
  6. Penelitian kualitatif  mengumpulkan data deskriptif (kata-kata, gambar) bukan angka-angka.
  7. Penelitian kualitatif lebih mementingkan proses dari pada hasil.
  8. Penelitian kualitatif menghendaki adanya batas dalam penelitian nya atas dasar fokus  yang timbul sebagai masalah dalam peneltian.
  9. Penelitian kualitatif meredefinisikan validitas, realibilitas, dan objektivitas dalam versi lain dibandingkan dengan yang lazim digunakan dalam penelitian klasik.
  10. Penelitian kualitatif menyusun desain yang secara terus menerus disesuaikan dengan kenyataan lapangan (bersifat sementara).
  11. Penelitian kualitatif menghendaki agar pengertian  dan hasil interpretasi yang diperoleh dirundingkan dan disepakati oleh manusia yang dijadikan sumber data.

 

  1. E.         Penelitian Kualitatif: Sebagai Proses

Kegiatan generik  dalam penelitian kualitatif selalu menampilkan lima fase tataran yang dimiliki oleh masing-masing pendekatan;  (1) peneliti dan apa yang diteliti sebagai subjek multi-kultural; (2) paradigma penting dan sudut pandang interpretatif; (3) strategi penelitian; (4) metode pengumpulan data dan penganalisisan bahan empiris dan (5) seni menginterpretasi dan memaparkan hasil penelitian. Untuk lebih jelasnya lihat tabel berikut:

Tabel 5. Lima fase Tataran Penelitian

 

No Fase/langkah Uraian
1

2

3

4

5

Peneliti sebagai subjek penelitian yang multi-kultural

Paradigma teoritis dan Interpretatif

Strategi Peneliti

Metode pengumpulan data dan analisisan data empiris

Pengembangan interpretatif dan pemaparan

Penelitian bersifat historis dan penelitian tradisi, konsep dari diri dan semuanya, tergantung pada etika dan politik peneliti.

 Positivisme, pospositivisme, konstruktivisme, feminis (e), Model etnik, Model Marxis, Model Studi Budaya.

Desain studi, studi kasus, etnografi, observasi partisipasi, fenomenologi, grounded theory, metode biografi, metode historis, penelitian aksi dan penelitian klinis.

Interview, observasi, artefak, dokumen dan rekaman, metode fisual, metode pengalaman pribadi, metode management data, analisis data komputer dan analisis tekstual.

Kriteria dari kesepakatan,seni dan politik penafsiran, penafsiran tulisan, strategi analisis, tradisi evaluasi  dan penelitian terapan. 

Diambil  dari Denzin dan Lincoln (1994),”Introduction: Entering the Field of Qualitative Research”  in Handbook of Qualitative Research, hlm.12. Dikutip penulis dari Agus Salim (2001), hal.26.

 

Dibalik lima fase generik itu, terdapat peneliti yang berada secara biografis. Individu ini memasuki proses penelitian dari dalam suatu masyarakat interpretatif yang memasukkan tradisi penelitiannya sendiri ke dalam suatu sudut pandang yang berbeda. Sudut pandang ini mengakibatkan para peneliti  mengadopsi pandangan “sebagai yang lain” yang dipelajari. Pada saat yang sama, politik dan etika peneliti juga harus  dipertimbangkan, karena permasalahan ini menembus fase penelitian.

Dari bentuknya yang interpretatif, penelitian kualitatif dihadapkan pada masalah yang cukup mengganggu. Di satu sisi, peneliti kualitatif telah mengasumsikan  bahwa peneliti yang memiliki kualifikasi tertentu dan kompeten akan bisa melaporkan hasil temuannya secara objektif, jelas dan akurat mengenai pengamatan mereka sendiri mengenai dunia sosial, termasuk pengalaman orang lain. Di sisi lain, para peneliti berpegang pada keyakinan terhadap subjek yang sebenarnya. Dengan berbekal pada hal tersebut, para peneliti bisa mencampurkan pengamatan mereka dan pengamatan yang diberikan subjek melalui wawancara dan cerita kehidupan, pengalaman pribadi, studi  kasus dan dokumen lain.

 

  1. F.          Metode Pengumpulan Data Dalam Penelitian Kualitatif
  2. 1.      Metode Pengamatan

Pengamatan (observation) merupakan cara yang sangat baik untuk meneliti tingkah laku manusia. Dalam melakukan pengamatan sebaiknya peneliti sudah memahami terlebih dahulu pengertian-pengertian umum dari objek penelitiannya. Apabila tidak maka hasil pengamatannya menjadi tidak tajam.

Dalam penelitian naturalistik, pengamatan terhadap suatu situasi tertentu harus dijabarkan dalam ketiga elemen utamanya, yaitu lokasi penelitian, pada pelaku atau aktor, dan kegiatan atau aktivitasnya. Kemudian ketiga elemen utama tersebut harus diuraikan lebih terperinci lagi.

Terdapat beberapa pengamatan berdasarkan dimensinya yaitu pengamatan berperan serta dan pengamatan tidak perperan serta, pengamatan terbuka dan pengamatan tertutup, pengamatan pada latar alamiah/tak terstruktur dan pengamatan eksperimental dan pengamatan non-eksperimental.

  1. 2.      Metode Wawancara

Wawancara merupakan teknik komunikasi antara interviewer dengan intervewee. Terdapat sejumlah syarat bagi seorang interviewer yaitu harus responsive, tidak subjektif, menyesuaikan diri dengan responden dan pembicaraannya harus terarah. Di samping itu terdapat beberapa hal yang harus dilakukan interviewer ketika melakukan wawancara yaitu jangan memberikan kesan negatif, mengusahakan pembicaraan bersifat kontinyu, jangan terlalu sering meminta responden mengingat masa lalu, memberi pengertian kepada responden tentang pentingnya informasi mereka dan jangan mengajukan pertanyaan yang mengandung banyak hal.

  1. 3.      Metode Dokumenter

Metode atau teknik dokumenter adalah teknik pengumpulan data dan informasi melalui pencarian dan penemuan bukti-bukti. Metode dokumenter ini merupakan metode pengumpulan data yang berasal dari sumber non-manusia. Sumber-sumber informasi non-manusia ini seringkali diabaikan dalam penelitian kualitatif, padahal sumber ini kebanyakan sudah tersedia dan siap pakai. Dokumen berguna karena dapat memberikan latar belakang yang lebih luas mengenai pokok penelitian.

Foto merupakan salah satu bahan dokumenter. Foto bermanfaat sebagai sumber informasi karena foto mampu membekukan dan menggambarkan peristiwa yang terjadi. Akan tetapi dalam penenlitian kita tidak boleh menggunakan kamera sebagai alat pencari data secara sembarangan, sebab orang akan menjadi curiga. Gunakan kamera ketika sudah ada kedekatan dan kepercayaan dari objek penelitian dan mintalah ijin ketika akan menggunakannya.

  1. G.        Tahap-Tahap Penelitian
  2. 1.       Tahap-Tahap Pra-Lapangan

Kegiatan yang harus dilakukan dalam penelitian kualitatif pada tahap pra-lapangan adalah menyusun rancangan penelitian yang memuat latar belakang masalah dan alasan pelaksanan penelitian, studi pustaka, penentuan lapangan penelitian, penentuan jadwal penelitian, pemilihan alat penelitian, rancangan pengumpulan data, rancangan prosedur analisa data, rancangan perlengkapan yang diperlukan di lapangan, dan rancangan pengecekan kebenaran data.

Pemilihan lapangan penelitian didasarkan pada kondisi lapangan itu sendiri untuk dapat dilakukan penelitian sesuai dengan tema penelitian. Pertimbangan lain adalah kondisi geografis, keterbatasan waktu, biaya, dan tenaga.

Mengurus ijin penelitian hendaknya dilakukan dengan mengetahui terlebih dahulu siapa-siapa yang berwenang memberikan ijin. Pendekatan yang simpatik sangat perlu baik kepada pemberi ijin di jalur formal maupun informal.

Menjajaki lapangan penting artinya selain untuk mengetahui apakah daerah tersebut sesuai untuk penelitian yang ditentukan, juga untuk rnengetahui persiapan yang harus dilakukan peneliti. Secara rinci dapat dikemukakan bahwa penjajakan lapangan ini adalah untuk memahami pandangan hidup dan penyesuaian diri dengan keadaan lingkungan tempat tinggal.

Dalam memilih dan memanfaatkan informan, perlu ditentukan bahwa informan adalah orang-orang yang tahu tentang situasi dan kondisi daerah penelitian, jujur, terbuka, dan mau memberikan informasi yang benar.

Persiapan perlengkapan penelitian berkaitan dengan perijinan, perlengkapan alat tulis, alat perekam, jadwal waktu penelitian, obat-obatan dan perlengkapan lain untuk keperluan akomodasi.

  1. 2.      Tahap Pekerjaan Lapangan

Dalam kegiatan pada tahap pekerjaan lapangan, peneliti harus mudah memahami situasi dan kondisi lapangan penelitiannya. Penampilan fisik serta cara berperilaku hendaknya menyesuaikan dengan norma-norma, nilai-nilai, kebiasaan, dan adat-istiadat setempat. Agar dapat berperilaku demikian sebaiknya harus memahami betul budaya setempat.

