GERAK VISUAL DAN AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN

 

A.      Pendahuluan

Istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari kata Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama disini maksudnya adalah sama makna.

Menurut Carl I. Hovland, komunikasi adalah : “proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behaviour of other individuals)”.[1]

Sedangkan menurut Harold Lasswell komunikasi adalah “proses penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu”[2]

Untuk itu ada lima unsur yang harus dipenuhi, yaitu :

  1. Komunikator (communicator, source, sender)
  2. Pesan (message)
  3. Media (channel, media)
  4. Komunikan (communicant, communicatee, receiver, recepient)
  5. Efek (effect, impact, influence)

Proses komunikasi pada hakikatnya adalah proses penyampaian pikiran atau perasan oleh seseorang (komunikator) kepada orang lain (komunikan).[3] Komunikasi akan berhasil apabila pikiran disampaikan dengan menggunakan perasaan yang disadari; sebaliknya komunikasi akan gagal jika sewaktu akan menyampaikan pikiran, perasaan tidak terkontrol. Yang menjadi masalah adalah bagaimana caranya gambaran dan kesadaran yang terdapat didalam benak komunikator dapat dimengerti, diterima dan dilakukan oleh komunikan.

Menurut Purwanto pada dasarnya ada dua bentuk komunikasi yang lazim digunakan dalam dunia bisnis dan nonbisnis yaitu komunikasi verbal dan non verbal.[4] Masing-masing komunikasi tersebut sebagai berikut:

  1. Komunikasi Verbal

Komunikasi verbal merupakan salah satu bentuk komunikasi yang disampaikan kepada pihak lain melalui tulisan (written) dan lisan (oral).

  1. Komunikasi Nonverbal

Menurut teori antropologi, sebelum manusia menggunakan kata-kata, mereka terlebih dulu mengenal bahasa isyarat (body language) sebagai alat untuk berkomunikasi. Yang termasuk komunikasi nonverbal, antara lain bahasa isyarat, simbol, sandi, warna, ekspresi wajah, dan lainnya. Komunikasi nonverbal penting artinya bagi pengirim dan penerima pesan, karena sifatnya yang efisien. Suatu pesan nonverbal dapat disampaikan tanpa harus berpikir panjang, dan pihak audience juga dapat menangkap artinya dengan cepat.

Jadi Komunikasi adalah suatu proses pemberian, penyampaian atau pertukaran gagasan, pengetahuan yang dapat dilakukan melalui percakapan, tulisan atau tanda-tanda.[5] Dalam penyampaian ide atau gagasan ini digunakanlah teknik-teknik komunikasi yang dibagi dalam dua jenis yaitu teknik verbal dan teknik non verbal (Visual dan audiovisual).

Dalam teori psikologi komunikasi penyampaian pembelajaran merupakan salah satu penyampaian informasi untuk mempengaruhi perilaku manusia. Agar penyampaian pembelajaran terarah dan mampu mengubah perilaku yang belajar serta memperbaiki cara-cara belajar siswa, maka diperlukan penyampaian pembelajaran yang efektif. Ciri penyampaian pembelajaran yang efektif diwarnai oleh guru jelas memaparkan ide-idenya, pesan yang disampaikan tidak menimbulkan makna yang ambivalen, menggunakan media atau saluran yang baik serta siswa atau penerima pesan dapat mengikuti dengan baik.

Bertz mengidentifikasikan ciri utama dari media menjadi tiga unsur pokok, yaitu : suara, visual dan gerak. Visual dibedakan menjadi tiga yaitu garis (line graphic) dan simbol yang merupakan suatu kontinum dari bentuk yang dapat ditangkap dengan indra penglihatan. Bretz juga membedakan antara media siar (telecommunication ) dan media rekam ( recording )sehingga terdapat 8 klasifikasi media, yaitu :

  • Media audiovisual gerak
  • Media audiovisual diam
  • Media audio semi-gerak
  • Media visual gerak
  • Media visual diam
  • Media semi-gerak
  • Media audio
  • Media cetak

 

Makalah ini terfokus pada gerak visual dan audio visual yang digunakan dalam komunikasi serta pembelajaran. Gerak visual dan audio visual adalah salah satu bentuk komunikasi non verbal dan merupakan  pengembangan dari komunikasi visual.

