KOMUNIKASI VISUAL DAN VISUAL LITERACY

BAB I PENDAHULUAN

Sudah diketahui bersama bahwa komunikasi dapat terjadi dimanapun dan kapanpun. Komunikasi mampu menyentuh segala aspek kehidupan manusia. Artinya, hampir seluruh kegiatan manusia, dimanapun adanya selalu tersentuh komunikasi. Bidang-bidang seperti, manajemen, administrasi, hukum, matematika, biologi, bahkan pendidikan itu sendiri tidak dapat dipisahkan dengan komunikasi dalam pengembangannya. Secara umum fungsi komunikasi ialah informatif, edukatif, persuasif, dan rekreatif (entertainment). Maksudnya secara singkat ialah komunikasi berfungsi memberi keterangan, memberi data atau fakta yang berguna bagi segala aspek kehidupan manusia, disamping itu komunikasi juga berfungsi untuk mendidik masyarakat, mendidik setiap orang dalam menuju pencapaian kedewasaan bermandiri. Secara persuasif maksudnya adalah bahwa komunikasi sanggup ‘membujuk’ orang untuk berperilaku sesuai dengan kehendak yang diinginkan oleh komunikator. Sedangkan yang terakhir adalah fungsi hiburan. Ia dapat menghibur orang pada saat yang memungkinkan, contohnya membaca bacaan ringan, mononton televisi atau surfing internet. Untuk mencapai fungsi-fungsi komunikasi di atas diperlukan beberapa bentuk media yang dapat berupa media visual, audio, dan audio-visual. Masing-masing media tersebut memiliki ciri khas dan bentuk tersendiri. Dalam kehidupan yang semakin kompleks, pengaruh media sangat besar dalam proses komunikasi antar manusia. Sehingga diperlukan kemampuan dalam membuat atau memahami bentuk media-media tersebut agar pesan dapat tersampaikan dengan efektif dan efisien. Apabila merujuk pada dasar pemikiran pendahuluan di atas, maka dalam makalah ini kami hanya akan membahas tentang komunikasi visual dan visual literasi.

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikai Visual dan Visual Literasi

Dalam mengkomunikasikan ide atau gagasan-gagasannya orang menggunakan teknik-teknik komunikasi yang bisa dikelompokkan ke dalam dua jenis. Yang pertama teknik verbal seperti yang banyak dilakukan oleh sebagian besar orang, yang kedua ialah teknik visual. Memang komunikasi verbal bukanlah merupakan satu-satunya bentuk komunikasi yang dapat diandalkan dalam proses komunikasi. Komunikasi visual justru mempunyai keuntungan sendiri dalam hal ini. Suatu objek yang jauh letaknya dari tempat kita berada dan kita tidak mungkin menjangkaunya secara langsung, dapat “diindera” melalui visualisasi obyek tersebut, misalnya direkam atau digambarkan dalam bentuk film atau video. Seperti peristiwa meletusnya gunung merapi di Jogyakarta. Dengan demikian, biayapun sangat murah dan mudah dibandingkan dengan melihat secara langsung. Bentuk komunikasi visual dapat menarik dibandingkan dengan hanya cara verbal. Dengan demikian sasaran lebih dapat berkonsentrasi kepada obyek yang disajikan. Beberapa hasil variasi keefektifan penjelasan secara verbal dan visual yang pernah diteliti oleh Dawyer, bisa dilihat perbandingannya sebagai tampak dalam tabel berikut. Metode Intruksional Kemampuan mengingat setelah 3 jam Kemampuan mengingat setelah 3 hari Verbal saja 70 % 10 % Visual saja 72 % 20 % Paduan Verbal dan Visual 85 % 65 % Dari tabel di atas terlihat bahwa pada orang lebih tahan mengingat hal-hal yang bersifat visual dibandingkan dengan verbal. Namun demikian apabila dipadukan antara visual dan verbal orang akan lebih tahan lama dalam mengingat apabila hanya dengan verbal atau visual saja. Agar proses komunikasi dalam bentuk visual tersampaikan secara tepat dan benar, maka seseorang memerlukan kemampuan dalam memahami bentuk komunikasi tersebut. Kemampuan ini disebut sebagai Visual Literacy. Secara khusus istilah literasi bisa didefinisikan sebagai kemampuan teknis dalam men-decode atau memproduksi lambang-lambang tulisan, hasil cetakan, atau tulisan dalam kalimat dan kata-kata dalam bentuk lambang tulisan. Dalam perkembangan selanjutnya literasi dikaitkan dengan kemampuan berkomunikasi secara tertulis, bukan bahasa dan komunikasi lisan. Sekarang konsep komunikasi juga digunakan secara lebih variasi dalam konteks memahami perkembangan teknologi, seperti komputer, digital, grafik, matematik, dan belakangan informasi. Literasi bukan sebuah karakteristik manusia sejak lahir, namun lebih merupakan sebuah kemampuan yang bisa dipelajari, baik di lingkungan sekolah maupun luar sekolah Apabila didefinisikan dalam pembelajaran, maka Visual Literacy adalah kemampuan pebelajar untuk menganalisis sebuah pesan visual dalam pembelajaran. Visual Literacy dapat dikembangkan melalui dua macam pendekatan: 1. Input strategies. Membantu pebelajar untuk decode atau “membaca” dengan cara mempraktekkan kemampuan analisis visual. 2. Output strategies. Membantu pebelajar untuk encode, atau “menulis” secara visual untuk mengekspresikan diri mereka dan berkomunikasi dengan orang lain.