Dalam pelaksanaan pengumpulan data, peneliti dapat menerapkan teknik pengamatan (observation), wawancara (interview), dengan menggunakan alat bantu seperti tape recorder, foto, slide, dan sebagainya.

Usahakan hubungan yang rapat dengan objek sampai penelitian berakhir. Apabila hubungan tersebut dapat tercipta, maka dapat diharapkan informasi yang diperoleh tidak mengalami hambatan.

  1. 3.      Tahap Analisa Data

Pada analisa data, peneliti harus mengerti terlebih dahulu tentang konsep dasar analisa data. Analisa data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.

Analisa data dalam penelitian kualitatif sudah dapat dilakukan semenjak data diperoleh di lapangan. Usahakan jangan sampai data tersebut sudah terkena bermacam-macam pengaruh, antara lain pikiran peneliti sehingga menjadi terpolusi. Apabila terlalu lama baru dianalisa maka data menjadi kadaluwarsa.

Dari analisa data dapat diperoleh tema dan rumusan hipotesa. Untuk menuju pada tema dan mendapatkan rumusan hipotesa, tentu saja harus berpatokan pada tujuan penelitian dan rumusan masalahnya.

  1. H.        Objektivitas, Validitas, Dan Reliabilitas
  2. 1.      Pengertian Konsep-konsep Terkait

Penelitian dinyatakan sebagai sebuah kegiatan mencari kembali data yang setelah diolah dan dianalisa dapat memberikan jawaban terhadap permasalahan yang dirumuskan. Sudah tentu jawaban yang dimaksudkan tersebut hendaknya dapat memberikan gambaran yang sebenarnya dari keadaan sasaran penelitian. Untuk itu penelitian harus memperhatikan sifat objektif dari kegiatan penelitiannya, yaitu suatu sifat yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

Untuk mencapai objektivitas itu, penelitian harus menggunakan perangkat yang tepat guna, yang dalam bahasa penelitian disebut sebagai alat yang bersifat valid. Maksudnya adalah alat yang tepat dan tajam di dalam mengukur sesuatu yang ditelitinya. Untuk penelitian yang memiliki alat ukur yang valid, maka proses pengambilan kesimpulan menjadi tidak sulit dilakukan, namun apabila tidak, maka masih diperlukan proses pengecekan mengenai seberapa besar hasil penelitian itu menunjukan keadaan yang sebenarnya dari sasaran penelitian.

Dalam kenyataannya, untuk mendapatkan alat ukur yang memiliki tingkat validitas yang sempurna, tidaklah mudah. Oleh karena itu dalam penelitian diperlukan juga adanya proses pengecekan melalui penggunaan konsep reliabilitas, untuk melihat berapa besar kebenaran yang ditemukan dalam penelitian itu, jika dibandingkan dengan kebenaran yang terjadi dalam sasaran penelitian.

  1. 2.      Peran Objektivitas, Validitas dan Reliabilitas Bagi Penelitian Kualitatif

Penelitian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mencari kebenaran. Untuk mendapatkan kebenaran tersebut diperlukan serangkaian langkah yang dapat menuntun peneliti untuk menghasilkan sesuatu yang tidak menyimpang dari keadaan yang sebenarnya dari sasaran penelitian. Serangkaian langkah tersebut antara lain meliputi langkah-langkah untuk mendapatkan objektivitas, validitas dan reliabilitas.

Untuk mendapatkan oyektivitas ini, para peneliti harus mampu menanggalkan subyektivisme, baik subyektivisme yang datang dari pihak peneliti, maupun subyektivisme yang datang dari sasaran penelitian. Agar objektivitas tersebut dapat diperoleh, maka para peneliti harus mampu menampilkan indikator atau alat ukur yang valid, dan sekaligus menggunakannnya. Dengan alat yang valid, yang tepat dan yang sesuai itu, maka peneliti akan terpandu ke arah perolehan hasil penelitian yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya, atau paling tidak mendekati keadaan yang sebenarnya. Untuk mengetahui seberapa besar suatu hasil penelitian dapat menunjukkan keadaan yang sebenarnya, peneliti perlu pula melakukan cara-cara mengukur tingkat kepercayaan atau apa yang biasa disebut dengan istilah reliabilitas.

Dari beberapa contoh di atas menjadi dapat diketahui bahwa peran objektivitas, validitas dan reliabilitas sangatlah besar bagi tindak lanjut dari suatu hasil penelitian. Andaikata hasil penelitian tertentu hanya untuk pengembangan ilmu pengetahuan pun, maka sifat yang objektif, valid dan reliabel, tetaplah sangat diperlukan keberadaannya. Artinya, dunia teoretik pun sangat pula memerlukan konsep konsep objektivitas, validitas dan reliabilitas.

  1. I.           Analisis Dan Interpretasi Data
  2. 1.      Pengertian Komponen Analisis dan Interpretasi Data

Analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang harus dilewati oleh seorang penelitian. Adapun urutannya terletak pada tahap setelah tahap pengumpulan data. Dalam arti sempit, analisis data di artikan sebagai kegiatan pengolahan data, yang terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi data.

Tabulasi data dinyatakan sebagai proses pemaduan atau penyatupaduan sejumlah data dan informasi yang diperoleh peneliti dari setiap sasaran penelitian, menjadi satu kesatuan daftar, sehingga data yang diperoleh menjadi mudah dibaca atau dianalisis. Rekapitulasi merupakan langkah penjumlahan dari setiap kelompok sasaran penelitian yang memiliki karakter yang sama, berdasar kriteria yang telah dirumuskan terlebih dahulu oleh peneliti.

Dalam proses pelaksanaannya, tahap pengolahan data tidak cukup hanya terdiri atas tabulasi dan rekapitulasi saja, akan tetapi mencakup banyak tahap. Di antaranya adalah tahap reduksi data, penyajian data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Lebih dari sekedar itu, pengolahan data, yang tidak lain merupakan tahap analisis dan interpretasi data mencakup langkah-langkah reduksi data, penyajian data, interpretasi data dan penarikan kesimpulan /verifikasi.

Reduksi data diartikan secara sempit sebagai proses pengurangan data, namun dalam arti yang lebih luas adalah proses penyempurnaan data, baik pengurangan terhadap data yang kurang perlu dan tidak relevan, maupun penambahan terhadap data yang dirasa masih kurang.

Penyajian data merupakan proses pengumpulan informasi yang disusun berdasar kategori atau pengelompokan-pengelompokan yang diperlukan.

Interpretasi data merupakan proses pemahaman makna dari serangkaian data yang telah tersaji, dalam wujud yang tidak sekedar melihat apa yang tersurat, namun lebih pada memahami atau menafsirkan mengenai apa yang tersirat di dalam data yang telah disajikan..

Penarikan kesimpulan/verifikasi merupakan proses perumusan makna dari hasil penelitian yang diungkapkan dengan kalimat yang singkat-padat dan mudah difahami, serta dilakukan dengan cara berulangkali melakukan peninjauan mengenai kebenaran dari penyimpulan itu, khususnya berkaitan dengan relevansi dan konsistensinya terhadap judul, tujuan dan perumusan masalah yang ada.

  1. 2.      Tahap dan Proses Analisis dan Interpretasi Data

Tahap analisis dan interpretasi data merupakan tahap yang pasti akan dilalui oleh para peneliti termasuk peneliti kualitatif. Dalam uraian pokok di atas telah dikemukakan bahwa tahap dan proses analisis dan interpretasi data, setidak-tidaknya terdiri atas tiga komponen penting yang meliputi (1) reduksi, (2) penyajian, dan (3) kesimpulan/ verifikasi.

Sedangkan tahap dan proses selengkapnya meliputi (1) Pengolahan data, yang terdiri dari kategorisasi dan reduksi data, (2) penyajian data, (3) interpretasi data dan (4) penarikan kesimpulan-kesimpulan/verifikasi. Tahap tahap di atas hendaknya dilakukan sedemikian rupa sehingga proses analisis dan Intepretastasi tersebut dapat menghasilkan suatu kesimpulan yang sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.

  1. J.           Penyusunan Rencana Penelitian
  2. Pengertian dan Komponen Rencana Penelitian

Penelitian apapun baik penelitian kualitatif maupun penelitian kuantitatif tidak akan luput dari suatu tahap yang disebut dengan istilah tahap persiapan. Tahap persiapan ini meliputi kegiatan penjajagan atau orientasi lapangan atau orientasi medan dan tahap penyusunan rencana penelitian serta instrumen penelitian.

Walaupun penelitian kualitatif lebih mendasarkan diri pada aktivitas di lapangan (sasaran penelitian) namun bukan berarti bahwa penyusunan rencana penelitian dapat ditinggalkan. Mengapa demikian karena bagaimanapun juga kegiatan penelitian itu harus bersifat terarah dan terfokus, termasuk juga penelitian kualitatif.

Penyusunan rencana penelitian dimaksudkan sebagai upaya menentukan arah, fokus, dan tujuan penelitian. Rencana penelitian sebagaimana dimaksudkan di sini seringkali tampil dalam berbagai ragam istilah, seperti rancangan penelitian, proposal penelitian, usul penelitian, project statement, project proposal, research design, dan lain-lain.

