KAITAN TEKNOLOGI PENDIDIKAN, TEKNOLOGI PEMBELAJARAN



 

A.     Teknologi Pembelajaran

 

Teknologi Pendidikan merupakan suatu disiplin ilmu yang berkembang karena adanya kebutuhan agar belajar-mengajar lebih efektif, lebih efisien, lebih banyak, lebih luas dan sebagainya. Definisi Teknologi Pendidikanpun berkembang seiring perubahan paradigma teknologi pendidikan dan juga adanya sintesa dari konsep-konsep yang berasal dari orientasi sebelumnya serta memperkenalkan konsep baru. Jika semula teknologi pendidikan (dalam arti yang sangat terbatas) dipandang hanya berperan pada taraf pelaksanaan kurikulum di kelas, konsepsi baru menghendaki teknologi pendidikan sebagai masukan (input) bahkan sejak tahap perencanaan kurikulum.

 

Berikut, adalah definisi teknologi pendidikan/pembelajaran berdasarkan beberapa definisi dari tahun ke tahun;

1.      Comission on Instructional Technology, 1970:

Suatu cara yang sistematis dalam mendesain, melaksanakan, dan mengevaluasi proses keseluruhan dari belajar dan pembelajaran dalam bentuk tujuan pembelajaran yang spesifik, berdasarkan penelitian dalam teori belajar dan komunikasi pada manusia dan menggunakan kombinasi sumber-sumber belajar dari manusia maupun non-manusia untuk membuat pembelajaran lebih efektif.

2.       AECT (1972):

Teknologi pendidikan adalah satu bidang/disiplin dalam memfasilitasi belajar manusia melalui identifikasi, pengembangan, pengeorgnasiasian dan pemanfaatan secara sistematis seluruh sumber belajar dan melalui pengelolaan proses kesemuanya itu.

3.      AECT (1977):

Teknologi Pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi meliputi orang, prosedur, gagasan, sarana dan organisasi untuk menganalisis masalah dan merancang, melaksanakan, menilai dan mengelola pemecahan masalah dalam segala aspek belajar manusia.

 

 

4.      AECT (1994):

Teknologi Instruksional adalah teori dan praktek dalam mendesain, mengembangkan, memanfaatkan, mengelola, dan menilai proses maupun sumber belajar.

5.      AECT (2004):

Educational technology is the study and ethical practice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing appropriate technological processes and resources.

Ini adalah definisi terbaru yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dalam upaya memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan cara menciptakan, menggunakan/memanfaatkan, dan mengelola proses dan sumber-sumber teknologi yang tepat. Jelas, tujuan utamanya masih tetap untuk memfasilitasi pembelajaran (agar efektif, efisien dan menarik/joyfull) dan meningkatkan kinerja.

 

Istilah teknologi pembelajaran dipakai bergantian dengan istilah teknologi pendidikan yang pada hakikatnya teknologi pembelajaran adalah suatu disiplin yang berkepentingan dengan pemecahan masalah belajar dengan berlandaskan pada serangkaian prinsip dan menggunakan berbagai macam pendekatan. 

 

B.     Teknologi Kinerja

Stolovich & Keeps mengartikan teknologi kinerja sebagai suatu terapan atau praktek sebagai hasil evolusi dari pengalaman, refleksi, perumusan konsep para praktisi teknologi pendidikan untuk meningkatkan mutu kinerja seseorang di tempat ia bekerja. Tujuan utama dari Teknologi Kinerja pada suatu lembaga menurut Stolovich & Keeps adalah memperkenalkan teknologi kinerja sebagai arti dari pemakaian penerapan dimana tujuannya adalah memberikan penghargaan kinerja yang bernilai kepada seseorang di tempat ia bekerja. Teknologi Kinerja diperkenalkan sebagai bidang aplikasi yang signifikan yang mengarah kepada nilai prestasi kinerja di tempat kerja. Teknologi kinerja bersifat sistemik, sistematis, berdasarkan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang telah teruji, dapat menggunakan berbagai cara, metode dan media serta fokus pada hasil kinerja seseorang dan sistem nilai.