B. Media-media Visual

Media-media visual pada dasarnya terbagi menjadi tiga, yaitu: 1. Media Realia, yaitu benda nyata. Benda tersebut tidak harus dihadirkan di ruang kelas, tetapi siswa dapat melihat langsung ke obyek. Kelebihan dari media ini adalah dapat memberikan pengalaman nyata kepada siswa. Misal untuk mempelajari keanekaragaman mahkluk hidup, ekosistem dan tanaman. 2. Model, yaitu benda tiruan dalam wujud tiga dimensi yang merupakan representasi atau pengganti dari benda yang sesungguhnya. Penggunaan model untuk mengatasi kendala tertentu sebagai pengganti realia. Misal untuk mempelajari sistem gerak, peredaran darah dan syaraf pada hewan. 3. Media grafis, yaitu tergolong media visual yang menyalurkan pesan melalui simbol-simbol visual. Fungsi dari media grafis adalah untuk menarik perhatian, memperjelas sajian pelajaran, dan mengilustrasikan suatu fakta atau konsep yang mudah terlupakan jika hanya dilakukan melalui penjelasan verbal. Berdasarkan pembagian media di atas, maka bentuk media visual termasuk ke dalam media yang berupa grafis. Jenis-jenis media visual adalah: 1) Gambar atau photo: paling umum digunakan 2) Sketsa: gambar sederhana atau draft kasar yang melukiskan bagian pokok tanpa detail. Dengan sketsa dapat menarik perhatian siswa, menghindarkan verbalisme, dan memperjelas pesan. 3) Diagram/skema: gambar sederhana yang menggambarkan garis atau simbol untuk menggambarkan struktur dari obyek tertentu secara garis besar. Misal untuk mempelajari organisasi kehidupan dari sel sampai organisme. 4) Bagan/chart: menyajikan ide atau konsep yang sulit sehingga lebih mudah dicerna siswa. Selain itu bagan mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari penyajian. Dalam bagan sering dijumpai bentuk grafis lain, seperti: gambar, diagram, kartun, atau lambang verbal

C. Peran Komunikasi Visual dalam Pembelajaran

Salah satu peranan visual dalam pembelajaran adalah sebagai sarana untuk menyediakan atau memberikan referensi yang konkret tentang sebuah ide. Kata-kata tidak dapat mewakili atau menyuarakan benda karena visual bersifat iconic. Oleh karena itu, setiap kata memiliki kesamaan dengan benda yang dirujuk. Beberapa manfaat visual dalam pembelajaran antara lain, visual dapat memotivasi pebelajar dengan cara menarik perhatian mereka, mempertahankan perhatian serta mendapatkan respon-respon emosional. Selain itu, visual juga dapat menyederhanakan informasi yang sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Dengan kata lain, peranan visual dalam pembelajaran termasuk penting untuk mendukung informasi tertulis dan informasi lisan (verbal information).