 

2. Fungsi Rencana Terhadap Jenis Penelitian Terpilih

Agar seluruh uraian kegiatan belajar 2, mudah dipahami, di bawah ini dibuatkan rangkuman sebagai berikut :

  1. Pengertian dan Isian Rencana Penelitian:

1)   Istilah perencanaan berasal dari kata rencana, serta berarti pembuatan rencana atau hasil merencanakan.

2)   Rencana atau rancangan (khususnya rencana atau rancangan penelitian) memuat tujuan dan cara-cara mencapainya.

3)   Menuju tujuan diperlukan pencegahan/penanggulangan hambatan dan pemeliharaan/ peningkatan dukungan agar setidak-tidaknya hasil pelaksanaan rencana mendekati tujuan rencananya.

4)   Konsekuensinya (c) terdapat sejumlah unsur yang harus dimuat ke dalam rencana penelitian yang disusun.

  1. Komponen Utama Rencana Penelitian:

1)      Unsur-unsur di atas merupakan langkah-langkah penelitian yang direncanakan, serta berkedudukan sebagai komponen rencana penelitian yang mencakup:

a)      komponen penyerta

b)      komponen utama

2)      Terdapat beberapa penulis yang mengkomposisikan rencana penelitian secara sempit, terdapat pula penulis yang mengkomponenisasikannya secara luas masing-masing dengan keunggulan dan kelemahannya.

  1. Beberapa nama serupa bagi rencana penelitian:

1)      Rencana peneltian terkadang disebut dengan rancangan penelitian. Kedua-duanya lebih lazim diterjemahkan dengan research desaign daripada research plan.

2)      Research desaign terkadang dianggap menjadi bagian dari usul proyek penelitian (project proposal, project statement, research proposal)

3)      Research design terkadang disamakan dengan research method (metode penelitian).

4)      Pegangan pokok penelitian (term of reference) sering pula disamakan dengan usul proyek penelitian atau rancangan penelitian.

Oleh karena itu diperlukan penjernihan, yang penting bagi penyusunan rencana penelitian pada umumnya, maupun bagi penyusunan rencana dan pelaksanaan penelitian dalam rangka kenaikan pangkat pada khususnya.

  1. Fungsi Rencana terhadap Penelitian Terpilih

Penelitian, khususnya penelitian lapangan survey, akan dapat mencapai tujuan bila didahului dengan perencanaan yang benar. Pengorbanan dalam pembuatan rencana penelitian ini akan ditukar dengan kepuasan, karena penelitian yang dilakukan berhasil dengan baik.

  1. Isyarat-isyarat dalam Penyusunan Rencana Penelitian
    Penyusunan rencana penelitian mengenal norma-norma tertentu yang perlu ditaati agar:

1)      kualitas ilmiahnya tercapai, khususnya sebagaimana tercermin dalam tujuan penelitian yang direncanakan.

2)      Harapan mendapat persetujuan dari sponsor atau instansi bersangkutan terpenuhi.

3)      Tidak terjadi pemborosan energi.

4)      Tidak terjadi kesalahan/penyalahgunaan anggaran

  1. K.         Penutup

Demikian makalah ringkas tentang metodologi penelitian kualitatif dan penerapannyya dalam penelitian, sekedar sebagai pengantar diskusi. Semoga bermanfaat dan dapat menjambantu sebagai acuan dalam penelitian.

  1. L.          Pustaka

Agus Salim (ed.), Teori dan Paradigma Penelitian Sosial, Yogyakarta, Tiara Wacana, 2001.

Guba, Egon G. & Lincoln, Yvonna S. (1981). Effective Evaluation. San Fransisco: Jossey- Bass Publishers

Kirk, J. & Miller, M.I. (1986). Reability and Validity in Qualitative Research, Vol.1, Beverly Hills: Sage Publication

Lexy Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, cet. 13, bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 2000

Lincoln, Yvonna S. & Guba, Egon G. (1985). Naturalistic Inquiry. California, Beverly Hills: Sage Publications

Noeng Muhajir, Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi IV, Jogjakarta, Penerbit Rake Sarasin, 2000.

Sarasin· Noeng Muhadjir. (2001). Filsafat Ilmu, Positivisme, Post Positivisme dan Post Modernisme. Edisi II. Yogyakarta

Sayekti P.S. (2001). Metodologi Penelitian Kualitatif (Diktat). Program Pascasarjana Universitas Negeri Yogyakarta.

 

AKSIOLOGI ILMU PENGETAHUAN

1.       Pendahuluan

Filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam manusia, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia setelah mencapai pengetahuan.

Perkembangan yang terjadi dalam pengetahuan ternyata melahirkan sebuah polemik baru karena kebebasan pengetahuan terhadap nilai atau yang bisa kita sebut sebagai netralitas pengetahuan (value free). Sebaliknya ada jenis pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai. Sekarang mana yang lebih unggul antara netralitas pengetahuan dan pengetahuan yang didasarkan pada keterikatan nilai?

Bagian dari filsafat pengetahuan membicarakan tentang ontologis, epistomologis dan aksiologi. Dalam kajian aksiologi ilmu membicarakan untuk apa dan untuk siapa. Aksiologi adalah ilmu yang membicarakan tentang tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi Aksiologi merupakan ilmu yang mempelajari hakikat dan manfaat yang sebenarnya dari pengetahuan, dan sebenarnya ilmu pengetahuan itu tidak ada yang sia-sia kalau kita bisa memanfaatkannya dan tentunya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya dan di jalan yang baik pula. Karena akhir-akhir ini banyak sekali yang mempunyai ilmu pengetahuan yang lebih itu dimanfaatkan di jalan yang tidak benar.

Pembahasan aksiologi menyangkut masalah nilai kegunaan ilmu. Ilmu tidak bebas nilai. Artinya pada tahap-tahap tertentu kadang ilmu harus disesuaikan dengan nilai-nilai budaya dan moral suatu masyarakat; sehingga nilai kegunaan ilmu tersebut dapat dirasakan oleh masyarakat dalam usahanya meningkatkan kesejahteraan bersama, bukan sebaliknya malahan menimbulkan bencana.

Pamor Aksiologi sebagai salah satu bidang kajian filsafat ternyata belum mendapat tempat yang layak bagi para ilmuan dan filsuf ilmu, khususnya dalam kajian filsafat Ilmu. Selama ini, yang sering mendapat perhatian adalah aspek Ontologis dan Epistemologis ilmu.

 2.       Pengertian Aksiologi

Aksiologi adalah istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu; axios yang berarti sesuai atau wajar. Sedangkan logos yang berarti ilmu. Aksiologi dipahami sebagai teori nilai.

Menurut Suriasumantri aksiologi adalah teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut kamus Bahasa Indonesia aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai khususnya etika.

Menurut Bramel, aksiologi terbagi tiga bagian, yaitu :

  1. Moral Conduct, yaitu tindakan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusus, yaitu etika
  2. Estetic Expression, yaitu ekspresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan
  3. Sosio-political life, yaitu kehidupan sosial politik, yang akan melahirkan filsafat sosial politik.

Dari definisi-definisi aksiologi di atas, terlihat dengan jelas bahwa permasalahan utama adalah mengenai nilai. Nilai yang dimaksud adalah sesuatu yang dimiliki manusia untuk melakukan berbagai pertimbangan tentang apa yang dinilai. Teori tentang nilai yang dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Etika menilai perbuatan manusia, maka lebih tepat kalau dikatakan bahwa objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan manusia, dan dapat dikatakan pula bahwa etika mempelajari tingkah laku manusia ditinjau dari segi baik dan tidak baik di dalam suatu kondisi yang normative, yaitu suatu kondisi yang melibatkan norma-norma. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan dan fenomena di sekelilingnya.

 3.       Kaitan Aksiologi Dengan Filsafat Ilmu

Nilai itu bersifat objektif, tapi kadang-kadang bersifat subjektif. Dikatakan objektif jika nilai-nilai tidak tergantung pada subjek atau kesadaran yang menilai. Tolak ukur suatu gagasan berada pada objeknya, bukan pada subjek yang melakukan penilaian. Kebenaran tidak tergantung pada kebenaran pada pendapat individu melainkan pada objektivitas fakta. Sebaliknya, nilai menjadi subjektif, apabila subjek berperan dalam memberi penilaian; kesadaran manusia menjadi tolak ukur penilaian. Dengan demikian nilai subjektif selalu memperhatikan berbagai pandangan yang dimiliki akal budi manusia, seperti perasaan yang akan mengasah kepada suka atau tidak suka, senang atau tidak senang.

Bagaimana dengan objektivitas ilmu? Sudah menjadi ketentuan umum dan diterima oleh berbagai kalangan bahwa ilmu harus bersifat objektif. Salah satu faktor yang membedakan antara peryataan ilmiah dengan anggapan umum ialah terletak pada objektifitasnya. Seorang ilmuan harus melihat realitas empiris dengan mengesampingkan kesadaran yang bersifat idiologis, agama dan budaya. Seorang ilmuan haruslah bebas dalam menentukan topik penelitiannya, bebas melakukan eksperimen-eksperimen. Ketika seorang ilmuan bekerja dia hanya tertuju kepada proses kerja ilmiah dan tujuannya agar penelitiannya berhasil dengan baik. Nilai objektif hanya menjadi tujuan utamanya, dia tidak mau terikat pada nilai subjektif.