Sepanjang sejarah, manusia menggunakan gambar, lukisan  di gua, ikon, piktograf untuk mengekspresikan pikiran mereka. Piktograf (gambar yang mewakili ide, seperti pada tulisan primitive) dan hieroglif merupakan bentuk paling kuno bahasa visual. Orang Sumerian pada 4.000 SM menggunakan lebih dari 2.000 piktograf dalam tulisan mereka.

Menurut- David Hyerle, Visual Tools for Constructing Knowledge; “Penggunaan alat visual menimbulkan pergeseran dalam dinamika ruang kelas dari pembelajaran pasif kepembelajaran aktif dan interaktif yang dapat dilihat”. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dengan menggunakan alat visual sehingga diharapkan akan diperoleh perubahan perilaku dalam pemahaman terhadap apa yang dia pelajari selama ini.

B.      Media Komunikasi Gerak Visual

Gerak Visual adalah visual yang mempunyai sekuens dengan rangkaian yang memperlihatkan kejadian atau keadaan, yang mana rangkaian ini memiliki kesan gerak. Gerak Visual dapat berupa film, video. Selain itu Gerak visual juga dapat mencakup efek transisi dari sebuah program visual, misal fade in, fade out, panning, dan sebagainya.

C.      Perubahan dari gambar diam ke gambar gerak

Gambar sebagai bentuk dari tanda telah digunakan oleh manusia sejak ribuan tahun yang lalu untuk menjelaskan hal-hal yang sulit dijelaskan dengan kata. Suatu tanda menandakan sesuatu selain dirinya, dan makna ialah hubungan antara suatu obyek atai idea dan suatu tanda. Tanda pada dasarnya akan mengisyaratkan suatu makna yang hanya dapat dipahami oleh manusia yang mengguanakannya. Bagaimana manusia menangkap sebuah makna tergantung pada bagaimana manusia mengasosiasikan objek atau idea dengan tanda[6].

Manusia sejak dulu mencoba untuk membuat gambar yang dihasilkan terlihat lebih hidup, di Mesir, ada gambar para pegulat sedang bergumul yang susunannya berurutan pada dinding. Para arkeolog memperkirakan dekorasi di dinding itu dibuat oleh orang-orang Mesir kuno pada tahun 2000 sebelum Masehi. Sementara di Jepang, para arkeolog menemukan gulungan lukisan kuno yang memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, yang diperkirakan dibuat pada masa Kerajaan Heian, yakni sekitar tahun 794-1192[7].

Gambar gerak (yang kini lebih populer dengan istilah animasi), sebenarnya tidak akan terwujud tanpa didasari pemahaman mengenai prinsip fundamental kerja mata manusia atau dikenal dengan nama The Persistance of Vision. Seperti ditunjukan pada karya seorang Prancis Paul Roget (1828), penemu Thaumatrope. Sebuah alat berbentuk kepingan yang dikaitkan dengan tali pegas diantara kedua sisinya. Kepingan itu memiliki dua gambar pada sisinya. Satu sisi bergambar burung, satu sisi lainnya bergambar sangkar burung. Ketika kepingan berputar maka burung seolah masuk ke dalam sangkarnya. Proses ini ditangkap oleh mata manusia dalam satu waktu, sehingga mengekspose gambar tersebut menjadi gerak.

Dua penemuan berikutnya semakin menolong mata manusia. Phenakistoscope, ditemukan oleh Joseph Plateu (1826), merupakan kepingan kartu berbentuk lingkaran dengan sekelilinganya di penuhi lubang-lubang dan gambar berbentuk obyek tertentu. Mata akan melihat gambar tersebut melalui cermin dan pegas membuatnya berputar sehingga satu serial gambar terlihat secara progresif menjadi gambar yang bergerak kontinyu. Teknik yang sama di tampilkan pada alat bernama Zeotrope, ditemukan oleh Pierre Desvignes (1860), berupa selembar kertas bergambar yang dimasukan pada sebuah tabung.

Pengembangan kamera gerak dan projector oleh Thomas Alfa Edison serta para penemu lainnya semakin memperjelas praktika dalam membuat animasi. Animasi akhirnya menjadi suatu hal yang lumrah walaupun masih menjadi “barang” mahal pada waktu itu. Bahkan Stuart Blackton, diberitakan telah membuat membuat film animasi pendek tahun 1906 dengan judul “Humourous Phases of Funny Faces, dimana prosesnya dilakukan dengan cara menggambar kartun diatas papan tulis, lalu difoto, dihapus untuk diganti modus geraknya dan di foto lagi secara berulang-ulang. Inilah film animasi pertama yang menggunakan “stop-motion” yang dihadirkan di dunia.