D. Aspek-aspek Visual Literasi

1. Decoding Decoding ialah proses interpretasi visual. Dengan melihat sebuah tampilan visual tidak berarti bahwa seorang pebelajar dapat belajar dari tampilan tersebut. Pebelajar harus dibimbing untuk dapat memiliki pemikiran yang jelas dan benar tentang tampilan visual tersebut. Aspek visual literacy yang pertama adalah kemampuan untuk menginterpretasi dan menemukan makna dari stimulus yang ada di lingkungan sekitar. a. Developmental Effects Banyak variable yang mempengaruhi seorang pebelajar dalam memaknai sebuah tampilan visual. Anak-anak sampai pada usia 12 tahun cenderung memaknai tampilan visual secara parsial. Disisi lain, anak yang lebih dewasa cenderung mampu untuk menggambarkan kembali pesan yang ingin disampaikan dari sebuah tampilan visual. Gambar-gambar abstrak atau rangkaian gambar diam (still pictures) kurang sesuai untuk anak-anak (sampai usia 12 tahun). b. Cultural Effects Dalam mengajar, harus disadari bahwa kemampuan pebelajar untuk menginterpretasi sebuah tampilan visual dapat dipengaruhi oleh latar belakang kebudayaannya. Misalnya, seorang pebelajar yang berasal dari keluarga sederhana akan memiliki pemahaman yang berbeda mengenai suatu tampilan visual dengan pebelajar yang berasal dari keluarga menengah atas. c. Visual Preferences Dalam memilih tampilan visual, guru sebaiknya memilih tampilan visual yang paling efektif daripada memilih tampilan visual yang disukai. Misalnya, pembelajaran untuk anak-anak lebih cocok menggunakan tampilan visual yang sederhana dan tidak menggunakan banyak ilustrasi. Di sisi lain, tampilan visual pembelajaran untuk anak-anak yang lebih dewasa lebih cocok menggunakan ilustrasi-ilustrasi yang lebih kompleks. Kebanyakan pebelajar lebih menyukai tampilan visual yang berwarna daripada tampilan visual hitam-putih. Sebenarnya tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua hal tersebut kecuali ketika ada hubungan antara topik yang sedang dipelajari dengan eksistensi warna. Selain warna, pebelajar lebih suka tampilan visual dengan menggunakan foto daripada line drawings (sekalipun dalam beberapa situasi, line drawings lebih sesuai digunakan dalam pembelajaran). Pada dasarnya, tampilan visual yang sederhana akan lebih efektif bila digunakan dalam pembelajaran. Perbedaan latar belakang mempengaruhi kemampuan setiap pebelajar dalam menginterpretasikan sebuah tampilan visual. Seorang guru dapat membantu mengembangkan kemampuan visual pebelajar membiarkan mereka untuk “menggunakannya”, misalnya, setiap pebelajar dapat belajar dengan melihat dan menganalisa tampilan visual. 2. Encoding Encoding ialah mencipatakan visual. Kemampuan pebelajar untuk menciptakan sebuah tampilan visual. Sama halnya dengan menulis yang dapat menjadi stimuli untuk membaca, memproduksi media juga dapat menjadi cara yang efektif untuk mengerti tentang media. E. Tujuan Sebuah Desain Visual dalam Komunikasi Setidaknya ada empat tujuan dasar desain visual yaitu: a) Ensure Legibility Sebuah tampilan visual tidak akan dapat berfungsi sampai tampilan itu dapat terbaca oleh setiap orang yang melihatnya. Keterbacaan (legibility) berhubungan dengan kualitas huruf pada tampilan dalam tingkat kemudahannya untuk dibaca. Tujuan akhir dari sebuah tampilan desain visual yang baik adalah untuk menyingkirkan sebanyak mungkin halangan yang mengganggu penyampaian sebuah pesan pembelajaran. b) Reduce Effort Seorang desainer pasti merindukan agar pesan yang disampaikan melalui sebuah tampilan dapat diterima dengan baik. Oleh karena itu ia akan berusaha untuk meminimalisir usaha-usaha yang mungkin dibutuhkan oleh setiap orang untuk menangkap isi pesan tampilan visual tersebut. c) Increase Active Engagement Sebuah pesan tidak akan dapat bertahan sampai pesan itu mendapat perhatian. Hal inilah yang menjadi dasar dari salah satu tujuan desain visual. Sebuah desain sebaiknya dibuat semenarik mungkin untuk menarik perhatian viewer dan untuk membuat mereka memikirkan tentang pesan yang sedang disampaikan. d) Focus Attention Setelah mendapatkan perhatian viewer, langkah selanjutnya adalah bagaimana mengarahkan perhatian mereka pada bagian terpenting dari tampilan pesan visual yang telah dibuat. F. Proses Desain Visual 1. Elements Langkah pertama dalam mendesain sebuah