Bhineka Tunggal Ika

  • Berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 17 Agustus 1945 bukanlah suatu “bangunan bangsa baru “ yang terpisah dari sejarah. Jauh sebelumnya, sejak kehadiran Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit, kemudian diteruskan kerajaan-kerajaan Islam sekitar abad ke- 13- 16 M .
  • Lahirnya Pancasila sebagai dasar Negara, sebagaimana diakui oleh Soekarno, merupakan kristalisasi nilai-nilai yang digali dari pemahaman sejarah. Demikian pula semboyan yang dicengkram oleh lambang Negara Burung Garuda, ”Bhineka Tunggal Ika “
  • Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika secara lughawi berasal dari bahasa Sansekerta. Pancasila berarti lima prinsip (dasar); Bhineka Tunggal Ika berarti berbeda-beda, tetapi tetap satu.
  • Moto bangsa Indonesia yang berasal dari kitab sutasomanya Mpu Tantular adalah suatu karya besar bangsa Indonesia yang sangat fundamentalis bagi kehidupan berbangsa.
  • Penggunaan kedua istilah ini bukanlah ciptaan Soekarno dan Purbacaraka. Jauh sebelumnya, dalam sebuah naskah kuno yang dijadikan sebagai motto bangsa Indonesia adalah bait-bait/sloka naskah kuno yang terdapat dalam naskah Jawa kuno.
  • Naskah yang berisikan pengetahuan-pengetahuan tentang ajaran moral dan etika sosial masyarakat menggunakan bahasa Jawa kuno/Kawi beraksara Jawa Bali ditulis tangan di atas daun lontar.
  • Kumpulan tulisan tangan di atas daun lontar di Bali dikenal dengan kitab Cakepan Lontar (Lontarak di Sulawesi Selatan). Naskah Kuno/Cakepan lontar diberi judul Sutasoma (lebih dikenal dengan Kakawin Sutasoma) oleh pengarangnya seorang pujangga besar Mpu Tantular pada abad ke-IX. Naskah cakepan lontar (Kakawin Sutasoma) dikarang berdasarkan kreativitas pengarangnya dengan maksud dan tujuan-tujuan luhur dan mulia dalam rangka mencari solusi mengatasi krisis yang terjadi pada abad itu.
  • Dibacakannya Kitab Sutasoma, karena terjadi konflik antara agama besar saat itu Hindu dan Budha yang masing-masing menginginkan ajaran agamanya di jadikan sebagai dasar hukum untuk mengatur kehidupan Nusantara.
  • Pesan moral ini terus dikumandangkan dan di dakwahkan yang tidak lain adalah untuk menjaga kerukunan dan keharmonisan sebuah bangsa dengan cara dibaca sebagai ritual kemasyarakatan yang berbentuk bacaan-bacaan, puji-pujian yang dilakukan di iven-iven ritual kemasyarakatan.
  • Pembancaan naskah Cakepan Lontar Kakawin Sutasoma dibaca dalam bentuk ritme-ritme spiritual (sampai saat ini dilakukan oleh masyarakat Bali).  Hal ini terus berlangsung diperkenalkan dan disosialisasikan oleh dua orang dalam abad yang berbeda yaitu abad ke IX tahun 878 M oleh pengarangnya sendiri Mpu Tantular, sedangkan pada abad ke XV tahun 1475 dalam bentuk yang sama dikumandangkan dan disosialisasikan oleh Sri Markandeya seorang Bhagawanta (Rohaniawan) terakhir dari kerajaan Majapahit.
  • Menginjak abad XIII situasi politik mengalami perubahan di Nusantara, puncaknya pada abad XV karena ada kelompok yang menghendaki Ajaran agama dijadikan sebagai dasar hukum di Nusantara, maka bait-bait Sutasoma pun di kumandangkan lagi secara terus menerus oleh penguasa yang sudah menganut (agama Islam  BRE WIRABHUMI ) dan Bhineka Tunggal Ika ditetapkan sebagai BHISAMA( Fatwa ) dan diyakini oleh masyarakat sebagai hal yang mengandung nilai KUTUKAN.
  • Sementara pada abad XVII masuk kolonial belanda dengan menggunakan sistem Devide at Impera maka Bhineka tunggal Ika pun redup dan dilupakan. Dan Bhineka Tunggal Ika di kumandangkan lagi pada abad XX pada 28 Oktober 1928 ( Sumpah Pemuda ).
  • Di antara bait-bait/Sloka Bhineka Tunggal Ika sebagai berikut:

          (Bacaan dalam aksara Latin)

  • “Rwaneka dhatu winuwus wara buddha wicwa, Bhineki rakwa, ringapan kene parwa nesen, mangkang jinatwa kalawan ciwa tatwa tunggal, bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.”