Sulitnya membuat produksi animasi serta tidak dapat menjelaskan gambar secara riil membuat animasi ditinggalkan pada sekitar tahun 1900-an. Perkembangan gambar gerak kemudian beralih ke penggunaan serangkaian foto yang digerakkan dengan alat. film (gambar bergerak) dibuat dengan meletakkan serangkaian foto pada suatu alat dan kemudian alat tersebut diputar agar rangkaian foto tersebut terlihat bergerak.

Pendekatan film yang paling sesuai dengan film yang kita kenal saat ini dimulai dari sebuah pertanyaan sederhana “apakah kaki seekor kuda pernah terangkat semua ke udara saat sedang berlari?”. Untuk menjawab pertanyaan tersebut Leland stanford mensponsori Eadweard muybridge untuk membuat observasi pada seekor kuda bernama “Sallie gardner” dengan menggunakan serangkaian kamera stereoskopik yang disusun di jalur pacu kuda. Observasi ini mengawali serangkaian pembuatan gambar bergerak (motion picture) dan mulai digunakan film jenis celluloid dalam pembuatan gambar bergerak dan terus berevolusi menuju film (cinema) yang kita kenal saat ini walaupun film tersebut masih bisu (hanya gambar).[8]

Wikipedia menjelaskan bahwa dalam era film bisu, menyatukan gambar dengan suara secara sinkron merupakan hal tidak mungkin bagi penemu dan produsen, karena tidak ada metode praktis yang dirancang hingga tahun 1923. Jadi, untuk tiga puluh tahun pertama sejarah mereka, film itu diam, walaupun terkadang didampingi dengan musisi hidup (live music), serta penambahan efek suara dan bahkan komentar yang diucapkan oleh pemain sandiwara atau operator proyektor.

Lagu ilustrasi (Illustrated songs) adalah sebuah pengecualian, tren ini dimulai pada 1894 di rumah vaudeville dan bertahan hingga akhir akhir 1930-an dalam film bioskop. Hal ini merupakan pelopor kepada video musik, rekaman live atau rekaman suara dipasangkan dengan hand-colored glass slides projected through stereopticons dan perangkat sejenis. Dengan cara ini, narasi lagu diilustrasikan melalui serangkaian slide yang berubah bersamaan dengan perubahan narasi. Tujuan utama dari lagu ilustrasi adalah untuk mendorong penjualan lembaran musik, dan mereka sangat sukses dengan penjualan mencapai ke dalam jutaan copi untuk satu lagu. Kemudian, dengan lahirnya film, lagu ilustrasi digunakan sebagai materi pengisi film sebelum dan selama film berlangsung.[9]

D.       Media Gerak Visual dalam Pembelajaran

Gambar gerak (GG) sebagai media yang dimuati pesan pembelajaran dapat dianggap sebagai media yang strategis digunakan, mengingat media ini sangat praktis, dapat menimbulkan keingintahuan seseorang, mudah dioperasikan dimana-mana dengan bantuan listrik.

Pijakan teori penggunaan gambar gerak bertolak dari teori pengalaman Edgar Dale, dalam buku Arsyad dikatakan bahwa menurut Dale pengetahuan seseorang dimulai dari pengalaman langsung (kongkrit), kenyataan yang ada di lingkungan kehidupan seseorang, kemudian mulai meniru sampai pada lambang verbal abstrak. Semakin keatas kerucut pengalaman itu semakin abstrak materinya dan semakin diperlukan media penyampaian berupa gambar gerak.[10]

 

E.       Komunikasi Audio Visual

Apa sih, komunikasi audiovisual itu?? Komunikasi audio visual adalah proses penyampaian pesan atau informasi dari sumber kapada satu penerima atau lebih dengan cara memvisualisasikan sekaligus memperdengarkan isi pesan atau informasi kepada penerima dengan melalui media yang menunjangnya. Media yang menunjangnya itu adalah media elektronik.

Media berarti wadah atau sarana. Dalam bidang komunikasi, istilah media yang sering kita sebut sebenarnya adalah penyebutan singkat dari media komunikasi. Media komunikasi sangat berperan dalam mempengaruhi perubahan masyarakat. Contohnya seperti televisi, VCD player, DVD player, computer dan lain-lain yang bisa digunakan untuk memvisualisasikan sekaligus memperdengarkan isi pesan dan informasi tersebut. Bentuk aplikasinya dari komunikasi audio visual itu bisa berbentuk film yang bersifat entertain maupun informatif dan iklan seperti yang kita sering lihat di televisi.