tampilan visual adalah dengan mengumpulkan atau membuat ilustrasi gambar dan desain teks yang akan digunakan. a) Visual Elements Tiga kategori simbol visual: (1) Realistic visuals menggambarkan objek secara aktual atau sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Sebuah objek atau peristiwa aktual akan selalu memiliki aspek yang tidak dapat diilustrasikan sekalipun dalam gambar tiga dimensi. (2) Analogic visuals menggambarkan sebuah konsep atau topik dengan menggunakan benda lain yang memiliki kemiripan. (3) Organizational visuals meliputi: diagram, peta, skema, dll. Grafik seperti ini menunjukkan hubungan antara poin-poin utama atau konsep dalam materi. b) Verbal Elements Huruf adalah bagian terkecil dari sebuah kata. Sedangkan kata adalah bagian terkecil dari sebuah gagasan. Sebuah gagasan yang baik dan telah tersusun lewat pemilihan kata yang menarik bisa saja berakhir sia-sia karena kegagalan dalam memilih huruf. 1) Letter Style Jenis huruf yang dipilih sebaiknya konsisten dan harmonis dengan elemen lain yang ada dalam sebuah desain visual. Untuk keperluan desain pesan pembelajaran, jenis huruf yang sederhana lebih diutamakan. Misalnya huruf-huruf jenis Serif atau Sanserif. 2) Number of Lettering Style Sebuah tampilan visual atau rangkaian tampilan visual sebaiknya tidak menggunakan lebih dari dua jenis huruf dan kedua jenis huruf ini harus sesuai satu dengan yang lain. 3) Capitals Untuk mendapatkan hasil tampilan yang legibel, maka gunakanlah huruf kecil. Huruf kapital lebih baik dipergunakan hanya pada saat-saat tertentu saja. 4) Color of Lettering Warna huruf yang dipakai sebaiknya kontras dengan warna latar belakang (background). Hal ini perlu untuk memudahkan viewer dalam melihat hasil sebuah tayangan visual. 5) Size of Lettering • 6) Spacing Between Letters Jarak antara huruf yang satu dengan yang lainnya sebaiknya tidak terlalu lebar. Perlu diperhatikan jenis huruf. 7) Spacing Between Lines Jarak vertikal antara tiap baris sangat penting untuk legibilitas. Apabila jarak antar baris terlalu dekat, akan menyebabkan tulisan menjadi kabur dan tak terbaca; tetapi apabila jarak antar baris terlalu jauh, tulisan dalam tayangan akan terlihat kurang menyatu. Sebuah tampilan visual akan menjadi berarti apabila dapat menarik perhatian viewer yaitu dengan memperhatikan: a) Surprise Hal mendasar yang dapat menarik perhatian seseorang adalah karena adanya sesuatu yang tidak terduga. Hal yang tidak terduga ini dapat berupa penggunaan metafora yang lain dari biasanya, penggunaan permainan warna yang lebih berani, dll. b) Texture Kebanyakan tampilan visual adalah dua dimensi. Namun, seorang desainer dapat membuat tampilan itu menjadi tampilan tiga dimensi dengan cara memberikan tekstur atau material yang bersifat aktual. Tekstur adalah karakter tiga dimensi objek atau material. c) Interaction Viewer dapat diminta untuk memberikan respon terhadap sebuah tampilan visual dengan cara memanipulasi materi yang ada dalam tayangan tersebut. 2. Pattern a) Alignment 1) Penataan baris rata kiri • Memiliki tingkat keterbacaan yang baik • Dianjurkan untuk naskah yang panjang • Terkesan dinamis tetapi kurang rapi 2) Penataan baris rata kanan • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang • Terkesan dinamis 3) Penataan baris rata kiri-kanan • Memiliki tingkat keterbacaan yang cukup baik terutama jika jarak antar kata tetap terkontrol dengan baik • Terkesan rapi tetapi kurang dinamis • Dengan kontrol yang baik, dianjurkan untuk naskah panjang 4) Penataan baris terpusat di tengah • Memiliki tingkat keterbacaan yang buruk • Tidak dianjurkan untuk naskah panjang b) Shape Cara selanjutnya untuk membuat elemen visual dan elemen verbal adalah dengan cara memilih dan meletakkannya dalam bentuk yang telah familiar. Bentuk-bentuk seperti bentuk geometri adalah bentuk yang sesuai karena mudah ditebak oleh viewer. Prinsip lain yang dapat digunakan sebagai panduan untuk penempatan elemen visual adalah hukum yang ketiga yaitu elemen diletakkan pada jarak sepertiga dari bagian pojok kiri atas sebuah tampilan. c) Balance Ukuran nada, berat dan posisi unsur-unsur dalam sebuah rancangan tampilan dikendalikan dengan sebuah keseimbangan. Unsur-unsur yang tertata seimbang terlihat aman dan nyaman oleh mata. Cara menguji keseimbangan adalah dengan cara menguji hubungan bagian kiri dan kanan. Pada dasarnya, terdapat dua bentuk keseimbangan yaitu formal dan informal. 