4.       Nilai

a.       Karakteristik Nilai

1)      Bersifat abstrak; merupakan kualitas

2)      Inheren pada objek

3)      Bipolaritas yaitu baik/buruk, indah/jelek, benar/salah.

4)      Bersifat hirarkhis; Nilai kesenangan, nilai vital, nilai kerohanian, nilai kekudusan.

Menurut Ensyclopedia of Philosophy : aksiologi disamakan dengan value and valuation yang terdiri 3 bentuk:

1)      Nilai (baik, menarik dan bagus) lebih luas (kewajiban, kebenaran dan kesucian)

2)      Nilai sebagai kata benda konkret

3)      Nilai sebagai kata kerja (menilai, memberi nilai, dinilai)

 Berikut adalah beberapa contoh dari hakikat nilai dilihat dari anggapan atau pendapatnya:

1)      Nilai berasal dari kehendak, Voluntarisme.

2)      Nilai berasal dari kesenangan, Hedonisme

3)      Nilai berasal dari kepentingan.

4)      Nilai berasal dari hal yang lebih disukai (preference).

5)      Nilai berasal dari kehendak rasio murni.

b.      Kriteria Nilai

Standar pengujian nilai dipengaruhi aspek psikologis dan logis.

1)      Kaum hedonist menemukan standar nilai dalam kuantitas kesenangan yang dijabarkan oleh individu atau masyarakat.

2)      Kaum idealis mengakui sistem objektif norma rasional sebagai kriteria.

3)      Kaum naturalis menemukan ketahanan biologis sebagai tolok ukur.

5.       Penilaian dalam Aksiologi

Dalam aksiologi, ada dua penilain yang umum digunakan, yaitu etika dan estetika. Etika adalah cabang filsafat yang membahas secara kritis dan sistematis masalah-masalah moral. Kajian etika lebih fokus pada prilaku, norma dan adat istiadat manusia. Etika merupakan salah-satu cabang filsafat tertua. Setidaknya ia telah menjadi pembahasan menarik sejak masa Sokrates dan para kaum shopis. Di situ dipersoalkan mengenai masalah kebaikan, keutamaan, keadilan dan sebagianya. Etika sendiri dalam buku Etika Dasar yang ditulis oleh Franz Magnis Suseno diartikan sebagai pemikiran kritis, sistematis dan mendasar tentang ajaran-ajaran dan pandangan-pandangan moral. Isi dari pandangan-pandangan moral ini sebagaimana telah dijelaskan di atas adalah norma-norma, adat, wejangan dan adat istiadat manusia. Berbeda dengan norma itu sendiri, etika tidak menghasilkan suatu kebaikan atau perintah dan larangan, melainkan sebuah pemikiran yang kritis dan mendasar. Tujuan dari etika adalah agar manusia mengetahui dan mampu mempertanggungjawabkan apa yang ia lakukan.

Didalam etika, nilai kebaikan dari tingkah laku manusia menjadi sentral persoalan. Maksudnya adalah tingkah laku yang penuh dengan tanggung jawab, baik tanggung jawab terhadap diri sendiri, masyarakat, alam maupun terhadap tuhan sebagai sang pencipta.

Dalam perkembangan sejarah etika ada empat teori etika sebagai sistem filsafat moral yaitu, hedonisme, eudemonisme, utiliterisme dan deontologi. Hedoisme adalah padangan moral yang menyamakan baik menurut pandangan moral dengan kesenangan. Eudemonisme menegaskan setiap kegiatan manusia mengejar tujuan. Dan adapun tujuan dari manusia itu sendiri adalah kebahagiaan.

Selanjutnya utilitarisme, yang berpendapat bahwa tujuan hukum adalah memajukan kepentingan para warga negara dan bukan memaksakan perintah-perintah ilahi atau melindungi apa yang disebut hak-hak kodrati. Selanjutnya deontologi, adalah pemikiran tentang moral yang diciptakan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, yang bisa disebut baik dalam arti sesungguhnya hanyalah kehendak baik. Semua hal lain disebut baik secara terbatas atau dengan syarat. Misalnya kekayaan manusia apabila digunakan dengan baik oleh kehendak manusia.

Sementara itu, cabang lain dari aksiologi, yakni estetika. Estetika merupakan bidang studi manusia yang mempersoalkan tentang nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang tertata secara tertib dan harmonis dalam satu kesatuan hubungan yang utuh menyeluruh. Maksudnya adalah suatu objek yang indah bukan semata-mata bersifat selaras serta berpola baik melainkan harus juga mempunyai kepribadian.

Sebenarnya keindahan bukanlah merupakan suatu kualitas objek, melainkan sesuatu yang senantiasa bersangkutan dengan perasaan. Misalnya kita bangun pagi, matahari memancarkan sinarnya kita merasa sehat dan secara umum kita merasaakan kenikmatan. Meskipun sesungguhnya pagi itu sendiri tidak indah tetapi kita mengalaminya dengan perasaan nikmat. Dalam hal ini orang cenderung mengalihkan perasaan tadi menjadi sifat objek itu, artinya memandang keindahan sebagai sifat objek yang kita serap. Padahal sebenarnya  tetap merupakan perasaan.

6.       Aksiologi Filsafat Ilmu

Untuk mengetahui kegunaan filsafat ilmu atau untuk apa filsafat ilmu itu digunakan, kita dapat memulainya dengan melihat filsafat sebagai tiga hal, yaitu:

  • Filsafat sebagai kumpulan teori digunakan memahami dan mereaksi dunia pemikiran.

Jika seseorang hendak ikut membentuk dunia atau ikut mendukung suatu ide yang membentuk suatu dunia, atau hendak menentang suatu sistem kebudayaan atau sistem ekonomi, atau sistem politik, maka sebaiknya mempelajari teori-teori filsafatnya. Inilah kegunaan mempelajari teori-teori filsafat ilmu.

  • Filsafat sebagai pandangan hidup.

Filsafat dalam posisi yang kedua ini semua teori ajarannya diterima kebenarannya dan dilaksanakan dalam kehidupan. Filsafat ilmu sebagai pandangan hidup gunanya ialah untuk petunjuk dalam menjalani kehidupan.

  • Filsafat sebagai metodologi dalam memecahkan masalah.

Dalam hidup ini kita menghadapi banyak masalah. Kehidupan akan dijalani lebih enak bila masalah masalah itu dapat diselesaikan. Ada banyak cara menyelesaikan masalah, mulai dari cara yang sederhana sampai yang paling rumit. Bila cara yang digunakan amat sederhana maka biasanya masalah tidak terselesaikan secara tuntas.penyelesaian yang detail itu biasanya dapat mengungkap semua masalah yang berkembang dalam kehidupan manusia.

7.       Tanggung Jawab Sosial Ilmuan

Proses ilmu pengetahuan menjadi teknologi yang dimanfaatkan oleh masyarakat tidak terlepas dari ilmuwan. Seorang ilmuwan akan dihadapkan pada kepentingan-kepentingan pribadi ataukah kepentingan masyarakat akan membawa pada persoalan etika keilmuwan serta masalah bebas nilai. Fungsi ilmuwan tidak berhenti pada penelaah dan keilmuwan secara individual namun juga ikut bertanggung jawab agar produk keilmuwannya sampai dan dapat dimanfaatkan masyarakat.

Ilmuwan mempunyai kewajiban sosial untuk menyampaikan kepada masyarakat dalam bahasa yang mudah dicerna. Tanggung jawab sosial seorang ilmuwan adalah memberikan perspektif yang benar, untung dan rugi, baik dan buruknya, sehingga penyelesaian yang objektif dapat dimungkinkan.

Dengan kemampuan pengetahuannya seorang ilmuwan harus dapat mempengaruhi opini masyarakat terhadap masalah-masalah yang seyogyanya mereka sadari. Dalam hal ini, berbeda dengan menghadapi masyarakat, ilmuwan yang elitis dan esoteric, dia harus berbicara dengan bahasa yang dapat dicerna oleh orang awam. Untuk itu ilmuwan bukan saja mengandalkan pengetahuannya dan daya analisisnya namun juga integritas kepribadiannya.

Seorang ilmuwan pada hakikatnya adalah manusia yang biasa berpikir dengan teratur dan teliti. Seorang ilmuwan tidak menolak dan menerima sesuatu secara begitu saja tanpa pemikiran yang cermat. Disinilah kelebihan seorang ilmuwan dibandingkan dengan cara berpikir orang awam. Kelebihan seorang ilmuwan dalam berpikir secara teratur dan cermat. Inilah yang menyebabkan dia mempunyai tanggung jawab sosial. Dia mesti berbicara kepada masyarakat sekiranya ia mengetahui bahwa berpikir mereka keliru, dan apa yang membikin mereka keliru, dan yang lebih penting lagi harga apa yang harus dibayar untuk kekeliruan itu.