Karakteristik media ini adalah memiliki unsur suara dan unsur gambar. Jenis mediaini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua yaitu media audio dan visual.

Penyebutan audio-visual sebenarnya mengacu pada indra yang menjadi sasaran dari media tersebut. Media audio-visual mengandalkan pendengaran dan penglihatan dari khalayak sasaran (penonton). Produk audio-visual dapat menjadi media dokumentasi dan dapat juga menjadi media komunikasi. Sebagai media dokumentasi tujuan yang lebih utama adalah mendapatkan fakta dari suatu peristiwa. Sedangkan sebagai media komunikasi, sebuah produk audio-visual melibatkan lebih banyak elemen media dan lebih membutuhkan perencanaan agar dapat mengkomunikasikan sesuatu. Film cerita, iklan, media pembelajaran adalah contoh media audio-visual yang lebih menonjolkan fungsi komunikasi. Karena melibatkan banyak elemen media, maka produk audio-visual yang diperuntukkan sebagai media komunikasi kini sering disebut sebagai multimedia.

1.        Audio

Media Audio berkaitan dengan indra pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan ke dalam lambang-lambang auditif baik verbal maupun non verbal. Seperti radio. Alat perekam pita maknetik, piringan hitam dan laboratorium bahasa.

Materi audio terdiri dari narasi, illustrasi musik, dan sound effect[11].

Narasi

Narasi adalah naskah yang tersusun sesuai aturan baku yang dbacakan oleh narator. Narasi yang baik memiliki kesamaan dengan sebuah pidato, runut dan teratur penyampaiannya, naun bedannya narasi sudah direkam terlebh dahulu. Dalam penyampaian narasi, perhatikan nada dan tekanan suara, penggunaan nada dan tekanan harus pas, bila tidak akan terdengar aneh, bahkan lucu.

Sound Effect

Efek suara digunakan untuk mengatur elemen audio untuk menciptakan sebuah suasana tertentu. Dengan efek suara yang tepat sebuah presentasi menjadi efektif karena para audiencenya dapat merasakan suasana yang menjadi satu dengan visual yang ditampilkan, ini akan menimbulkan efek experience yang mendekati kenyataan sehingga informasi menjadi lebih mudah ditangkap.

 Musik

Musik merupakan kumpulan nada yang dibunyikan secara berirama, untuk mengatur mood atau suasana secara umum. Penggunaan musik harus sesuai dengan visual yang ditampilkan, agar makna dari visual tidak rancu.

2.        Visual

Materi visual dibagai atas visual statis, visual gerak, materi grafis dan animasi.

Visual statis

Visual statis ialah materi visual yang statis atau tidak bergerak, diantaranya adalah foto, still frame dari film, slide, illustrasi, lukisan, dan sebagainya

Visual gerak

Adapun visual gerak adalah visual yang mempunyai sekuens dengan rangkaian yang memperlihatkan kejadian atau keadaan, yang mana rangkaian ini memiliki kesan gerak. Visual gerak dapat berupa film, video. Selain itu visual gerak juga dapat mencakup efek transisi dari sebuah program audio visual, misal fade in, fade out, panning, dan sebagainya.

Materi grafis

Materi grafis disini berupa illustrasi, grafik, title, sub title dan sebagainya. Materi grafis ini digabungkan dengan unsur grafis lainnya seperti animasi agar menarik kesan audience.[12]

Animasi.

Animasi sebenarnya adalah visual statis yang digambar secara frame by frame untuk menimbulkan kesan gerak.

Media audiovisual diam adalah media yang penyampaian pesannya dapat diterima oleh indera pendengaran dan indera pengelihatan, akan tetapi gambar yang dihasilkannya adalah gambar diam atau sedikit memiliki unsur gerak.

Jenis media ini antara lain media sound slide (slide suara), film strip bersuara, dan halaman bersuara. Kelebihan dan kelemahan media ini tidak jauh berbeda dengan media proyeksi diam. Perbedaannya adalah adanya aspek suara pada media audiovisual diam.