1) Keseimbangan formal Rancangan yang seimbang formal memiliki unsur-unsur berat, ukuran, bentuk yang sama pada sisi kanan dan sisi kiri dalam suatu garis vertical imajiner yang digambarkan di pusat tampilan. Rancangan yang simetris memberikan kesan stabilitas dan konservatif, tetapi pada suatu saat terlihat tidak imajinatif. Gambar kupu-kupu di samping simetris. Kedua sisi memiliki kesamaa dan kekuatan yang seimbang secara visual. Selain itu gambar kupu-kupu tercermin kembali. 2) Keseimbangan informal Dalam keseimbangan informal, objek ditempatkan secara acak dalam halaman tetapi secara keseluruhan tampak seimbang. Bentuk penyusunan ini memerlukan pemikiran daripada keseimbangan formal bersimetris sederhana, tetapi efeknya dapat imajinatif dan dinamis. Gambar kupu-kupu di samping asimteris. Kedua sisi memiliki kekuatan visual yang hampir sama tetapi gambar kupu-kupu tersebut tidak tercermin kembali. d) Style Style ditentukan oleh perbedaan kondisi yang ada di lapangan. Tampilan rancangan yang ditujukan untuk pembelajaran anak-anak akan memiliki tampilan rancangan yang berbeda dengan desain pembelajaran yang ditujukan untuk pebelajar dewasa. e) Color Scheme Warna merupakan unsur visual yang penting dan merupakan gejala penglihatan yang paling menarik. Warna dapat berperan sebagai berikut: 1) Memberikan kesan realistik 2) Berfungsi sebagai pemisah antara elemen visual yang satu dengan yang lain 3) Membangkitkan perhatian 4) Memiliki bahasa psikologis untuk menguatkan mood pesan 5) Meningkatkan tampilan astistik Berikut ini adalah saran kombinasi warna untuk background dan foreground (Color in Instructional Communication): Background Foreground Images & Text Highlights White Light grey Blue Light blue Light yellow Dark blue Blue, green, black Light yellow, white Dark blue, dark green Violet, brown Red, orange Red Yellow, red Red-orange Red f) Color Appeal Warna-warna seperti biru, hijau dan ungu termasuk warna-warna dingin; sedangkan merah dan oranye tergolong warna yang hangat. Ketika memilih warna, seorang desainer perlu memperhatikan situasi emosional apa yang ingin didapatkan melalui sebuah tampilan. 3. Arrangement A. Proximity Prinsip proximity adalah pengelompokkan elemen. Elemen yang saling berhubungan diletakkan saling berdekatan, sedangkan elemen yang tidak berhubungan sedapat mungkin dijauhkan sehingga viewer dapat dengan mudah menangkap makna sebuah tayangan. B. Directionals Viewer melihat sebuah tampilan dengan mengarahkan perhatiannya ke tiap bagian tampilan secara bergantian. Seorang desainer dapat mengatur perhatian viewer dengan cara memberikan arahan dalam tampilan dan inilah yang disebut dengan directionals. Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menarik perhatian viewer. Misalnya dengan menggunakan tanda panah, menggunakan huruf bold, menggunakan bullets, dsb. Selain tiga contoh sebelumnya, elemen warna juga dapat digunakan untuk menarik perhatian. Warna-warna yang berani akan menarik perhatian dengan cepat apabila dikombinasikan dengan warna-warna gelap. C. Figure-Ground Contrast Figure-ground contrast adalah upaya untuk membuat penonjolan sebuah unsur atau kelompok unsur melalui berbagai cara: kontras nada, kontras arah, kontras ukuran, kontras bentuk. Prinsip sederhana untuk figure-ground contrast adalah figur berwarna terang lebih cocok menggunakan background berwana gelap. Sebaliknya, figure berwarna gelap lebih cocok menggunakan background berwarna terang. D. Consistency Dalam proses pembuatan sebuah rangkaian tampilan visual, konsistensi adalah sebuah prinsip dasar yang tidak boleh dilupakan. Hal ini bertujuan untuk tidak membingungkan viewer. G. Visual Planning Tools 1. Storyboard Storyboarding adalah sebuah metode perencanaan. Ketika mendesain sekelompok tampilan visual, misalnya sebuah slide set atau video, maka diperlukan sebuah metode bagaimana cara menyusun dan menyusun kembali keseluruhan sekuens dalam sebuah rangkaian visual. 2. Types of Letters Pemilihan jenis tulisan yang akan digunakan dalam sebuah tampilan visual perlu disesuaikan dengan pesan apa yang ingin disampaikan oleh desainer.