Dibidang etika tanggung jawab sosial seorang ilmuwan bukan lagi memberi informasi namun memberi contoh. Dia harus tampil di depan bagaimana caranya bersifat objektif, terbuka, menerima kritikan, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar dan berani mengakui kesalahan. Tugas seorang ilmuwan harus menjelaskan hasil penelitiannya sejernih mungkin atas dasar rasionalitas dan metodologis yang tepat.

Seorang ilmuwan secara moral tidak akan membiarkan hasil penelitian atau penemuannya dipergunakan untuk menindas bangsa lain meskipun yang mempergunakan bangsanya sendiri. Sejarah telah mencatat para ilmuwan bangkti dan bersikap terhadap politik pemerintahnya yang menurut anggapan mereka melanggar asas-asas kemanusiaan.

Pengetahuan merupakan kekuasaan, kekuasaan yang dapat dipakau untuk kemasalahan manusia atau sebaliknya dapat pula disalah gunakan. Untuk itulah tanggung jawab ilmuwan haruslah ”dipupuk” dan berada pada tempat yang tepat, tanggung jawab akademis dan tanggung jawab moral.

8.       Penutup

Jika Ilmu Pengetahuan Tertentu dikaji dari ketiga aspek (ontologi, epistemologi dan aksiologi), maka perlu mempelajari esensi atau hakikat yaitu inti atau hal yang pokok atau intisari atau dasar atau kenyataan yang benar dari ilmu tersebut.

Contohnya :

Membangun Filsafat Teknologi Pendidikan perlu menelusuri dari aspek :

Ontologi          – eksistensi (keberadaan) dan essensi (keberartian) ilmu-lmu Teknologi Pendidikan.

Epistemologi    – metode yang digunakan untuk membuktikan kebenaran

 ilmu-ilmu Teknologi Pendidikan.

Aksiologi       –     manfaat dari ilmu Teknologi Pendidikan.

Ilmu menghasilkan teknologi yang akan diterapkan pada masyarakat. Teknologi dalam penerapannya dapat menjadi berkah dan penyelamat bagi manusia, tetapi juga bisa menjadi bencana bagi manusia. Disinilah pemanfaatan pengetahuan dan teknologi harus diperhatikan sebaik-baiknya. Dalam filsafat penerapan teknologi meninjaunya dari segi aksiologi keilmuwan.

Aksiologi adalah kegunaan ilmu pengetahuan bagi kehidupan manusia, kajian tentang nilai-nilai. Seorang ilmuwan mempunyai tanggung jawab agar produk keilmuwan sampai dan dapat dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat.

 9.       Pustaka

Ahmad Tafsir, filsafat ilmu, (Bandung: Rosdakarya),  2006

Baktiar, Amsal,  Filsafat Ilmu. (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 2004

 Masri Elmasyar Bidin , MA, dkk, Integrasi Ilmu Agama dan Ilmu Hukum, (Jakarta: UIN Jakarta Press)

Salam, Burhanudin.. Logika Materiil Filsafat Ilmu Pengetahuan, (Jakarta: Rineka Cipta), 1997

Susriasumantri, Jujun S.. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer.(Jakarta: Pustaka Sinar Harapan) 1987

TIM, Kamus Besar Bahasa Indonesia,  (Jakarta: Balai Pustaka), 1995

 

ULASAN ARTIKEL; Linking Technology, Learning, and School Change

A.      Inti

Pemahaman konsep teknologi pendidikan sangat mempengaruhi penerapan teknologi pendidikan dalam pembelajaran. Guru atau pendidik sering menggunakan teknologi hanya sebagai alat (tools) yang digunakan hanya mengganti media yang ada sebelumnya. Hal ini sangat jauh dari konsep teknologi pendidikan yang tidak hanya sebagai alat tetapi merupakan proses dalam mengatasi masalah belajar secara tersistem dan menyistem. 

Pada artikel di atas dijelaskan bahwa penggunaan komputer dan koneksi internet sudah terbiasa ada, akan tetapi adanya komputer dan internet tersebut belum memberikan dampak yang signifikan dalam proses pembelajaran.  Seharusnya dengan keuntungan teknologi maka praktek pembelajaran menjadi berubah menjadi lebih efektif, efisien, mempermudah proses pembelajaran serta memperbanyak sumber belajar.

Dua hal yang dibahas dalam artikel diatas yaitu:

  1. Ketika sekolah mengintegrasikan teknologi dalam proses pembelajaran secara menyeluruh, apa yang akan terjadi di kelas dan bagaimana siswa belajar lebih mendalam?
  2. Bagaimana sekolah atau lembaga pendidikan mendorong guru-gurunya untuk mengintegrasikan teknologi dalam praktek belajar dan mengajar?

 

Untuk mendapatkan jawabannya, dimulai dengan memperhatikan bagaimana peningkatan proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru dengan mengintegrasikan teknologi dan adanya peran lembaga pendidikan dan  sekolah  memberi dukungan pada perubahan ini.

Dari artikel di atas dapat dilihat bagaimana proses belajar tentang ekologi dengan mengintegrasikan teknologi secara menyeluruh yaitu dengan proses:

Inquiry-Based Teaching and Learning

–          Menetapkan tujuan yaitu The ecology unit is integral to his goal of helping students appreciate the local environment and learn the interrelations of species in a given area, along with some basic plant and animal taxonomy.

–          Menetapkan kurikulum

–          Membuat susunan tugas dan langkah penelitian dan membagi kelompok. Masing-masing kelompok melakukan penelitian dengan berusaha mencari dan mengidentifikasi sendiri sesuai dengan apa yang ditugaskan. (learn from studying their local site and how to use available equipment)

–          Mendiskusikan penemuan-penemuan di lapangan

–          Menggunakan komputer  untuk mencari referensi secara online dan membuat simulasi.

Dengan metode ini ternyata menjadikan belajar lebih menyenangkan dan memotifasi siswa untuk mencari sumber sendiri  dari berbagai sumber.

Technology Support Inquiry-Based Teaching and Learning

–          Karena keterbatasan data, maka untuk memperluas dan memperdalam pemahaman maka digunakan internet (using internet resources). (student can generate their own questions around each of these investigations ad analyze data from the website to pursue their answers).

–          Siswa mampu membandingkan data dan hasil penelitian dengan dunia luar, mencari tambahan data (with internet, teacher and students have access to a richer set of resources than ever before)

Dari metode diatas dapat dilihat bagaimana perubahan proses belajar di sekolah dan pertanyaan siswa menjadi semakin meluas. Peran Guru adalah meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan aneka sumber dan membantu siswa dalam menyusun penelitian dan mejadi mentor dalam diskusi di kelas.

Pengembangan Profesi

Untuk mengembangkan profesi pendidik maka perlu adanya pemahaman seorang guru tentang bagaimana penggunaan teknologi secara efektif. Adanya kolaborasi antara guru dan teknolog pendidikan menjadi sangat penting dalam pengintegrasian penggunaan teknologi dalam pendidikan.

Ketika sekolah atau lembaga pendidikan akan melakukan peningkatan profesionalisme maka harus difokuskan kurikulum guru itu sendiri melalui pelatihan, co-planing (perencanaan bersama) dan co-teaching sehingga memberikan dampak yang baik. Teknologi menjadi bagian integral dalam seluruh aktifitas di kelas dan kemampuan komputer (computational tool) dan sumber informasi bagi guru dan siswa.

Perubahan Sistemik

Dalam melakukan perubahan terhadap guru dan siswa maka yang diperlukan adalah mengubah asumsi tentang teknologi: untuk siapa  dan bagaimana bisa digunakan. Guru dan para siswa, lembaga pendidikan dan sekolah harus memandang  teknologi sebagai integral bagian integral dalam proses pembelajaran. Hasilnya adalah secara menyeluruh mengintegrasikan penggunaan teknologi pada setiap kelas.

B.        Kesimpulan

Penerapan teknologi harus secara integral, menyeluruh dan tersistem dalam proses pendidikan. Di Indonesia saat ini juga memerlukan:

–          Sering teknologi digunakan secara parsial sehingga hanya merupakan sebuah alat/tools saja  maka perlu upaya pemahaman pendidik dan lembaga pendidikan dalam melihat teknologi pendidikan secara menyeluruh.

–          Sekolah dan lembaga pendidikan berupaya mendorong penerapan teknologi pendidikan secara tersistem.

–          Peningkatan profesionalisme guru melalui pelatihan, co-planing (perencanaan bersama) dan co-teaching sehingga memberikan dampak yang baik.

–          The creation of the role of educational technologist, the use of systemic perspectives, and the shift to embedded professional development are key strategies to link technology to substantive changes in teaching and learning. These strategies for change are important for districts and schools to consider as they work to get optimum value from their increasingly large investments in technology.

GERAK VISUAL DAN AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN

 

A.      Pendahuluan

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna.