Artinya: ”antara ajaran agama budha dan hindu berbeda itu konon, namun kapan Tuhan dapat dibagi-bagi demikianlah kebesaran Tuhan adalah Satu, berbeda sebutan tetapi tunggal itu, tidak ada Tuhan yang dua.”

  • ”Bwat bajrayana Pancasila ya gegen den teki haywa lupa, Mwang tekang Dasasila dharma kineyep sang srawaka pet hayu.

Selain menggelar brajayana/ spritual, Pancasila agar dipergunakan sebagai pegangan untuk kehidupan semua manusia, Jangan lupa itu,Sampai dengan ajaran Dasasila patut dihayati oleh para agamawan yang ingin mencapai kerukunan.

  • Dengan mengumandangkan Kakawin Sutasoma/bait/Sloka Bhineka Tunggal Ika dalam bentuk ritme spiritual keseluruh Nusantara, penganut agama Hindu dan Budha menyadari sepenuhnya bahwa hukum agama tidak dapat dijadikan sebagai dasar hukum untuk mengatur kehidupan sosial Nusantara.
  • Hukum agama harus ditempatkan lebih tinggi dari dasar hukum Nusantara karena persoalan agama merupakan persoalan individu-individu manusia dengan Tuhan, hukum-hukum yang diberlakukan untuk mengatur kehidupan sosial Nusantara harus dicarikan dasar hukum  yang dapat mengakomodir kepentingan seluruh umat beragama.
  • Hasilnya sangat positif pada abad itu, dibuktikan dengan terwujudnya kedamaian dan kerukunan. Masyarakatnya hidup rukun berdampingan bersatu dan merasakan kehidupan dalam satu keluarga besar Nusantara.[1]
  • Meski berasal dari bahasa Sansekerta, yang dikatakan identik dengan ajaran Hindu/Buddha, sebetulnya semboyan Bhineka Tunggal Ika sangat relevan pula dengan ajaran-ajaran agama besar sesudahnya. Dalam agama Islam misalnya, secara tegas Allah berfirman:
  • Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujurat [49]: 13)

  • Dilihat dari firman diatas, bahwa orang-orang yang paling mulia adalah diantara kamu disisi Allah adalah orang yang paling bertakwa, yang esensinya adalah berlaku bagi semua agama di dunia, terutama agama monoteis ( Yahudi, Kristen, dan Islam ), Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha yang mengakui adanya Zat yang menciptakan dunia seisinya.
  • Lebih jauh bahwa Alquran pun dalam meng guidance hambanya agar hidup rukun satu sama lain betapapun berbeda suku, ras, dan agama dan bahasa tercermin dalam firman Nya:

Sesungguhya orang-orang Mukmin, orang-orang yahudi, Shabiin (penyembah berhala) dan orang-orang Nasrani, siapa saja (di antara mereka) yang benar-benar beriman kepada Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. ( QS. Al-Ma’idah [5]: 69).