Film disebut juga gambar hidup (motion pictures), yaitu serangkaian gambar diam (still pictures) yang meluncur secara cepat dan diproyeksikan sehingga menimbulkan kesan hidup dan bergerak. Film merupakan media yang menyajikan pesan audiovisual dan gerak. Gambar yang diproyeksikan ke layar sebetulnya tidak bergerak, yang terlihat adalah gerakan semu, terjadi pada indra kita akibat perubahan kecil dari satu gambar ke gambar yang lain, adanaya suatu fenomena yang terjadi pada waktu kita melihat, disebut Persistence of Vision, sehingga menghasilkan suatu ilusi gerak dari pandangan kita.

Ada beberapa jenis film, diantaranya film bisu, film bersuara, dan film gelang yang ujungnya saling bersambungan dan proyeksinya tak memerlukan penggelapan ruangan.

F.       Peran Komunikasi Gerak Visual dan  Audio Visual dalam Pembelajaran

Apa saja peranan komunikasi audiovisual bagi kehidupan sehari – hari kita? Sangat banyak sekali peranannya. Diantaranya sebagai berikut:

1)      Dalam dunia perfilman, komunikasi audio visual akan selalu terus melekat menjadi satu kesatuan walaupun dilihat dari sejarah penemuan film itu sendiri, film pertama kali diputar tanpa suara. Film pertama dengan hadirnya suara berhasil ditemukan dan diputar melalui film The Jazz Singer pada tahun 1928 di Amerika oleh perusahaan film Warner Brother yang bekerja sama dengan American telephone and telegraph . Film dengan kemampuan daya visualnya yang didukung audio yang khas, sangat efektif sebagai media hiburan dan juga sebagai media pendidikan dan penyuluhan.

2)      Dalam Bidang entertain atau hiburan seperti pada program televisi yang berupa sinetron, reality show, kuis serta film dan lain – lainnya adalah bentuk dari komunikasi audio visual. Memang sepertinya pada setiap saat kita menonton acara televisi tersebut tidak merasa melakukan komunikasi. Tetapi sebenarnya di balik semua itu terkandung suatu pesan atau informasi yang secara tidak sadar kita tangkap. Seperti contoh, kita melihat acara Wisata kulinernya pak Bondan di Transtv. Kita tidak berkomunikasi dengan beliau, tetapi dengan mendengarkan penjelasan dari beliau melalui televisi tentang suatu makanan atau masakan, kita menjadi mengerti terhadap makanan atau masakan itu.

3)      Dalam bidang penyuluhan dan Informasi, komunikasi audio visual sangat berperan penting dalam komunikasi media massa. Hal ini dibuktikan peranan dari televisi sebagai sarana mengkomunikasikan pesan dan informasi dalam media massa. Pesan dan informasi yang disiarkan melalui televisi ditujukan kepada khalayak banyak yang tersebar di berbagai tempat.

4)      Komunikasi audio visual juga dapat membantu masyarakat yang terbelakang. Yang dimaksud masyarakat yang terbelakang disini adalah masyarakat yang tidak mengenal baca tulis. Masyarakat seperti ini hanya dapat mengenal gambar dan suara. Oleh karena itu, untuk membantu masyarakat seperti ini agar dapat memahami pesan dan informasi yang akan disampaikan kepadanya, diperlukan komunikasi audio visual yang menggambarkan dan memperdengarkan isi pesan dan informasi tersebut.

5)      Dalam dunia advertising peranan komunikasi audio visual juga menjadi hal yang sangat penting. Advertising dengan menggunakan komunikasi audio visual terbukti mampu menarik perhatian khalayak lebih banyak dari pada advertising dengan menggunakan komunikasi visual atau audio saja. Hal ini disebabkan karena rata – rata masyarakat lebih suka menonton televisi dari pada membaca koran atau majalah ataupun mendengarkan radio. Tidak hanya itu, iklan dengan komunikasi audio visual yang tentunya mendramatisir isi pesan iklan tersebut lebih “dapat” dan lebih diingat oleh khalayak. Dengan begitu, iklan tersebut lebih menarik untuk diperhatikan dan kadang pula menimbulkan ketertarikan untuk mengkonsumsi produk yang ditawarkan oleh iklan tersebut. Selain itu banyangan produk yang diiklankan tersebut mudah diingat sekaligus melekat di benak khalayak.

6)      Dalam dunia pendidikan.