Menurut Carl I. Hovland, komunikasi adalah : “proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behaviour of other individuals)”.[1]

Sedangkan menurut Harold Lasswell komunikasi adalah “proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu”[2]

Untuk itu ada lima unsur yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Komunikator (communicator, source, sender)
  2. Pesan (message)
  3. Media (channel, media)
  4. Komunikan (communicant, communicatee, receiver, recepient)
  5. Efek (effect, impact, influence)

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).[3] Komunikasi akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari; sebaliknya komunikasi akan gagal jika sewaktu akan menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol. Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya gambaran dan kesadaran yang terdapat didalam benak komunikator dapat dimengerti, diterima dan dilakukan oleh komunikan.

Menurut Purwanto pada dasarnya ada dua bentuk komunikasi yang lazim digunakan dalam dunia bisnis dan nonbisnis yaitu komunikasi verbal dan non verbal.[4] Masing-masing komunikasi tersebut sebagai berikut:

  1. Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang disampaikan kepada pihak lain melalui tulisan (written) dan lisan (oral).

  1. Komunikasi Nonverbal

Menurut teori antropologi, sebelum manusia menggunakan kata-kata, mereka terlebih dulu mengenal bahasa isyarat (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi. Yang termasuk komunikasi nonverbal, antara lain bahasa isyarat, simbol, sandi, warna, ekspresi wajah, dan lainnya. Komunikasi nonverbal penting artinya bagi pengirim dan penerima pesan, karena sifatnya yang efisien. Suatu pesan nonverbal dapat disampaikan tanpa harus berpikir panjang, dan pihak audience juga dapat menangkap artinya dengan cepat.

Jadi Komunikasi adalah suatu proses pemberian, penyampaian atau pertukaran gagasan, pengetahuan yang dapat dilakukan melalui percakapan, tulisan atau tanda-tanda.[5] Dalam penyampaian ide atau gagasan ini digunakanlah teknik-teknik komunikasi yang dibagi dalam dua jenis yaitu teknik verbal dan teknik non verbal (Visual dan audiovisual).

Dalam teori psikologi komunikasi penyampaian pembelajaran merupakan salah satu penyampaian informasi untuk mempengaruhi perilaku manusia. Agar penyampaian pembelajaran terarah dan mampu mengubah perilaku yang belajar serta memperbaiki cara-cara belajar siswa, maka diperlukan penyampaian pembelajaran yang efektif. Ciri penyampaian pembelajaran yang efektif diwarnai oleh guru jelas memaparkan ide-idenya, pesan yang disampaikan tidak menimbulkan makna yang ambivalen, menggunakan media atau saluran yang baik serta siswa atau penerima pesan dapat mengikuti dengan baik.

Bertz mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok, yaitu : suara, visual dan gerak. Visual dibedakan menjadi tiga yaitu garis (line graphic) dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Bretz juga membedakan antara media siar (telecommunication ) dan media rekam ( recording )sehingga terdapat 8 klasifikasi media, yaitu :

  • Media audiovisual gerak
  • Media audiovisual diam
  • Media audio semi-gerak
  • Media visual gerak
  • Media visual diam
  • Media semi-gerak
  • Media audio
  • Media cetak

 

Makalah ini terfokus pada gerak visual dan audio visual yang digunakan dalam komunikasi serta pembelajaran. Gerak visual dan audio visual adalah salah satu bentuk komunikasi non verbal dan merupakan  pengembangan dari komunikasi visual.

Sepanjang sejarah, manusia menggunakan gambar, lukisan  di gua, ikon, piktograf untuk mengekspresikan pikiran mereka. Piktograf (gambar yang mewakili ide, seperti pada tulisan primitive) dan hieroglif merupakan bentuk paling kuno bahasa visual. Orang Sumerian pada 4.000 SM menggunakan lebih dari 2.000 piktograf dalam tulisan mereka.

Menurut- David Hyerle, Visual Tools for Constructing Knowledge; “Penggunaan alat visual menimbulkan pergeseran dalam dinamika ruang kelas dari pembelajaran pasif kepembelajaran aktif dan interaktif yang dapat dilihat”. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dengan menggunakan alat visual sehingga diharapkan akan diperoleh perubahan perilaku dalam pemahaman terhadap apa yang dia pelajari selama ini.

B.      Media Komunikasi Gerak Visual

Gerak Visual adalah visual yang mempunyai sekuens dengan rangkaian yang memperlihatkan kejadian atau keadaan, yang mana rangkaian ini memiliki kesan gerak. Gerak Visual dapat berupa film, video. Selain itu Gerak visual juga dapat mencakup efek transisi dari sebuah program visual, misal fade in, fade out, panning, dan sebagainya.

C.      Perubahan dari gambar diam ke gambar gerak

Gambar sebagai bentuk dari tanda telah digunakan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu untuk menjelaskan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya, dan makna ialah hubungan antara suatu obyek atai idea dan suatu tanda. Tanda pada dasarnya akan mengisyaratkan suatu makna yang hanya dapat dipahami oleh manusia yang mengguanakannya. Bagaimana manusia menangkap sebuah makna tergantung pada bagaimana manusia mengasosiasikan objek atau idea dengan tanda[6].

Manusia sejak dulu mencoba untuk membuat gambar yang dihasilkan terlihat lebih hidup, di Mesir, ada gambar para pegulat sedang bergumul yang susunannya berurutan pada dinding. Para arkeolog memperkirakan dekorasi di dinding itu dibuat oleh orang-orang Mesir kuno pada tahun 2000 sebelum Masehi. Sementara di Jepang, para arkeolog menemukan gulungan lukisan kuno yang memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, yang diperkirakan dibuat pada masa Kerajaan Heian, yakni sekitar tahun 794-1192[7].

Gambar gerak (yang kini lebih populer dengan istilah animasi), sebenarnya tidak akan terwujud tanpa didasari pemahaman mengenai prinsip fundamental kerja mata manusia atau dikenal dengan nama The Persistance of Vision. Seperti ditunjukan pada karya seorang Prancis Paul Roget (1828), penemu Thaumatrope. Sebuah alat berbentuk kepingan yang dikaitkan dengan tali pegas diantara kedua sisinya. Kepingan itu memiliki dua gambar pada sisinya. Satu sisi bergambar burung, satu sisi lainnya bergambar sangkar burung. Ketika kepingan berputar maka burung seolah masuk ke dalam sangkarnya. Proses ini ditangkap oleh mata manusia dalam satu waktu, sehingga mengekspose gambar tersebut menjadi gerak.

Dua penemuan berikutnya semakin menolong mata manusia. Phenakistoscope, ditemukan oleh Joseph Plateu (1826), merupakan kepingan kartu berbentuk lingkaran dengan sekelilinganya di penuhi lubang-lubang dan gambar berbentuk obyek tertentu. Mata akan melihat gambar tersebut melalui cermin dan pegas membuatnya berputar sehingga satu serial gambar terlihat secara progresif menjadi gambar yang bergerak kontinyu. Teknik yang sama di tampilkan pada alat bernama Zeotrope, ditemukan oleh Pierre Desvignes (1860), berupa selembar kertas bergambar yang dimasukan pada sebuah tabung.

Pengembangan kamera gerak dan projector oleh Thomas Alfa Edison serta para penemu lainnya semakin memperjelas praktika dalam membuat animasi. Animasi akhirnya menjadi suatu hal yang lumrah walaupun masih menjadi “barang” mahal pada waktu itu. Bahkan Stuart Blackton, diberitakan telah membuat membuat film animasi pendek tahun 1906 dengan judul “Humourous Phases of Funny Faces, dimana prosesnya dilakukan dengan cara menggambar kartun diatas papan tulis, lalu difoto, dihapus untuk diganti modus geraknya dan di foto lagi secara berulang-ulang. Inilah film animasi pertama yang menggunakan “stop-motion” yang dihadirkan di dunia.

Sulitnya membuat produksi animasi serta tidak dapat menjelaskan gambar secara riil membuat animasi ditinggalkan pada sekitar tahun 1900-an. Perkembangan gambar gerak kemudian beralih ke penggunaan serangkaian foto yang digerakkan dengan alat. film (gambar bergerak) dibuat dengan meletakkan serangkaian foto pada suatu alat dan kemudian alat tersebut diputar agar rangkaian foto tersebut terlihat bergerak.

Pendekatan film yang paling sesuai dengan film yang kita kenal saat ini dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana “apakah kaki seekor kuda pernah terangkat semua ke udara saat sedang berlari?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut Leland stanford mensponsori Eadweard muybridge untuk membuat observasi pada seekor kuda bernama “Sallie gardner” dengan menggunakan serangkaian kamera stereoskopik yang disusun di jalur pacu kuda. Observasi ini mengawali serangkaian pembuatan gambar bergerak (motion picture) dan mulai digunakan film jenis celluloid dalam pembuatan gambar bergerak dan terus berevolusi menuju film (cinema) yang kita kenal saat ini walaupun film tersebut masih bisu (hanya gambar).[8]

Wikipedia menjelaskan bahwa dalam era film bisu, menyatukan gambar dengan suara secara sinkron merupakan hal tidak mungkin bagi penemu dan produsen, karena tidak ada metode praktis yang dirancang hingga tahun 1923. Jadi, untuk tiga puluh tahun pertama sejarah mereka, film itu diam, walaupun terkadang didampingi dengan musisi hidup (live music), serta penambahan efek suara dan bahkan komentar yang diucapkan oleh pemain sandiwara atau operator proyektor.