  • Ayat dimaksud mengilustrasikan betapa erat dan kukuhnya bangunan kerukunan dan kerjasama antara umat beriman itu. Penyebutan umat beriman adalah menunjukan komunitas lintas agama yang berbeda-beda.
  • Untuk memudahkan dan menggamblangkan kita dalam memahami dan menjaga uchwah dalam kebhinekaan perlu saya sampaikan sejarah terbentuknya Negara Madinah yang syarat dengan Bhineka tunggal ika.
  • Hijaz dimana tempat Muhammad SAW diutus adalah bagian jazirah Arab yang merupakan daerah tandus yang membentang diantara daratan tinggi  Najd dan daerah pantai Tihamah. Hijaz memiliki tiga kota utama, yaitu Mekkah, Yastrib ( sekarang bernama Madinah ) dan Ta’if. Penduduknya terdiri dari bangsa Arab dan Yahudi. Bangsa Arab mendiami kota Mekkah, Yastrib, dan Ta’if, dan bangsa Yahudi hanya menempati Yastrib dan sekitarnya. Bangsa Arab dan Yahudi pada dasarnya merupakan satu ras yang berasal dari ras Semit yang keduanya dari satu leluhur yakni Nabi Ibrahim yang diturunkan melalui kedua putranya Isma’il dan Ishaq. Yang kemudian Ismail menurunkan bangsa Arab, dan Ishaq menurunkan bangsa Yahudi.
  • Selama berabad-abad sebelum Islam, wilayah Hijaz tidak pernah mempunyai kesatuan politik dibawah satu bendera Pemerintahan. Orang Arab, baik di Mekah maupun di Yastrib tidak mengenal system politik yang dapat menyatukan mereka, sehingga konflik antar suku-suku tidak dapat dihindari. Konflik antar suku terjadi karena struktur masyarakatnya berdasarkan organisasi Klen yang anggotanya seluruh anggota keluarga didalam suku tersebut diikat dengan pertalian darah. Pertalian darah ini menimbulkan rasa solideritas yang kuat diantara anggota suku yang melahirkan sikap loyalitas penuh terhadap kesatuan suku.
  • Pada tahun 622 Nabi Muhammad SAW hijrah dari Mekah ke kota Yastrib yang kemudian dari awal hijrah ini tahun baru Islam dimulai. Kota Yastrib kemudian diganti menjadi Madinah Al-Munawaroh ( kota yang bercahaya ) inilah babak baru Negara yang dibangun oleh Rosululloh yang mempunyai harapan sesuai namanya yang berasal dari kata dasar Maddana ( Mim, Dal, Nun ) yang artinya Menjadikan kota dan memperadabkan masyaraknya, yang mengandung harapan bahwa masyarakatnya adalah masyarakat yang berperadaban ( Madaniyah /Madany/civil Society ) dan Mutamaddin yang berpendidikan, berakhlaq, beradab, taat hukum dan berkemakmuran.
  • Segmentasi warga madinah adalah sangat bhineka yang mempunyai banyak perbedaan seperti Agama nya terdiri dari Islam, Nashrany, Yahudi, Musyrikin, dan penyembah berhala ( Majusi ), dan penduduk aslinya adalah suku ‘Auz dan Khazraj suku yang sangat berpengaruh dan besar, adapun suku suku yahudi terdiri dari banyak bani ( keturunan ) yaitu Bani Qainuqa ( sekutu Khazraj ), Bani Nadhir dan Bani Quraidzah keduanya sekutu  kabilah Auzs, Bani Ikrimah, Bani Mahmar, Bani Za’ura, Bani al-Syaziyah, Bani Jusam, Bani Auf, Bani BAhdal dan Bani al-qisash. Sedangkan pekerjaannya adalah sebagai Petani, Pedagang, Peternakan, buruh dan Jasa.
  • Dari latar belakang yang sangat beraneka ragam tersebut Rosulullah mendeklarasikan suatu Negara Madinah diikat dengan tali persatuan yang masyhur dengan sebutan “ Al- Shahifa Al-Madinah” ( Konstitusi Madinah / Piagam Madinah ) yang isinya adalah menjadi konstitusi yang harus ditaati oleh segenap penduduk Madinah yang beraneka ragam yang dalam garis besarnya antara lain :
  1. Warga umat ini terdiri dari dari beberapa komunitas kabilah yang saling tolong menolong.
  2. Semua warga sederajat dalam hak dan kewajiban. Hubungan mereka didasarkan pada persamaan dan keadilan.
  3. Untuk kepentingan administratif, umat dibagi menjadi 9 komunitas. 1 Komunitas muhajirin, 8 Komunitas penduduk Madinah Lama. Setiap komunitas memiliki sistem kerja sendiri berdasarkan kebiasaan, keadilan dan persamaan.
  4. Setiap komunitas berkewajiban menegakkan keamanan internal.
  5. Setiap komunitas diikat dalam kesamaan iman. Antara satu komunitas dengan lainnya tidak diperkenankan saling berperang.
  6. Orang Yahudi yang setia terhadap konstitusi harus dilindungi.
  7. Orang yang bersalah harus dihukum, warga lain tidak boleh membelanya.
  8. COMMON ANEMY nya adalah : ”WALAA ‘UDWAANA ILLA ‘ALA ZOOLIMIIN”. ( tidak ada permusuhan kecuali terhadap orang yang dzolim, yang melanggar aturan, korupsi, manipulasi, dan hal-hal yang dilarang oleh konstitusi).
  9. 