Menurut- David Hyerle, Visual Tools for Constructing Knowledge; “Penggunaan alat visual menimbulkan pergeseran dalam dinamika ruang kelas dari pembelajaran pasif kepembelajaran aktif dan interaktif yang dapat dilihat”. Jadi, dapat dikatakan bahwa pembelajaran yang baik adalah pembelajaran dengan menggunakan alat visual sehingga diharapkan akan diperoleh perubahan perilaku dalam pemahaman terhadap apa yang dia pelajari selama ini.

Kualitas proses belajar – mengajar yang hanya dengan cara memperdengarkan ceramah dari guru saja, jauh berbeda dari proses belajar-mengajar dengan memperdengarkan serta memperlihatkan obyek study yang dipelajarinya tersebut. Menurut Francis M. Dwyer dalam bukunya “ Strategies for Improving Visual Learning “, bahwa manusia belajar melalui:

a)    1.1% melalui panca indra ( taste )

b)   2.1,5% melalui sentuhan ( touch )

c)    3.3,5% melalui penciuman ( smell )

d)   4.11% melalui pendengaran ( hearing )

e)   5.83% melalui penglihatan

Diambil dari data-data tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa proses belajar-mengajar dengan bantuan audiovisual jauh lebih efektif dibandingkan dengan proses belajar-mengajar yang hanya melalui ceramah biasa. Hal ini dilihat dari penjumlahan antara “melalui pendengaran” dan “ melalui penglihatan”. Yaitu 11% + 83% = 94%. [13]

Dalam bidang pembelajaran kebanyakan praktisi setuju akan penggunaan teknologi audiovisual konstruktif dalam hasil pendidikan dari pertimbangan simpatik dari karakteristik peserta didik dan isi materi. Teknologi audiovisual juga bisa digunakan sebagai salah satu strategi penyampaian pembelajaran dengan menggunakan media visual dan audiovisual misalnya penyampaian pembelajaran melalui gambar diam (GD) dan gambar gerak (GG).

Sebuah studi yang dilakukan oleh 3M Corporation dan University of Minnesota didapatkan bahwa sebuah presentasi yang dilakukan dengan menggunakan visual dari film 35mm, transparansi film dan grafis berwarna, ternyata lebih efektif 43% digunakan pada audience dibanding dengan yang tidak. Kajian tersebut menghasilkan sebuah kesimpulan yang mana penggunaan visual menjadikan suatu presentasi menjadi lebih mudah diingat, peningkatan ingatan audience terhadap bahan naik hingga 10,01%, persepsi audience terhadap bahan naik menjadi 11%, pemahaman 8,5%, perhatian 7,5% dan kesepahaman menjadi 5,5%.[14]

Pada penelitian yang lebih lanjut dilakukan oleh Management Information Systems Departement pada University of Arizona. Penelitian ini membahas perbedaan dari penggunaan visual statis dengan statis dengan hubungannya kepada peningkatan persepesi. Hasilnya, persepsi naik menjadi 16% bila digunakan animasi dan transisi pada presentasi, bila menggunakan visual statis, hasilnya hanya meningkat sebanyak 6%.[15]

Secara umum materi audiovisual adalah yang paling berhasil bila:

1)      Pelajar merasakan nilai yang sedang ditambah dengan penggunaan bahan.

2)      Material yang terintegrasi dengan baik dengan pengajaran sekitar.

3)      Perawatan diambil dalam produksi material.

4)      Untuk mempertimbangkan kecepatan pembelajaran siswa.[16]

 

G.     Penutup

Dalam teori psikologi komunikasi penyampaian pembelajaran merupakan salah satu penyampaian informasi untuk mempengaruhi perilaku manusia. Agar penyampaian pembelajaran terarah dan mampu mengubah perilaku yang belajar serta memperbaiki cara-cara belajar siswa, maka diperlukan penyampaian pembelajaran yang efektif. Ciri penyampaian pembelajaran yang efektif diwarnai oleh guru jelas memaparkan ide-idenya, pesan yang disampaikan tidak menimbulkan makna yang ambivalen, menggunakan media atau saluran yang baik serta siswa atau penerima pesan dapat mengikuti dengan baik.

Dalam penyampaian pembelajaran menggunakan media perlu memperhatikan komponen-komponen komunikasi. ini berarti proses penyampaian pembelajaran bisa berhasil dengan efektif apabila komunikasinya berjalan secara komunikatif. Untuk dapat melihat bagaimana komunikasi dalam penyampaian pembelajaran terjadi secara komunikatif, kita dapat melihat dari paradigma Harold lasswell yang menegaskan bahwa komunikasi meliputi lima unsur yakni: (1) komunikator, (2) pesan, (3), media, (4) komunikan, dan (5) efek.