Lagu ilustrasi (Illustrated songs) adalah sebuah pengecualian, tren ini dimulai pada 1894 di rumah vaudeville dan bertahan hingga akhir akhir 1930-an dalam film bioskop. Hal ini merupakan pelopor kepada video musik, rekaman live atau rekaman suara dipasangkan dengan hand-colored glass slides projected through stereopticons dan perangkat sejenis. Dengan cara ini, narasi lagu diilustrasikan melalui serangkaian slide yang berubah bersamaan dengan perubahan narasi. Tujuan utama dari lagu ilustrasi adalah untuk mendorong penjualan lembaran musik, dan mereka sangat sukses dengan penjualan mencapai ke dalam jutaan copi untuk satu lagu. Kemudian, dengan lahirnya film, lagu ilustrasi digunakan sebagai materi pengisi film sebelum dan selama film berlangsung.[9]

D.       Media Gerak Visual dalam Pembelajaran

Gambar gerak (GG) sebagai media yang dimuati pesan pembelajaran dapat dianggap sebagai media yang strategis digunakan, mengingat media ini sangat praktis, dapat menimbulkan keingintahuan seseorang, mudah dioperasikan dimana-mana dengan bantuan listrik.

Pijakan teori penggunaan gambar gerak bertolak dari teori pengalaman Edgar Dale, dalam buku Arsyad dikatakan bahwa menurut Dale pengetahuan seseorang dimulai dari pengalaman langsung (kongkrit), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang, kemudian mulai meniru sampai pada lambang verbal abstrak. Semakin keatas kerucut pengalaman itu semakin abstrak materinya dan semakin diperlukan media penyampaian berupa gambar gerak.[10]

 

E.       Komunikasi Audio Visual

Apa sih, komunikasi audiovisual itu?? Komunikasi audio visual adalah proses penyampaian pesan atau informasi dari sumber kapada satu penerima atau lebih dengan cara memvisualisasikan sekaligus memperdengarkan isi pesan atau informasi kepada penerima dengan melalui media yang menunjangnya. Media yang menunjangnya itu adalah media elektronik.

Media berarti wadah atau sarana. Dalam bidang komunikasi, istilah media yang sering kita sebut sebenarnya adalah penyebutan singkat dari media komunikasi. Media komunikasi sangat berperan dalam mempengaruhi perubahan masyarakat. Contohnya seperti televisi, VCD player, DVD player, computer dan lain-lain yang bisa digunakan untuk memvisualisasikan sekaligus memperdengarkan isi pesan dan informasi tersebut. Bentuk aplikasinya dari komunikasi audio visual itu bisa berbentuk film yang bersifat entertain maupun informatif dan iklan seperti yang kita sering lihat di televisi.

Karakteristik media ini adalah memiliki unsur suara dan unsur gambar. Jenis mediaini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua yaitu media audio dan visual.

Penyebutan audio-visual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio-visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Produk audio-visual dapat menjadi media dokumentasi dan dapat juga menjadi media komunikasi. Sebagai media dokumentasi tujuan yang lebih utama adalah mendapatkan fakta dari suatu peristiwa. Sedangkan sebagai media komunikasi, sebuah produk audio-visual melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi. Karena melibatkan banyak elemen media, maka produk audio-visual yang diperuntukkan sebagai media komunikasi kini sering disebut sebagai multimedia.

1.        Audio

Media Audio berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif baik verbal maupun non verbal. Seperti radio. Alat perekam pita maknetik, piringan hitam dan laboratorium bahasa.

Materi audio terdiri dari narasi, illustrasi musik, dan sound effect[11].

Narasi

Narasi adalah naskah yang tersusun sesuai aturan baku yang dbacakan oleh narator. Narasi yang baik memiliki kesamaan dengan sebuah pidato, runut dan teratur penyampaiannya, naun bedannya narasi sudah direkam terlebh dahulu. Dalam penyampaian narasi, perhatikan nada dan tekanan suara, penggunaan nada dan tekanan harus pas, bila tidak akan terdengar aneh, bahkan lucu.

Sound Effect

Efek suara digunakan untuk mengatur elemen audio untuk menciptakan sebuah suasana tertentu. Dengan efek suara yang tepat sebuah presentasi menjadi efektif karena para audiencenya dapat merasakan suasana yang menjadi satu dengan visual yang ditampilkan, ini akan menimbulkan efek experience yang mendekati kenyataan sehingga informasi menjadi lebih mudah ditangkap.

 Musik

Musik merupakan kumpulan nada yang dibunyikan secara berirama, untuk mengatur mood atau suasana secara umum. Penggunaan musik harus sesuai dengan visual yang ditampilkan, agar makna dari visual tidak rancu.

2.        Visual

Materi visual dibagai atas visual statis, visual gerak, materi grafis dan animasi.

Visual statis

Visual statis ialah materi visual yang statis atau tidak bergerak, diantaranya adalah foto, still frame dari film, slide, illustrasi, lukisan, dan sebagainya

Visual gerak

Adapun visual gerak adalah visual yang mempunyai sekuens dengan rangkaian yang memperlihatkan kejadian atau keadaan, yang mana rangkaian ini memiliki kesan gerak. Visual gerak dapat berupa film, video. Selain itu visual gerak juga dapat mencakup efek transisi dari sebuah program audio visual, misal fade in, fade out, panning, dan sebagainya.

Materi grafis

Materi grafis disini berupa illustrasi, grafik, title, sub title dan sebagainya. Materi grafis ini digabungkan dengan unsur grafis lainnya seperti animasi agar menarik kesan audience.[12]

Animasi.

Animasi sebenarnya adalah visual statis yang digambar secara frame by frame untuk menimbulkan kesan gerak.

Media audiovisual diam adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera pendengaran dan indera pengelihatan, akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak.

Jenis media ini antara lain media sound slide (slide suara), film strip bersuara, dan halaman bersuara. Kelebihan dan kelemahan media ini tidak jauh berbeda dengan media proyeksi diam. Perbedaannya adalah adanya aspek suara pada media audiovisual diam.

Film disebut juga gambar hidup (motion pictures), yaitu serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang menyajikan pesan audiovisual dan gerak. Gambar yang diproyeksikan ke layar sebetulnya tidak bergerak, yang terlihat adalah gerakan semu, terjadi pada indra kita akibat perubahan kecil dari satu gambar ke gambar yang lain, adanaya suatu fenomena yang terjadi pada waktu kita melihat, disebut Persistence of Vision, sehingga menghasilkan suatu ilusi gerak dari pandangan kita.

Ada beberapa jenis film, diantaranya film bisu, film bersuara, dan film gelang yang ujungnya saling bersambungan dan proyeksinya tak memerlukan penggelapan ruangan.

F.       Peran Komunikasi Gerak Visual dan  Audio Visual dalam Pembelajaran

Apa saja peranan komunikasi audiovisual bagi kehidupan sehari – hari kita? Sangat banyak sekali peranannya. Diantaranya sebagai berikut:

1)      Dalam dunia perfilman, komunikasi audio visual akan selalu terus melekat menjadi satu kesatuan walaupun dilihat dari sejarah penemuan film itu sendiri, film pertama kali diputar tanpa suara. Film pertama dengan hadirnya suara berhasil ditemukan dan diputar melalui film The Jazz Singer pada tahun 1928 di Amerika oleh perusahaan film Warner Brother yang bekerja sama dengan American telephone and telegraph . Film dengan kemampuan daya visualnya yang didukung audio yang khas, sangat efektif sebagai media hiburan dan juga sebagai media pendidikan dan penyuluhan.

2)      Dalam Bidang entertain atau hiburan seperti pada program televisi yang berupa sinetron, reality show, kuis serta film dan lain – lainnya adalah bentuk dari komunikasi audio visual. Memang sepertinya pada setiap saat kita menonton acara televisi tersebut tidak merasa melakukan komunikasi. Tetapi sebenarnya di balik semua itu terkandung suatu pesan atau informasi yang secara tidak sadar kita tangkap. Seperti contoh, kita melihat acara Wisata kulinernya pak Bondan di Transtv. Kita tidak berkomunikasi dengan beliau, tetapi dengan mendengarkan penjelasan dari beliau melalui televisi tentang suatu makanan atau masakan, kita menjadi mengerti terhadap makanan atau masakan itu.

3)      Dalam bidang penyuluhan dan Informasi, komunikasi audio visual sangat berperan penting dalam komunikasi media massa. Hal ini dibuktikan peranan dari televisi sebagai sarana mengkomunikasikan pesan dan informasi dalam media massa. Pesan dan informasi yang disiarkan melalui televisi ditujukan kepada khalayak banyak yang tersebar di berbagai tempat.

4)      Komunikasi audio visual juga dapat membantu masyarakat yang terbelakang. Yang dimaksud masyarakat yang terbelakang disini adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Masyarakat seperti ini hanya dapat mengenal gambar dan suara. Oleh karena itu, untuk membantu masyarakat seperti ini agar dapat memahami pesan dan informasi yang akan disampaikan kepadanya, diperlukan komunikasi audio visual yang menggambarkan dan memperdengarkan isi pesan dan informasi tersebut.