  • Adapun kebijakan public  utama Pemerintahan Madinah adalah “Taakhuh” ( Mempersaudarakan anatara satu dengan lainnya ) yang ini semua kemudian menjadi cikal bakal istilah “persaudaraan” (atau ukhuwah dalam bahasa Arab) yang hal ini diilhami oleh eksistensi manusia sebagai makhluk sosial. Ia lahir dari lembaga institusi terkecil dalam komunitas sosial yang dinamakan keluarga.Beberapa keluarga kemudian membentuk RT, RW, desa, Kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, hingga terwujud sebuah bangunan negara.
  • Yang kemudian berkembang  sejumlah istilah tentang rasa persaudaraan ini, seperti ukhuwah islamiyah (persaudaraan umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), dan ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan).

 Dari kebijakan Taakhuh ini menumbuhkan perasaan damai dan kasih sayang antar umat beragama, suku, ras, golongan dan lainnya.

Hasilnya Negara Madinah memang susuai dengan namanya, yang semula masyarakat terpinggirkan setelah Konstitusi Madinah dijalankan masyarakat menjadi pemimpin peradaban, yang sebelumnya kehidupan ekonomi yang sangat tertinggal menjadi ekonomi yang dapat menggerakkan kehidupan lebih maju, yang awalnya masyarakat bercerai berai menjadi masyarakat yang bersatu, yang mulanya masyarakat tertindas menjadi masyarakat yang merdeka, yang semula miskin menjadi berkemakmuran, yang semula tidak memiliki kekuasaan menjadi memiliki sistem politik pemerintahan yang kuat, yang semula bermoral bejad menjadi berakhlaq. Inilah contoh Negara yang kita idam-idamkan bersama di Negara yang tercinta kita Indonesia.

 Itu semua sesungguhnya dapat diupayakan di negri kita dengan cara anatara lain dengan memperkuat pemahaman nilai-nilai universal agama yang mendorong kesatuan dalam kebhinekaan.

Berikut adalah hal-hal yang perlu dilakukan bersama-sama di Negara kita yang sesuai dengan cita-cita bangsa dan tidak bertentangan dengan ajaran agama manapun.

  • Pertama, semangat religiusitas (ruh at-tadayyun). Maksudnya dalam beragama, kita perlu memahami agama secara benar dan komprehensif. Memupuk semangat religiusitas adalah mengembalikan umat manusia kepada substansi agama .
  • Kedua, semangat nasionalitas (ruh al-wathaniyah). Allah menciptakan manusia di muka bumi merupakan wujud kepercayaan Allah atas peran manusia untuk mengelola alam sekitarnya.
  • Ketiga, semangat pluralitas (ruh at-ta’addudiyah). Menerima keragaman harus dilandasi oleh kesadaran manusia akan kebenaran nilai-nilai universal agama.
  • Keempat, semangat humanitas (ruh al-insaniyah). Misi dakwah Rasulullah yang sukses melewati periode Madinah merupakan potret nyata pentingnya nilai humanis.
  • Kelima, Semangat religiusitas, nasionalitas, pluralitas, serta humanitas adalah suatu keniscayaan bagi sebuah komunitas yang memiliki keragaman agama di Indonesia, sebagai upaya kenumbuhkan kerukunan kehidupan antar umat.
  • Akhirnya, sudah merupakan sunnatullah bahwa manusia serta seluruh alam semesta ini ber-Bhineka Tunggal Ika. Mereka tidak hanya satu dalam agama, tetapi juga dalam beragam ras, bahasa, bangsa, tetapi semua satu dalam asal kejadian, yakni dari Tuhan Pencipta Alam Semesta. Inilah esensi agama yang tulus, hakikat kehidupan sejatidan juga makna sebenarnya dari perjalanan kehidupan, yakni bahwa kita semua milik-Nya, terus nantinya bakal kembali kehadirat-Nya.

WALLOHU A’LAM BISHOWAAB.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s