Piskurich menjabarkan pengertian teknologi kinerja sebagai suatu sistem yang dilihat dari kinerja seseorang dengan menggunakan analisis sistematik untuk kedua celah kinerja (masalah dan kesempatan) dan sistem kinerja. Hal ini penting untuk memilih dan mendesain biaya intervensi secara efektif dan efisien dengan strategi yang diluruskan untuk mendukung sasaran dan nilai pengembangan organisasi. Piskurich telah membandingkan dua inti teknologi, yaitu teknologi kinerja dan teknologi pembelajaran. Bisa diperiksa bagaimana menggunakan teknologi yang bisa mendukung untuk mempengaruhi hasil kinerja dan memperbaiki kepuasan pelanggan untuk bertahan di masa depan yang harus berubah dari aturan tradisional dari ahli teknologi pembelajaran dan ahli teknologi kinerja. Serta fokus dalam menjadi ahli pembelajaran yang baik.

C.     Kaitan Teknologi Pembelajaran dengan teknologi kinerja.

 

Kita selalu berada pada lingkungan yang mengalami perubahan terus menerus dalam segala aspek sehingga kita harus senantiasa menyesuaikan tuntutan perubahan. Perubahan tersebut menimbulkan permasalahan baru yang belum ada sebelumnya. Menghadapi perubahan dan masalah tersebut setiap individu ataupun organisasi perlu menyesuaikan diri dan belajar agar tetap bertahan dan berkembang dengan cara-cara atau pendekatan baru.

Dengan berkembangnya konsep pengembangan sumberdaya manusia dalam lingkungan bisnis dan industri pada tahun 1960-an, telah dikenal kegiatan yang disebut “pengembangan organisasi” (organizational development=OD). Kegiatan ini terfokus pada bagaimana mengubah struktur dan kegiatan organisasi untuk dapat berkembang secara sistematik agar kinerja organisasi tersebut dapat meningkat. (Miarso, 2009)

Pengembangan kinerja organisasi dilakukan dengan berbagai cara atau model. Salah satu model itu adalah yang dikemukakan oleh Robert Blake dan Jane S. Mouton yang bertolak dari delapan asumsi yaitu:

1.      Pengembangan itu meliputi perorangan, keanggotaan dan organisasi yang semuanya terkait dan merupakan keseluruhan sistem pengembangan.

2.      Perubahan yang efektif dan efisien perlu dilakukan secara sistematik dengan lebih dulu menetapkan apa yang terwujud dalam waktu tertentu.

3.      Perilaku manusia dan kegiatan organisasi saling berinteraksi yang mungkin dapat menghambat atau sebaliknya meningkatkan kinerja.

4.      Pendidikan dan pelatihan harus terjalin agar pengembangan dapat efektif.

5.      Penalaran dan emosi saling berkaitan, karena itu keduanya dimasukkan dalam program pengembangan

6.      Hubungan antara atasan dan bawahan dalam organisasi harus terbuka dan memungkinkan komunikasi timbal balik.

7.      Perlu diciptakan peluang dari dalam organisasi sendiri untuk berprakarsa dan tidak mengandalkan konsultan dari luar

8.      Setiap orang pada dasarnya ingin berpartisipasi atau terlibat dalam pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya.

Teknologi pembelajaran  tidak hanya bergerak di persekolahan tapi juga dalam semua aktifitas manusia (seperti perusahaan, keluarga, organisasi masyarakat, dll) sejauh berkaitan dengan upaya memecahkan masalah belajar dan peningkatan kinerja.  Oleh karena kinerja peserta didik baik di sekolah maupun di tempat kerja dapat ditingkatkan melalui penggunaan teknologi teknologi lunak seperti desain pembelajaran (ID) dan hard-tech, juga penciptaan dan pemanfaatan lingkungan di mana peserta didik dapat mempraktekkan dan mengaplikasi ilmu pengetahuan yang didapat dalam dunia nyata.

Teknologi kinerja dan proses belajar tidak dapat dipisahkan, keduanya berkaitan erat. Dalam teknologi kinerja proses belajar dilakukan secara terus menerus demi tercapainya kinerja manusia yang lebih tinggi.

 

Sumber Pustaka:

1.      http://jadiwijaya.blog.uns.ac.id/2010/06/06/meningkatkan-kinerja-dalam-konteks-teknologi-pendidikan/

2.      http://e-majalah.com/

3.      Prof. Dr. Yusufhadi Miarso, M.Sc, “Menyemai Benih Teknologi Pendidikan” (Jakarta: Kencana), 2009

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s