5)      Dalam dunia advertising peranan komunikasi audio visual juga menjadi hal yang sangat penting. Advertising dengan menggunakan komunikasi audio visual terbukti mampu menarik perhatian khalayak lebih banyak dari pada advertising dengan menggunakan komunikasi visual atau audio saja. Hal ini disebabkan karena rata – rata masyarakat lebih suka menonton televisi dari pada membaca koran atau majalah ataupun mendengarkan radio. Tidak hanya itu, iklan dengan komunikasi audio visual yang tentunya mendramatisir isi pesan iklan tersebut lebih “dapat” dan lebih diingat oleh khalayak. Dengan begitu, iklan tersebut lebih menarik untuk diperhatikan dan kadang pula menimbulkan ketertarikan untuk mengkonsumsi produk yang ditawarkan oleh iklan tersebut. Selain itu banyangan produk yang diiklankan tersebut mudah diingat sekaligus melekat di benak khalayak.

6)      Dalam dunia pendidikan.

Menurut- David Hyerle, Visual Tools for Constructing Knowledge; “Penggunaan alat visual menimbulkan pergeseran dalam dinamika ruang kelas dari pembelajaran pasif kepembelajaran aktif dan interaktif yang dapat dilihat”. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dengan menggunakan alat visual sehingga diharapkan akan diperoleh perubahan perilaku dalam pemahaman terhadap apa yang dia pelajari selama ini.

Kualitas proses belajar – mengajar yang hanya dengan cara memperdengarkan ceramah dari guru saja, jauh berbeda dari proses belajar-mengajar dengan memperdengarkan serta memperlihatkan obyek study yang dipelajarinya tersebut. Menurut Francis M. Dwyer dalam bukunya “ Strategies for Improving Visual Learning “, bahwa manusia belajar melalui:

a)    1.1% melalui panca indra ( taste )

b)   2.1,5% melalui sentuhan ( touch )

c)    3.3,5% melalui penciuman ( smell )

d)   4.11% melalui pendengaran ( hearing )

e)   5.83% melalui penglihatan

Diambil dari data-data tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa proses belajar-mengajar dengan bantuan audiovisual jauh lebih efektif dibandingkan dengan proses belajar-mengajar yang hanya melalui ceramah biasa. Hal ini dilihat dari penjumlahan antara “melalui pendengaran” dan “ melalui penglihatan”. Yaitu 11% + 83% = 94%. [13]

Dalam bidang pembelajaran kebanyakan praktisi setuju akan penggunaan teknologi audiovisual konstruktif dalam hasil pendidikan dari pertimbangan simpatik dari karakteristik peserta didik dan isi materi. Teknologi audiovisual juga bisa digunakan sebagai salah satu strategi penyampaian pembelajaran dengan menggunakan media visual dan audiovisual misalnya penyampaian pembelajaran melalui gambar diam (GD) dan gambar gerak (GG).

Sebuah studi yang dilakukan oleh 3M Corporation dan University of Minnesota didapatkan bahwa sebuah presentasi yang dilakukan dengan menggunakan visual dari film 35mm, transparansi film dan grafis berwarna, ternyata lebih efektif 43% digunakan pada audience dibanding dengan yang tidak. Kajian tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan yang mana penggunaan visual menjadikan suatu presentasi menjadi lebih mudah diingat, peningkatan ingatan audience terhadap bahan naik hingga 10,01%, persepsi audience terhadap bahan naik menjadi 11%, pemahaman 8,5%, perhatian 7,5% dan kesepahaman menjadi 5,5%.[14]

Pada penelitian yang lebih lanjut dilakukan oleh Management Information Systems Departement pada University of Arizona. Penelitian ini membahas perbedaan dari penggunaan visual statis dengan statis dengan hubungannya kepada peningkatan persepesi. Hasilnya, persepsi naik menjadi 16% bila digunakan animasi dan transisi pada presentasi, bila menggunakan visual statis, hasilnya hanya meningkat sebanyak 6%.[15]

Secara umum materi audiovisual adalah yang paling berhasil bila:

1)      Pelajar merasakan nilai yang sedang ditambah dengan penggunaan bahan.

2)      Material yang terintegrasi dengan baik dengan pengajaran sekitar.

3)      Perawatan diambil dalam produksi material.

4)      Untuk mempertimbangkan kecepatan pembelajaran siswa.[16]

 

G.     Penutup

Dalam teori psikologi komunikasi penyampaian pembelajaran merupakan salah satu penyampaian informasi untuk mempengaruhi perilaku manusia. Agar penyampaian pembelajaran terarah dan mampu mengubah perilaku yang belajar serta memperbaiki cara-cara belajar siswa, maka diperlukan penyampaian pembelajaran yang efektif. Ciri penyampaian pembelajaran yang efektif diwarnai oleh guru jelas memaparkan ide-idenya, pesan yang disampaikan tidak menimbulkan makna yang ambivalen, menggunakan media atau saluran yang baik serta siswa atau penerima pesan dapat mengikuti dengan baik.

Dalam penyampaian pembelajaran menggunakan media perlu memperhatikan komponen-komponen komunikasi. ini berarti proses penyampaian pembelajaran bisa berhasil dengan efektif apabila komunikasinya berjalan secara komunikatif. Untuk dapat melihat bagaimana komunikasi dalam penyampaian pembelajaran terjadi secara komunikatif, kita dapat melihat dari paradigma Harold lasswell yang menegaskan bahwa komunikasi meliputi lima unsur yakni: (1) komunikator, (2) pesan, (3), media, (4) komunikan, dan (5) efek.

 Keberhasilan penggunaan visualisasi atau komunikasi berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektivitas bahan-bahan visual, hal ini hanya dapat dicapai dengan mengatur dan mengoperasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakan dengan seksama dan menggunakan teknik-teknik dasar visualisasi objek, konsep, informasi atau situasi.

Setiap pesan ataupun informasi yang divisualisasikan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menginformasikan, mendidik atau membujuk komunikan. Pesan visual yang dikirim oleh kamunikator kepada komunikan kadang-kadang mengalami penafsiran berbeda terhadap pesan yang disampaikan. Perbedaan penafsiran ini bisa kita sebut sebagai persepsi visual di mana persepsi visual ini tidaklah buruk dalam pembelajaran.

Gerak visual dan audio visual terus berkembang dan menjadi pilihan dalam proses komunikasi. Perkembangan tersebut seiring dengan semakin pesat dan semakin canggihnya teknologi komunikasi.

H.     Daftar Pustaka

Buku:

Arsyad, Azhar, Media pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004).

 Effendi, Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1997

 Kuswara, Tisna, Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta )2002

 Miarso, Yusufhadi, Teknologi Komunikasi Pendidikan “Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.1”. (Jakarta: Pustekkom Dikbud dan Rajawali, 1986).

 Plomp, Tjeerd and Donald P.Ely, Internasional Encyclopedia Educational Technology: second edition. (U.K: Pergamon, 1996).

 Prawiradilaga, Dewi Salma,  Mozaik Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Kencana bekerja sama dengan UNJ, 2004).

 Purwanto dkk, Komunikasi Bisnis, (Jakarta, Erlangga: 1996).

 Rakhmat, Jajaludin, Psikologi Komunikasi. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001).

 Smaldino, Sharon E, Instructional Technology and Media for Learning. (New Jersey Columbus, Ohio: Pearson Merrill Prentice Hall, 2007).

 Suprapto, Tommy,  Pengantar teori komunikasi. (Yogyakarta: penerbit presindo, 2006).

 Internet:

Dfian (2009). Sejarah animasi. http://dfian.com/sejarah-animasi-kartun/.

Suyadi (2008). Sejarah animasi: sebelum disney, http://agesvisual.wordpress.com/2008/01/06/sejarah-animasi-sebelum-disney/.

Wikipedia.com

nikiblogku.blogspot.com/…/pengertian-komunikasi-audio-visual-dan.html,

 


[1] seperti dikutip Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1997), hlm. 5

[2] Ibid

[3] Ibid. hlm 11

[4] Purwanto dkk, Komunikasi Bisnis, (Jakarta, Erlangga: 1996). hlm. 1 

[5] Jajaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 2-3

[6] Tommy suprapto, Pengantar teori komunikasi, (Yogyakarta: penerbit presindo, 2006), hlm.113.

[7] Dfian (2009), Sejarah animasi, http://dfian.com/sejarah-animasi-kartun/.

[9] Wikipedia.com

[10] Azhar Arsyad,. Media pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004 hlm. 48

[11] Lindstrom, seperti dikutip oleh Tisna Kuswara di Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta )2002, hlm.  216 

[12] Tisna Kuswara ,Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta ) 2002, hlm.  11 

[13] nikiblogku.blogspot.com/…/pengertian-komunikasi-audio-visual-dan.html

[14] Lindstrom, seperti dikutip oleh Tisna Kuswara di Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta )2002, hlm. 6 

[15] Ibid., hlm.7 

[16]Tjeerd Plomp and Donald P.Ely,  Internasional Encyclopedia Educational Technology: second edition, (U.K: Pergamon, 1996),hlm. 213