 Keberhasilan penggunaan visualisasi atau komunikasi berbasis visual ditentukan oleh kualitas dan efektivitas bahan-bahan visual, hal ini hanya dapat dicapai dengan mengatur dan mengoperasikan gagasan-gagasan yang timbul, merencanakan dengan seksama dan menggunakan teknik-teknik dasar visualisasi objek, konsep, informasi atau situasi.

Setiap pesan ataupun informasi yang divisualisasikan memiliki kekuatan yang lebih besar untuk menginformasikan, mendidik atau membujuk komunikan. Pesan visual yang dikirim oleh kamunikator kepada komunikan kadang-kadang mengalami penafsiran berbeda terhadap pesan yang disampaikan. Perbedaan penafsiran ini bisa kita sebut sebagai persepsi visual di mana persepsi visual ini tidaklah buruk dalam pembelajaran.

Gerak visual dan audio visual terus berkembang dan menjadi pilihan dalam proses komunikasi. Perkembangan tersebut seiring dengan semakin pesat dan semakin canggihnya teknologi komunikasi.

H.     Daftar Pustaka

Buku:

Arsyad, Azhar, Media pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004).

 Effendi, Onong Uchjana, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1997

 Kuswara, Tisna, Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta )2002

 Miarso, Yusufhadi, Teknologi Komunikasi Pendidikan “Seri Pustaka Teknologi Pendidikan No.1”. (Jakarta: Pustekkom Dikbud dan Rajawali, 1986).

 Plomp, Tjeerd and Donald P.Ely, Internasional Encyclopedia Educational Technology: second edition. (U.K: Pergamon, 1996).

 Prawiradilaga, Dewi Salma,  Mozaik Teknologi Pendidikan. (Jakarta: Kencana bekerja sama dengan UNJ, 2004).

 Purwanto dkk, Komunikasi Bisnis, (Jakarta, Erlangga: 1996).

 Rakhmat, Jajaludin, Psikologi Komunikasi. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001).

 Smaldino, Sharon E, Instructional Technology and Media for Learning. (New Jersey Columbus, Ohio: Pearson Merrill Prentice Hall, 2007).

 Suprapto, Tommy,  Pengantar teori komunikasi. (Yogyakarta: penerbit presindo, 2006).

 Internet:

Dfian (2009). Sejarah animasi. http://dfian.com/sejarah-animasi-kartun/.

Suyadi (2008). Sejarah animasi: sebelum disney, http://agesvisual.wordpress.com/2008/01/06/sejarah-animasi-sebelum-disney/.

Wikipedia.com

nikiblogku.blogspot.com/…/pengertian-komunikasi-audio-visual-dan.html,

 


[1] seperti dikutip Onong Uchjana Effendi, Ilmu Komunikasi Teori Dan Praktek, (Bandung : Remaja Rosda Karya, 1997), hlm. 5

[2] Ibid

[3] Ibid. hlm 11

[4] Purwanto dkk, Komunikasi Bisnis, (Jakarta, Erlangga: 1996). hlm. 1 

[5] Jajaludin Rakhmat, Psikologi Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hlm. 2-3

[6] Tommy suprapto, Pengantar teori komunikasi, (Yogyakarta: penerbit presindo, 2006), hlm.113.

[7] Dfian (2009), Sejarah animasi, http://dfian.com/sejarah-animasi-kartun/.

[9] Wikipedia.com

[10] Azhar Arsyad,. Media pembelajaran (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2004 hlm. 48

[11] Lindstrom, seperti dikutip oleh Tisna Kuswara di Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta )2002, hlm.  216 

[12] Tisna Kuswara ,Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta ) 2002, hlm.  11 

[13] nikiblogku.blogspot.com/…/pengertian-komunikasi-audio-visual-dan.html

[14] Lindstrom, seperti dikutip oleh Tisna Kuswara di Multimedia (Unv.Tarumanagara, Jakarta )2002, hlm. 6 

[15] Ibid., hlm.7 

[16]Tjeerd Plomp and Donald P.Ely,  Internasional Encyclopedia Educational Technology: second edition, (U.K: Pergamon, 1996),hlm. 213

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s