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan Komunikasi visual adalah salah satu bentuk komunikasi yang memiliki nilai efisiensi dan efektifitas dalam proses pembelajaran. Disamping dapat memudahkan viewer (pebelajar) untuk menangkap dan menyimpan informasi lebih baik, bentuk komunikasi visual juga dapat menyajikan informasi dengan lebih menarik ketimbang hanya disampaikan secara verbal. Sehingga mampu menimbulkan feedback yang lebih baik. Dalam memahami pesan/informasi yang disampaikan melalui bentuk komunikasi verbal, pemelajar harus memahami kondisi pebelajar. Kemampuan dalam memahami komunikasi melalui visual (visual literacy) dapat meliputi aspek budaya, perkembangan mental dan efektifitas media yang digunakan.

Daftar Pustaka

M., Yusuf, Pawit, Komunikasi Intruksional; Teori dan Praktik, (Jakarta: Bumi Aksara), 2010. Ariani, niken dan Dany, Haryanto, Pembelajaran Multi Media di Sekolah, (Jakarta: Prestasi Pustakaraya), 2010. Barton, will, dan Beck, Andrew, Bersiap Mempelajari Kajian Komunikasi, (Yogyakarta: Jalasutera), 2010 http://unesa.info/tep/media/isi.php?autor=anya, Di akses tanggal 7 Desember 2010 http://www.goshen.edu/art/ed/Compose.htm#elements, Diakses tanggal 8 Desember 2010 http://teddykw.wordpress.com/2010/12/08/desain-komunikasi-visual-media-promosi-social-marketing./ di akses tanggal 08 Desember 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s